Tergeser Teknologi, Buruh Solet Sawah di Tulungagung Sulit Dicari | Tulungagung TIMES

Tergeser Teknologi, Buruh Solet Sawah di Tulungagung Sulit Dicari

Sep 04, 2021 19:34
Alat pertanian yang dikenal bernama lempak ini di Tulungagung dikenal dengan sebutan Solet (Foto: Istimewa/ TulungagungTIMES)
Alat pertanian yang dikenal bernama lempak ini di Tulungagung dikenal dengan sebutan Solet (Foto: Istimewa/ TulungagungTIMES)

JATIMTIMES - Seiring berkembangnya teknologi, tenaga manusia di bidang pertanian tak lagi banyak dibutuhkan. Jika dahulu di Tulungagung banyak buruh tani menggunakan tenaga untuk menggarap sawah, kini justru didominasi dengan peralatan mesin.

Bahkan, jika butuh jasa garap tanah sawah dengan tenaga banyak petani yang kesulitan mencarinya.

Baca Juga : Tak Fanatik Nomor, Kedua Cawabup Tulungagung Anggap Semua Nomor Nilainya Sama

"Seperti jika menanam tebu, ladon (media yang digarap) yang baik kan harus disolet (lempak)," kata Haryono, petani tebu di Tulungagung, Sabtu (04/09/2021).

Lempak di Tulungagung dikenal dengan nama solet. Adalah alat pertanian untuk menggali lahan basah dengan kebutuhan yang cukup dalam. Biasanya, kedalaman pengolahan dengan solet ini di atas kedalaman tanah yang digali dengan cangkul. Solet sendiri berbentuk seperti mata cangkul dan skop. Untuk menggunakan, setelah ditancapkan ke tanah kemudian diinjak dengan kaki agar mata solet masuk ke dalam dan kemudian tanah disongkel agar naik ke atas. Cara memakai solet bisa dibilang sama persis dengan pemakaian garpu, bedanya hanya pada bentuknya saja. 

"Jika menggunakan bajak dan cangkul, sebenarnya untuk menancapkan benih kurang dalam. Nah, jika disolet selain lebih lurus barisannya juga akar tebu akan kuat dan tidak mudah roboh," ujar Haryono. 

Sejak teknologi semakin pesat di bidang pertanian, buruh nyolet ini semakin sulit dicari. Jika ada, menurutnya harus sabar antre memperoleh giliran. 

"Yang pesan banyak, sementara pekerjaan ini tidak mungkin bisa cepat karena hanya tenaga orang," ungkapnya. 

Baca Juga : Pengundian Nomor Urut Cawabup Tulungagung Pakai Sistem Lempar Koin

Sementara itu, Sukani (57) tukang solet yang dibawa Haryono tampak berbadan kekar meski usianya tidak muda lagi. Ia membenarkan, karena jarangnya tenaga menggarap sawah dengan solet atau lempak maka timnya yang terdiri hanya dua orang menjadi kewalahan melayani pesanan.

"Cari teman sulit, dulu ada 3 tim tapi sekarang tinggal saya sendiri sama menantu," ungkapnya. 

Sukani mengaku, untuk nyolet sistem borongan dia akan mengukur luas sawah. Namun, jika mengambil harin bayaran yang diterimanya 75 ribu sehari dan pemilik lahan menyiapkan sarapan dan makan siang. 

Topik
buruh tani butuh tani tulungagung

Berita Lainnya