JATIMTIMES - Acara rutin tahunan yang masih lestari di Tulungagung adalah Megengan menjelang awal Ramadan. Meski dua tahun terakhir Megengan banyak yang dilakukan dengan daring akibat pandemi vovid-19, tahun ini acara tersebut sudah banyak dilakukan dengan normal.
Acara Megengan ini biasanya ada yang berupa kondangan di rumah pemilik hajat atau berjamaah di masjid dan musala yang terdekat. "Sudah Megengan dari rumah, mengundang tetangga seperti dulu," kata Eko (55), warga Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Sabtu (26/3/2022).
Baca Juga : Edarkan Miras di Tulungagung, Pria Asal Kediri Ditangkap Polisi, Puluhan Botol Arak Bali Diamankan
Seperti biasanya, Megengan ini ditandai dengan doa bersama dan memberikan sedekah dengan kue khasnya: apem.
Ritual Megengan dimaknai sebagai nilai kearifan lokal masyarakat Jawa yang menganut Islam. Megengan diambil dari bahasa Jawa megeng yang artinya menahan. "Ini merupakan suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan," ujarnya.
Bulan Ramadan sendiri adalah bulan puasa atau istilah Jawa-nya poso. "Maknanya ngeposne roso yang maksudnya mengistirahatkan perasaan. Entah itu perasaan senang, marah, benci, atau apa pun itu jenis perasaan lain. Jangan sampai ketika menjalani puasa hanya menikmati menahan lapar dan dahaga," ucap salah satu sesepuh, Rajiman.
Secara turun-temurun di Kota Marmer, setidaknya ada dua kegiatan yang biasa dilaksanakan pada tradisi Megengan setiap tahun.
Tradisi berziarah ke makam leluhur disebut geren yang dikandung maksud untuk mendoakan, memohonkan ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas dosa para leluhur. Kegiatan ini umumnya mulai dilakukan diatas tanggal tengahan (tanggal 15 Sya'ban-jelang Ramadan).
Tradisi yang kedua adalah selamatan dengan mengundang tetangga dan bersedekah berkat (makanan khas genduri). "Ubo rampe (syarat) megengan ini sebenarnya dulu cukup banyak dalam berkat genduren, seiring waktu sudah mulai disederhanakan tanpa mengurangi makna," ungkapnya.
Dalam tradisi Megengan ini, dipastikan terdapat kue yang menjadi ciri khas atau simbol dari tradisi turun-temurun, yakni kue apem.
Istilah apem, kata Mbah Radjiman, berasal dari kata afwan (bahasa Arab) yang tediri dari huruf ‘ain, fa, wau. Biasanya kalau berdiri sendiri di depannya ada huruf alif dan lam, yang dibaca al-afwa, yang artinya maaf.
"Apem ini maksudnya sebagai permintaan maaf sebelum memasuki bulan Ramadan," ungkapnya.
Baca Juga : Lomba "Sicita" di Tulungagung: Upaya Tanamkan Nilai Kebangsaan dan Nasionalisme
Tradisi ini merupakan hasil akulturasi budaya lokal dan budaya Islam.
Sebelum kedatangan Islam di Jawa melalui Wali Songo, di zaman pemerintahan Majapahit juga bisa didapati tradisi serupa yang disebut dengan Ruwahan.
Bulan Ruwah adalah bulan Jawa yang bersamaan dengan bulan Sya’ban pada penanggalan Hijriyah. Istilah Ruwah dimaknai sebagai arwah yang berarti roh. Dalam hal ini adalah roh para leluhur dan nenek moyang.
Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, salah satu jalan dakwah yang dipakai adalah pendekatan budaya lokal. Sunan Kalijogo, yang menjadi salah satu dari sembilan wali, adalah yang paling berperan dalam jalan dakwah tersebut. Diyakini pula bahwa beliau yang pertama memperkenalkan tradisi Megengan.
Diceritakan, Sunan Kalijaga berdakwah pada masyarakat Jawa di pedalaman (terutama Jawa Timur dan Jawa tengah bagian selatan) dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Salah satunya adalah mengubah atau memodifikasi tradisi Ruwahan menjadi tradisi Megengan.
Biasanya sesajen dalam Ruwahan biasanya dikhususkan untuk arwah dan tidak boleh dimakan. Pada Megengan, sesajen tersebut diganti dengan sedekah makanan yang dibagikan dan dimakan bersama. "Zaman boleh berganti, tapi budaya usahakan tetap lestari," pungkasnya.
