Sisso, Cara Orang Tulungagung Mengundang Angin, Pamali Jika Malam Hari | Tulungagung TIMES

Sisso, Cara Orang Tulungagung Mengundang Angin, Pamali Jika Malam Hari

Nov 20, 2021 13:34
Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

JATIMTIMES - Kepercayaan di tengah masyarakat di Tulungagung, salah satunya terkait bersiul atau disebut sisso dipercaya bisa digunakan untuk mengundang angin. Mitos mengenai hal ini sangat akrab dalam kehidupan anak-anak yang hobby bermain layang-layang.

Saat sedang bermain, layangan membutuhkan terpaan angin yang cukup untuk dapat diterbangkan. Maka, sisso merupakan satu kebiasaan yang sering kita lihat sambil menunggu angin datang.

Baca Juga : Banyak Korban, Tim SAR ELPEJE Musnahkan 3 Sarang Tawon Ndas

"Itu sudah diajarkan dari orang tua saya dulu," kata Sunin (25) penghobby layang-layang saat ngobrol, Sabtu (20/11/2021).

Jika penarik layangan sudah di posisinya dan pemegang (ngedul) layangan juga siap, mereka saling bersiul sambil melihat ke langit.

"Yang saya tau, setelah siulan rambut ini terasa seperti di tiup," ujarnya.

Lama kelamaan, tarikan semakin kuat seiring datangnya angin yang semakin terasa. "Diperkirakan cukup angin, siulan berhenti dan tali ditarik agar layangan naik ke udara," tuturnya.

Bagi Sunin, sisso hanya boleh dilakukan pada siang hari baik untuk memanggil angin atau merangsang burung agar berkicau.

"Sejak kecil mbah dan orang tua saya mengajarkan agar sisso tidak dilakukan malam, katanya itu sama dengan mengundang setan," ungkapnya.

Kepercayaan itu ternyata banyak dipercaya hingga saat ini. Sesepuh adat di Tulungagung, Umar (57) mengatakan sisso untuk memanggil angin memang sudah jadi kebiasaan turun temurun.

Menurutnya, dalam lakon pewayangan tentang perjalanan Raden Palasara bersama kedua cantrik (rewang) Semar dan Bagong yang saat bersiul tiba-tiba datang angin.

"Itu juga ada dalam cerita wayang, bagi orang Jawa yang suka menikmati lakon itu pasti paham," ucap Umar.

Resi Palasara yang bersahabat dengan Prabu Gandarwaraja Swala, saat perjalanan bersama anggota Punakawan itu bertemu dengan seorang raja makhluk halus. Makhluk yang dimaksud tak lain adalah Prabu Gandarwaraja Swala.

Baca Juga : Potensi Bencana Tinggi, Bupati Tulungagung Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadan

Ia bercerita tentang putranya yang bernama Gandarwa Supatra yang sangat nakal dan sangat memalukan bagi seorang raja yang terhormat.

"Kenakalannya itu di antaranya suka mengganggu para istri bangsa manusia dan sulit untuk menerima nasehat," jelasnya.

Mendapat curhat itu, Resi Palasara berjanji membantu menyelesaikan permasalahan sang Prabu Gandarwaraja Swala.

"Ketemulah anak nakal ini dengan sang resi, dan yang menakhlukkan cukup Ki Semar sehingga berhenti mengganggu manusia," paparnya.

Atas jasanya ini, Prabu Gandarwaraja Swala girang dan  berjanji akan selalu membantu sahabatnya itu kapanpun dibutuhkan.

"Untuk memanggilnya raja makhluk halus itu berpesan cukup dengan bersiul saja," tambahnya.

Jika siang, angin yang datang namun jika ada larangan sisso pada malam hari, mitos yang dipercaya masyarakat banyak didasarkan pada lakon wayang itu.

Topik
budaya tulungagung mitos bersiul mitos jawa

Berita Lainnya