JATIMTIMES - Mbecek, merupakan tradisi khas daerah di beberapa Kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Salah satunya di Tulungagung. Mbecek sendiri merupakan kegiatan memberikan sejumlah uang atau bahan makanan pokok kepada orang yang sedang punya hajat. Tradisi mbecek dibeberapa daerah memiliki cara penyebutan yang berbeda-beda, yang umum lagi adalah buwuh.
"Tidak semua hajatan itu becekan, tapi biasanya yang menggelar becekan ini acara pernikahan dan sunatan," kata Sunarmi (59) warga Kalidawir yang ditemui sepulang mbecek.
Baca Juga : PKL dan Susbalan Berakhir, Kader Ansor Apresiasi Keberhasilan Banyuwangi dalam Merajut Harmoni
Mbecek juga tidak semaunya, pasalnya menghadiri undangan harus mampu memperlihatkan wibawa diri dan keluarganya.
"Sebaiknya mengenakan baju yang pantas dan mempersiapkan amplop diisi dengan sejumlah uang," ujar Sunarmi yang didampingi suaminya, Ramelan (62).
Jika suami hanya membawa amplop, menurut Sunarmi kebiasaan warga mayoritas di Kabupaten Tulungagung membawa ember atau baskom yang di isi dengan bahan makanan.
"Beras, ditumpangi minyak atau gula," ucapnya.
Agar tidak tertukar, ember atau baskom atau tas harus diberi tulisan nama pemiliknya.
"Karena kalau pulang umumnya di isi berkat seperti ini," ungkapnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, yang harus dilakukan bapak selaku kepala keluarga adalah mengisi amplop dengan sejumlah uang di dalamnya sebagai uang sumbangan. Kemudian ibu bertugas menyiapkan baskom yang sudah diberi nama pemilik dan dusun tempat tinggal sebagai identitas baskom tersebut.
Karena baskom itu nanti akan menjadi wadah sumbangan dalam bentuk barang yang biasanya berisi beras, gula, mie, tempe dll. Setelah baskom terisi barang sumbangan lalu baskom dibungkus menggunakan taplak meja atau kain segi empat agar mudah dibawa. Setelah semua lengkap bapak dan ibu sarimbit (berpasangan) siap berangkat mbecek (nyumbang).
Baca Juga : Ditangkap saat Transaksi di Pinggir Jalan Desa Boyolangu, Polisi Amankan 350 Butir Pil Koplo
Sunarmi mengisahkan, beberapa puluh tahun lalu tradisi mbecek ini identik dengan daun jati untuk membuang nasi.
"Dulu dibungkam daun jati, lauknya srawut kates (pepaya), srondeng dan daging. Sekarang pakai kertas lauknya mie dan sambal goreng," imbuhnya.
Masih menurut Sunarmi, berkat dari hajatan di masa lalu selalu ditawarkan pada orang yang ditemui.
"Sekarang kalau di tawari justru tidak mau dengan alasan di rumah masih banyak makanan. Lain dengan dulu, kita harus bagikan ke orang lain dan selalu diterima karena memang banyak yang kekurangan makanan," terangnya.
Meski sudah berbeda cara, setidaknya mbecek merupakan tradisi yang diakui banyak yang berniat pamrih. "Istilahnya gantian, tapi bukan arisan. Nanti kalau kita ganti punya gawe ya yang kita beceki diundang," pungkasnya.
