Viral Video Gus Dur Nyatakan Agama Tidak Sama, Diposting Warganet Tanggapi Pangkostrad | Tulungagung TIMES

Viral Video Gus Dur Nyatakan Agama Tidak Sama, Diposting Warganet Tanggapi Pangkostrad

Sep 17, 2021 13:31

JATIMTIMES -  Pernyataan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Dudung Abdurachman soal agama masih ramai diperbincangkan. Ada yang mendukung, tapi ada pula yang memberikan saran perbaikan.

Sebelumnya Dudung mengatakan semua agama benar di mata Tuhan Yang Maha Esa.  "Bijaklah dalam bermain media sosial sesuai dengan aturan yang berlaku bagi prajurit. Hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama karena semua agama itu benar di mata Tuhan," kata Dudung, dikutip MalangTIMES.com dari keterangan pers Penerangan Kostrad, Jumat (17/9/2021).

Baca Juga : Buru Pelaku Pembuangan Bayi Dam Umbul, Polisi Libatkan Desa Sekitar TKP

Pernyataan Dudung itu lantas menuai pro kontra dari berbagai kalangan. Terlebih beberapa tokoh agama  juga ikut menanggapi pernyataan Dudung tersebut. Tidak terkecuali warganet. 

Bahkan, salah satu warganet sampai mengunggah video lawas  mantan Presiden sekaligus mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menanggapi pernyataan Dudung tersebut. Dalam video yang diunggah oleh akun TikTok @bangegar, Gus Dur menjelaskan bahwa semua agama itu tidak sama. 

Gus Dur

Pasalnya, ajaran masing-masing agama berbeda dan yang sama dilihat dari seluruh agama adalah saling menghormati sesama.  "Iya, kalau sudah kaya itu (semua) agama itu sama. Ya tidak sama kok kalau soal itunya. Sendiri-sendiri," kata Gus Dur. 

"Ajaran (kebaikan) bisa sama. Yang sama apanya? Yaitu dapat menghormati manusia,. Lho begitu," lanjut Gus Dur. 

Lebih lanjut, Gus Dur menegaskan bahwa cara menghormati dan cara keyakinannya berbeda-beda.  "Maka itu dikatakan dalam Alquran: lakum dinukum waliyadin. Artinya bagimu agamamu bagiku agamaku," ungkap Gus Dur. “Lantas kenapa agama itu dibedakan? Karena memang tidak sama,” tandasnya. 

Sederet Tokoh Agama Beri Tanggapan

Terkait pernyataan Dudung, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengatakan bahwa semua itu adalah bentuk dari toleransi. Lewat akun Instagram  @cholilnafis, Cholil memberikan penjelasannya.

Cholil mengatakan bahwa sebenarnya bagi umat Islam, agama yang benar adalah agama Islam. Begitu juga bagi penganut agama lain. Pasti bagi mereka agama merekalah yang paling benar.

Tetapi dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara, semua orang harus memiliki toleransi kepada umat beragama lain. Menurut dia, posisi TNI dan pemerintah mengayomi semua umat beragama.

"Kita wajib meyakininya agar iman menancap di hati. Hanya dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara, kita harus punya bertoleransi kepada umat beragama lain. Posisi TNI dan pemerintah tentu mengayomi semua umat beragama," tulis Cholil. 

"Nah dalam bingkai NKRI, kita tidak boleh menyalahkan agama lain, apalagi menodai. Toleransi itu memaklumi, bukan menyamakan," lanjutnya. 

Berbeda dari Cholil, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI) Anwar Abbas justru menyatakan bahwa merupakan sebuah kesesatan apabila seorang muslim menyatakan semua agama itu benar di mata Tuhan. 

Pria yang akrab disapa Buya Anwar itu melihat maksud Dudung sebenarnya baik, yakni ingin menunjukkan sesama pemeluk agama yang berbeda bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai dalam negara ini. 

Baca Juga : Moeldoko Minta IAIN Kediri Adaptif, Wali Kota: Pendidikan Adalah Investasi yang Terbaik

Namun, lanjut Anwar, untuk mewujudkan cita-cita itu, Letjen Dudung tidak harus menyatakan bahwa semua agama adalah sama di mata Tuhan. "Karena pernyataan jelas  mengundang kontroversi dan pertanyaan yang mendasar. Misalnya Tuhan agama mana yang menganggap semua agama itu sama di mata-Nya? Jadi dalam hal ini, Jenderal Dudung salah dalam membuat kesimpulan karena beliau telah menyimpulkan sesuatu yang memang tidak sama," kata Anwar. 

Tak cuma itu. Anwar juga mengingatkan Dudung bahwa setiap agama memiliki Tuhan, kitab, tempat suci, dan cara-cara ibadah masing-masing. Implementasinya juga berbeda antara satu dengan lainnya.

"Jadi, untuk terciptanya kerukunan hidup yang baik di antara para pengikut agama-agama yang ada, yang harus dilakukan bukanlah menyatakan bahwa semua agama itu adalah sama di mata Tuhan. Tetapi bagaimana kita bisa mendorong dan menganjurkan kepada para pengikut  agama yang berbeda-beda itu untuk bisa hidup rukun, aman, dan damai," jelas Anwar. 

Sementara, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad meminta agar Dudung memperbaiki ucapannya tersebut.  “Pernyataan beliau dalam konteks kebangsaan. Maksudnya baik supaya para prajurit hidup rukun damai dan toleransi,” kata Dadang. 

Menurut Dadang, mungkin semua agama benar menurut kepercayaan masing-masing penganutnya.  “Yang bagus sih (pernyataan) begitu. Kalau Tuhan kan Tuhannya berbeda-beda,” ujarnya.

Dadang juga mengatakan fanatik sebenarnya boleh saja karena memang agama perlu fanatik. Cuma, harus penuh kasih sayang kepada orang lain dan menghormati orang lain. “Kalau beragama harus fanatik, tidak merendahkan, tidak melecehkan, tidak menyebabkan orang terhina, oleh kita ya toleransi," jelas dia.

Tak ketinggalan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga turut menanggapi pernyataan Dudung tersebut. Sekretaris Jendral PBNU Helmy Faishal Zaini menilai pernyataan Letjen Dudung tersebut harus dipahami dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan.

Ia menyatakan konteks kebenaran agama bisa terlihat dalam wujud perbuatan baik dan sinergi untuk membangun bangsa dan negara. "Pernyataan tersebut harus dipahami dalam konteks kebangsaan. Kita harus memahaminya dari sudut pandang kebangsaan dan kenegaraan. Semua agama sama dalam konteks semua agama mengajarkan kebaikan. Spirit ini yang harus kita pahami bersama," kata Helmy dalam keterangan resminya yang dikutip Jumat (17/9/2021).

Di sisi lain, Helmy menyatakan, dalam konteks teologis, kebenaran tiap agama ada di dalam keyakinan masing-masing pemeluknya. "Itu prinsip akidah," ucap Helmy.

Lebih lanjut, ia menilai sikap merasa paling benar dalam beragama harus dihindari dalam konteks kebangsaan. Pasalnya, sikap tersebut akan melahirkan fanatisme yang akan menganggap semua yang ada di luar keyakinan agamanya adalah salah.

Topik
Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman PBNU PP Muhammadiyah MUI

Berita Lainnya