Pertama di Tulungagung, Ujian Perangkat Desa Bendungan Pakai IT ala Ujian CPNS | Tulungagung TIMES

Pertama di Tulungagung, Ujian Perangkat Desa Bendungan Pakai IT ala Ujian CPNS

May 25, 2021 15:59
Suasana ujian perangkat Desa Bendungan Kecamatan Gondang, Selasa 25/05/2021. (Foto: dok. Panitia)
Suasana ujian perangkat Desa Bendungan Kecamatan Gondang, Selasa 25/05/2021. (Foto: dok. Panitia)

TULUNGAGUNGTIMES - Ujian pengisian perangkat desa melalui sistem penjaringan dan penyaringan di Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, ini tergolong menarik. Pasalnya, ujian perangkat desa yang pada umumnya dilakukan secara manual atau mengerjakan soal dengan mengisi lembar jawaban tapi diganti dengan menggunakan komputer dan jaringan internet mirip ujian CPNS.

Ketua Panitia Penjaringan dan Penyaringan Perangkat Desa Bendungan Ma'ruf mengatakan, pelaksanaan ujian perangkat yang dilakukan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan itu merupakan yang pertama di Tulungagung.

Baca Juga : Pasca-Lockdown, Bendera Merah di Dusun Tekik Diganti Hijau

Menurut Ma'ruf, penggunaan IT dalam pelaksanaan ujian perangkat mempunyai alasan sebagai acuan para generasi muda, khususnya peserta, untuk membuktikan kredibilitas penyelenggara sekaligus menyajikan sebuah transparansi.

"Makanya kita mencoba. Mungkin kali ini di Tulungagung menggunakan IT lengkap seperti ini pertama kali di Desa Bendungan," kata Ma'ruf saat dikonfirmasi usai pelaksanaan ujian di balai desa, Selasa (25/05/2021).

Selain itu, pihak panitia menganggap bahwa ujian tertulis dalam bentuk manual rawan dan rentan dengan kebocoran soal dan kebetulan peserta pengisian perangkat desa Bendungan rata-rata mempunyai ijazah sarjana jadi sangat tepat dan tidak ketinggalan dengan kemajuan IT.

Untuk ujian perangkat sendiri, pantia memakai link sibiti seperti ujian di CPNS, sehingga rekap nilainya semua transparan terbuka dan ditampilkan dilayar sehingga tidak satu pun yang merasa dirugikan dan itu merupakan dari pemerintah Desa khususnya panitia. "Risiko memang besar dan kami memberanikan diri," imbuhnya.

Dijelaskan, panitia sudah melakukan semua tahapan pengisian perangkat sesuai dengan aturan yang berlaku dan pada tahap akhir, yaitu ujian, para peserta bisa melihat hasil secara terbuka secara online dan tanpa ada campur tangan dari pihak mana pun.

"Setelah selesai mengerjakan, nilai ujian langsung muncul satu per satu sekaligus peringkatnya. Jadi, hari ini kita pulang sudah bisa membawa hasil," kata Ma'ruf.

Untuk soal yang diujikan,  ada 100 item yang dibagi menjadi dua materi yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Materi pengetahuan umum masih dibagi menjadi 3 sub-materi antara lain: Pancasila dan UUD 1945 ada 15 item soal, bahasa Indonesia 15 soal, dan matematika 15 soal dan itu berdiri sendiri dan nilainya juga berdiri sendiri dengan durasi waktu pengerjaan 60 menit atau 1 jam.

Sedangkan materi pengetahuan khusus ada 55 item soal yang durasi waktu pengerjaannya sama dengan materi pengetahuan umum yaitu 60 menit atau 1 jam.

Baca Juga : Kakek asal Tulungagung Terlantar di Batam, Begini Jejak Kisahnya..

Walaupun masih pertama di Tulungagung, Ma'ruf mengaku tidak ada kendala apa pun dalam pelaksanaan. Bahkan agar secara teknis peserta ujian bisa lancar pada saat pengerjaan, pihak panitia juga mengadakan tryout.

"Kemarin hari minggu (23/05/2021) itu diadakan tryout untuk cek kesiapan. Pertama komputer, kedua wifinya kemudian juga untuk latihan soal-soal semua peserta diberi training agar secara teknis lancar dalam mengerjakan ujian. Alhamdulillah berjalan sesuai dengan rencana, tidak ada satu pun yang menjadi kendala atau sukses pelaksanaan ujian dengan IT," ungkapnya.

Di tempat yang sama Kepala Desa Bendungan Suryanto mengatakan, ujian perangkat dengan menggunakan IT dilaksanakan dengan tujuan menghapus stigma yang selama ini terbentuk di masyarakat bahwa setiap kompetisi perangkat ada diskriminasi dari panitia atau pemdes. Dengan demikian, kepercayaam masyarakat terhadap sebuah kompetisi menjadi berkurang atau psimistis.

"Kita ingin menjawab agar masyarakat kembali optimis bahwa kita tidak diskriminatif. Artinya orang yang tidak mampu (secara finansial) tapi punya kemampuan (keilmuan) kita berikan kesempatan seperti ini," kata kades.

Suryanto juga menegaskan, sistem ujian pakai IT merupakan cara untuk membangun suatu desa yang maju dan mengedukasi masyarakat agar stigma yang berkembang tentang pemerintah desa atau panitia ada main dan lain-lain semakin hilang dan masyarakat kembali optimis.

Untuk diketahui, pengisian perangkat Desa melalui sistem penjaringan dan penyaringan desa Bendungan diikuti oleh 14 peserta dan formasi jabatan perangkat yang diisi adalah kepala urusan (kaur) keuangan.

Topik
berita tulungagung Ujian Perangkat Desa

Berita Lainnya