Hasil Rekonstruksi, Tewasnya Pendekar Silat di Tulungagung Tak Hanya karena Pukulan dan Tendangan Saja | Tulungagung TIMES

Hasil Rekonstruksi, Tewasnya Pendekar Silat di Tulungagung Tak Hanya karena Pukulan dan Tendangan Saja

Aug 27, 2021 14:11
Rekonstruksi meninggalnya anggota perguruan silat di Tulungagung / Foto : Dokpol / Tulungagung TIMES
Rekonstruksi meninggalnya anggota perguruan silat di Tulungagung / Foto : Dokpol / Tulungagung TIMES

JATIMTIMES - Bukan hanya dipukul dan ditendang namun ternyata juga ditampar, sebelum LF (23) warga Dusun Ngreco, Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung meninggal dunia. Hal ini terungkap saat Satreskrim Polres Tulungagung menggelar rekonstruksi kasus yang dilakukan pada Senin 26 Juli 2021 lalu.

Rekonstruksi yang digelar di Mapolres Tulungagung dipimpin Kanit Pidum Ipda Awalu Burhanudin, pada Jumat (27/8/21) siang ini menghadirkan 4 orang tersangka, sejumlah saksi dan 2 Jaksa dari Kejaksaan Negeri serta pengacara tersangka dan dari Kemensos.

Baca Juga : Perhutani Gandeng Kejaksaan Tuban Terkait Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara

Rekonstruksi akan digunakan untuk kelengkapan berkas penyidikan sebelum diserahkan ke Kejaksaan Negeri Tulungagung guna proses lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Christian Kosasih melalui Kasi Humas Iptu Nenny Sasongko mengatakan, dalam rekonstruksi ini ada 33 adegan yang diperagakan oleh 4 tersangka.

"Rekonstruksi kali ini menghadirkan 4 orang tersangka dan sejumlah saksi serta memperagakan 33 adegan rekonstruksi," kata Nenny Sasongko.

Lanjutnya, pada adegan ke 24 rekonstruksi, korban LF usai menerima tendangan dari tersangka berinisial ES yang merupakan pelatih silat langsung terjatuh.

"Dari hasil rekonstruksi kali ini ditemukan fakta baru yakni adanya tamparan yang dilakukan oleh tersangka kepada korban. Di mana, dalam BAP tidak disebutkan tersangka menampar korban," ujarnya.

Pada saat dilakukan pemeriksaan, tersangka awalnya menceritakan jika mereka hanya memukul dan menendang korban saja.

"Fakta baru yang didapatkan saat rekonstruksi yakni tersangka melakukan tamparan kepada korban. Jadi tidak hanya tendangan dan pukulan saja tapi juga tamparan," jelas Kasubag Humas yang baru menempati posisinya ini.

Baca Juga : Bawa Satu Tas Sabu dan Dobel L, Pria Gondrong di Tulungagung Ditangkap Polisi

Dalam penjelasan yang disampaikan tersangka pada penyidik, aksi pemukulan, penendangan dan penamparan ternyata sudah lazim dilakukan pada pesilat yang baru bergabung dengan perguruan.

"Pemukulan, tendangan dan penamparan yang dilakukan oleh tersangka merupakan bagian dari pembinaan yang dilakukan kepada calon pesilat yang akan bergabung dalam komunitas dengan tujuan agar terjalin rasa solidaritas sesama siswa," ungkapnya.

Nenny juga memastikan, kasus meninggalnya pesilat dalam kejadian itu tidak didasari dendam pribadi. "Yang pasti tidak ada dendam maupun masalah pribadi antara tersangka dan korban. Hal ini terbukti dari keterangan tersangka dan sejumlah saksi. Bahkan kegiatan yang berlatar belakang pembinaan juga dilakukan kepada 4 saksi lain yang mendapatkan tendangan, pukulan dan tamparan pada bagian tubuhnya," jelasnya.

Setelah digelarnya rekonstruksi, untuk penerapan pasal maupun jumlah tersangka tidak mengalami perubahan yakni berinisal ER (20), FI (23), FA (17) dan MO (16). Dari empat orang tersangka, dua diantaranya berusia dewasa dan dua lainnya masih di bawah umur.

Pasal yang dikenakan juga berbeda, untuk dua orang usia dewasa dikenakan Pasal 170 ayat 1 dan 2 ke-3 e KUHP. Sedangkan untuk tersangka anak-anak akan menggunakan sistem peradilan pidana anak berdasarkan UU No 11 tahun 2012.

Topik
tewasnya pendekar di tulungagung Polres Tulungagung rekonstruksi kasus

Berita Lainnya