Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Bukan di Srilanka, Raja Mataram Amangkurat III Ternyata Habiskan Hidup dan Wafat di Kediri

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

31 - Jan - 2023, 23:56

Placeholder
Astana Makam Amangkurat III di Situs Setono Gedong Kediri. (Foto: Aunur Rofiq/ JATIMTIMES)

JATIMTIMES - Namanya dikenal sebagai tokoh antagonis dalam sejarah Kasultanan Mataram. Dicap kejam, diktator dan kemudian dilengserkan oleh Pangeran Puger yang tak lain pamannya sendiri. Dialah Sri Susuhunan Amangkurat III, raja ke-6 Kasultanan Mataram yang coba dihilangkan dari sejarah.

Meski oleh kalangan kraton dicap sebagai tokoh kontroversial, sosok Sri Susuhunan Amangkurat III begitu dihormati oleh masyarakat Kediri. Di Kediri inilah Amangkurat III menghabiskan sisa hidup setelah turun dari tahta Kasultanan Mataram. 

Baca Juga : Bersinergi dengan PSF, Bupati Kediri Bakal Upgrade SDM Guru

Aktivitasnya di Kediri diisi dengan ibadah, mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyebarkan agama Islam. Selain tetap diakui sebagai raja, di Kediri Amangkurat III juga menjadi seorang wali.

Kisah Amangkurat III di Kediri ini kontradiktif dengan kisah versi keraton dan Belanda. Catatan Keraton Mataram dan Belanda mengisahkan Amangkurat III diasingkan dan meninggal di Srilanka setelah kudeta Puger yang kala itu bekerjasama dengan VOC. Setelah lengser, Amangkurat III meninggalkan Istana Kartasura dan membawa pusaka-pusaka asli Kasultanan Mataram.

“Beliau itu sangat mumpuni di bidang pemerintahan, bukan karena beliau kala itu (menjadi raja) terlalu muda lalu dilengserkan. Hanya karena ada ketidakselarasan dan konflik dalam keraton, lalu tahtanya direbut melalui kudeta dan pemberontakan oleh pamannya Pangeran Puger,” kata Juru Kunci Situs Setono Gedong, M Yusuf Wibisono, Minggu (15/1/2023). 

Keberadaan Amangkurat III menghabiskan sisa hidup di Kediri ini cukup kuat. Bukti-bukti otentik tersebut diantaranya adanya petilasan-petilasan. Makamnya yang berisi jasad pun juga ada di Situs Setono Gedong yang berlokasi di Jalan Doho, Kota Kediri. Di samping makamnya terdapat sebuah kuburan yang berisi pusaka-pusaka asli Kasultanan Mataram yang dulu dibawa lari saat lengser dari tahta.

Di Situs Setono Gedong komplek Astana Amangkurat III, juga terdapat makam putera dan abdi dalemnya yang berasal dari Mataram. Diantaranya Pangeran Teposono (Putera Amangkurat III, ayah dari Raden Mas Garendi/ Sunan Kuning/ Amangkurat V) dan Raden Ajeng Reksoprodjo (abdi yang bertugas membawa dan menjaga pusaka-pusaka Kasultanan Mataram).

Seperti disampaikan di atas, keberadaan Makam Amangkurat III di Kediri ini sejatinya cukup mengejutkan. Cerita sejarah versi keraton dan Belanda menyatakan setelah turun tahta dari Karaton Kasunanan Kartasura (terusan dari Kasultanan Mataram), Belanda menangkap Amangkurat III dan mengasingkannya ke Srilanka hingga meninggal dunia pada tahun 1734.

Jadi kesimpulannya, Makam Amangkurat III di Kediri ini merupakan fakta jika raja tidak meninggal di Srilanka.  Juga cerita sejarah versi keraton dan Belanda itu adalah sebuah pembohongan sejarah untuk menghapus ketokohan Amangkurat III dari sejarah dan peradaban.

“Sebetulnya setelah lengser, beliau tidak sampai dibuang hingga ke Srilanka. Saat perjalanan dalam pelarian, beliau bersama punggawa yang masih setia saat itu dijemput oleh bantuan dari beberapa kasultanan diantaranya dari Banten, Madura dan bahkan ada yang dari Manado. Beliau dijemput dan diantar kembali ke tanah Jawa. Setelah sampai di Jawa beliau tidak ingin kembali ke Solo dan memilih menetap di Kediri,” terang Yusuf.

Ya, meskipun kontroversial, Amangkurat III saat bertahta kala itu dikenal sebagai raja yang anti terhadap Belanda. Keberadaanya di singgasana Istana Mataram dinilai Belanda sebagai sebuah ancaman untuk mengabadikan hegemoni kolonialisme di tanah Jawa. Begitupun dengan Pakubuwono I, keberadaan Amangkurat III harus dihapuskan dari sejarah untuk mengamankan tahta dan menjauhkan kerajaan dari benih-benih pemberontakan akibat dendam masa lalu.

“Beliau kembali ke tanah Jawa, tapi menolak untuk kembali ke Solo. Beliau memilih untuk tinggal dan menetap di Kediri karena Kediri dianggap tempat yang aman, Setono Gedong ini dulu adalah tempat beliau melakukan meditasi. Setelah tiba di Kediri, banyak kalangan pejabat Mataram dan Abdi Dalem setia memilih untuk ikut Raja Amangkurat III di Kediri, di Kediri beliau mendapatkan pelayanan khusus,” terang Yusuf.

Keberadaan Amangkurat III di Kediri berpengaruh besar terhadap peradaban. Dalam perkembangannya banyak keturunan Amangkurat III yang kemudian bermukim di wilayah Kediri, Blitar dan Tulungagung. Salah satu keturunan dari Amangkurat III dari garis Pangeran Teposono adalah Roro Rahayu yang tak lain ibu dari Pahlawan PETA Shodanco Supriyadi.

Berdasarkan catatan silsilah kekeluargaan Sri Susuhunan Amangkurat III, Roro Rahayu menikah dengan Raden Darmadi (Bupati ke-9 Blitar), seorang bangsawan keturunan Kanjeng Jimat Brebek. Dari pernikahan ini lahir anak pertama yakni Raden Supriyadi. Di kemudian hari Raden Supriyadi tampil sebagai Ksatria Nusantara dengan memimpin pemberontakan PETA Blitar yang meletus pada 14 Februari 1945. 

Catatan putro wayah juga menyebutkan ada banyak keturunan Amangkurat III yang menjadi ulama. Seperti Kiai Mahfudz dari Blitar.

Baca Juga : Peringati HPN 2023, Jurnalis Lintas Selatan di Malang Gelar Lomba Mural Aspirasiku

“Di Kediri beliau Amangkurat III menyebarkan syiar Islam. Dan ini kemudian dilanjutkan oleh keturunannya. Banyak keturunannya yang menjadi ulama,” imbuh Yusuf.

Yusuf menambahkan, semasa tinggal di Kediri pada waktu itu Amangkurat III tinggal di daerah Joyonegaran. Namun sayangnya, bangunan rumah tempat Amangkurat III tinggal saat ini sudah dibongkar. Andaikan masih ada, bangunan rumah tersebut dapat memperkuat bukti otentik Amangkurat III tinggal dan menetap di Kediri hingga akhir hayatnya.

“Ada bangunan di Joyonegaran, tapi sayangnya sudah dibongkar. Dulu tinggalnya beliau di situ,” imbuh Yusuf.

Masyarakat percaya kekeramatan Makam Sri Susuhunan Amangkurat III. Cerita turun temurun menyatakan jika makam Raja ke-6 Kasultanan Mataram itu memiliki kekuatan magis yang sangat besar. Bahkan burung yang terbang di atasnya langsung jatuh. Yusuf sendiri mengaku sebagai saksi mata, burung yang jatuh tidak dalam keadaan mati. Setelah hinggap ke tanah, burung itu akan menjadi makanan kucing liar yang ada di sekitar makam. Zaman dulu, makam Amangkurat III di masa Yusuf masih kecil banyak ditumbuhi semak belukar dan alang-alang.

“Sebelum saya dulu juru kunci Setono Gedong adalah abah saya. Cerita keramat itu saya percaya karena saya menyaksikan diri. Saat saya masih kecil, saya menyaksikan, waktu saya masih kecil senang lari-larian di sana mengejar layangan putus. Tiba-tiba ada burung jatuh dan dimakan kucing,” jelas Yusuf.

Dari abahnya, Yusuf juga mendapatkan cerita tentang pesawat terbang yang jatuh saat melintas di atas makam Amangkurat III. Walaupun tidak melihat secara langsung, Yusuf mempercayai cerita yang diungkap leluhurnya itu. Kepercayaan Yusuf dengan keramatnya Makam Amangkurat III semakin kuat dengan banyaknya kejadian mistis yang dia jumpai selama menjadi juru kunci makam. Dia pun menyaksikan sendiri, peziarah yang datang dengan niat tidak baik atau dalam keadaan tidak suci akan mendapatkan ‘hukuman’ saat masuk makam Amangkurat III.

“Pernah ada peziarah yang baru akan masuk, tiba-tiba tubuhnya terpental saat memasuki pintu makam, terpental cukup jauh. Dia seperti menabrak sesuatu. Saat saya tanya, dia mengaku belum mandi junub. Mungkin niatnya pada waktu itu mengingatkan, bukan mencelakai,” lanjut Yusuf.

Makam Amangkurat III menjadi makam yang paling tertutup di Setono Gedong. Makam ini dikelilingi pagar dan dikunci gembok. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Yusuf selaku juru kunci sering mengingatkan peziarah agar menjaga tata krama saat berada di situs Setono Gedong khususnya Makam Amangkurat III. Sebab tidak bisa dipungkiri jika anak-anak jaman sekarang nyaris kehilangan adab, etika dan tata krama.

“Alhamdulillah akhir-akhir ini sudah tidak terjadi lagi kejadian seperti yang dulu-dulu. Namun yang perlu diingat, di manapun tempatnya, apalagi ini adalah makam raja dan wali (Setono Gedong) yang memiliki kearifan dan ilmu tinggi, Amangkurat III raja sekaligus wali, sudah sepantasnya ketika ziarah kita semuanya menjaga etika,” pungkas Yusuf.

Sebagai informasi,  Sri Susuhunan Amangkurat III atau Amangkurat Mas merupakan pemimpin Kasultanan Mataram yang memerintah sejak 1703 hingga 1705. Lahir dengan nama Raden Mas Sutikna, Amangkurat III merupakan putera dari Amangkurat II. Masa pemerintahan Amangkurat III sangat singkat karena saat itu terjadi perselisihan dengan pamannya, yakni Pangeran Puger. Setelah melengserkan Amangkurat III, Puger mengambil alih kekuasaan dan naik tahta dengan gelar Sri Susuhunan Pakubowono I. Konflik dengan Pangeran Puger ini kemudian menimbulkan perang yang dikenal dengan Perang Suksesi Jawa I.


 

 


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni