JATIMTIMES - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menekankan bahwa negaranya tidak mungkin diam dalam menghadapi provokasi dan ancaman terhadap status quo dan spiritualitas Masjid Al-Aqsa Yerusalem .
Menurut Direktorat Komunikasi Turki, dalam panggilan telepon Erdogan dan timpalannya dari Israel Isaac Herzog membahas penggerebekan terbaru oleh pasukan keamanan Israel di Masjid Al-Aqsa, serta intervensi keras terhadap orang-orang di tempat suci.
Baca Juga : Serba Serbi Polemik yang Terjadi di KPK Dimulai dari Pencopotan Endar
Ia mengatakan, peristiwa yang terjadi di Al Aqsa beberapa hari yang lalu telah melukai hati nurani tidak hanya umat Islam, tetapi seluruh umat manusia.
Lebih lanjut Erdogan menegaskan bahwa Turki sama sekali tidak dapat tinggal diam dalam menghadapi provokasi dan ancaman terhadap status quo dan spiritualitas Al-Aqsa, yang terletak di Yerusalem Timur yang diduduki.
“Ketegangan yang menyebar ke Jalur Gaza dan Lebanon seharusnya tidak dibiarkan meningkat,” tegas Erdogan.
Ia kemudian menggarisbawahi bahwa seruan kelompok radikal Yahudi untuk menyerang Masjid Al-Aqsa memicu reaksi dan kekhawatiran.
Erdogan juga menyuarakan kesiapan Turki untuk melakukan bagiannya guna mengatasi akar masalah dan mengambil langkah-langkah untuk membangun perdamaian yang adil dan abadi.
Adapun ketegangan yang mulai meningkat ini terjadi usai pasukan Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur dan secara paksa memindahkan jamaah pada hari Selasa dan Rabu.
Baca Juga : Daftar Negara yang Memiliki Jumlah Bahasa Terbanyak, Indonesia Nomor 2
Serangan Israel di masjid memicu tembakan roket dari Jalur Gaza dan Lebanon, dengan Israel membalas dengan serangan udara.
Selanjutnya, orang-orang Palestina menuduh Israel secara sistematis bekerja untuk Yahudisasi Yerusalem Timur, tempat Al-Aqsa berada, dan melenyapkan identitas Arab dan Islamnya.
Sementara bagi umat Islam, Al-Aqsa mewakili situs tersuci ketiga di dunia. Orang Yahudi, pada bagian mereka, menyebut daerah itu Temple Mount, dengan mengatakan bahwa itu adalah situs dua kuil Yahudi kuno.
Israel menduduki Yerusalem Timur selama Perang Arab-Israel 1967. Itu menganeksasi seluruh kota pada tahun 1980, dalam suatu langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.
