Nasib Hutan di Indonesia Terancam Rusak akibat Keserakahan Pemodal (1) | Tulungagung TIMES

Nasib Hutan di Indonesia Terancam Rusak akibat Keserakahan Pemodal (1)

Apr 28, 2021 21:10
Peta tutupan hutan tahun 2017 di Indonesia. (Foto: Forest Watch Indonesia) 
Peta tutupan hutan tahun 2017 di Indonesia. (Foto: Forest Watch Indonesia) 

MALANGTIMES - Banyaknya kerusakan hutan di Indonesia mayoritas disebabkan oleh alih fungsi lahan hutan. Kegiatan alih fungsi lahan ini dilakukan para pemodal untuk mengembangkan usahanya. Peralihan fungsi lahan ini menyebabkan banyak peristiwa bencana alam yang melanda Indonesia. Mulai bencana banjir bandang, longsor hingga rusaknya habitat hewan yang berada di dalam hutan . 

Deforestasi atau aktivitas penebangan hutan pun juga turut andil menjadi penyebab bencana alam yang kerap kali terjadi di Indonesia. Luasnya kerusakan hutan di Indonesia dalam periode tahun 2000 hingga tahun 2017 mengalami perubahan yang dinamis. 

Baca Juga : Pria 56 Tahun Ditemukan Meninggal di Persawahan Desa Semanding

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh FWI (Forest Watch Indonesia), laju deforestasi pada tahun 2000 menunjukkan angka 2 juta hektar are (ha) per tahun. Lalu pada periode tahun 2000 sampai tahun 2009 sebesar 1,5 juta ha per tahun. Kemudian di tahun 2009 sampai 2013 sebanyak 1,1 juta ha per tahun. Dan periode tahun 2013 sampai 2017 laju deforestasi sebesar 1,47 juta ha per tahun. 

Kemudian tepatnya setelah era reformasi pada tahun 2000 Hutan Alam di Indonesia memiliki luas hingga 106.411.422 juta hektar are (ha). Kemudian jumlah luas hutan alam menurun di era dua periode kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2009 dengan turun menjadi 93.081.388 juta ha. 

Lalu pada tahun 2013 turun lagi menjadi 88.556.285 juta ha. Hingga memasuki era pemerintahan Presiden Joko Widodo pada tahun 2017 turun menjadi 82.832.498 juta ha atau 43 persen dari luas daratan Indonesia. 

Penurunan jumlah luasan hutan alam tersebut merata terjadi di seluruh pulau yang ada di Indonesia, mulai Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. 

Data tutupan hutan alam tahun 2000 - 2017 di Indonesia.

Jika dirinci, mulai dari Pulau Sumatera pada tahun 2000 memiliki luas hutan alam 16.323.900 juta ha. Pada tahun 2009 turun menjadi 12.901.545 ha. Lalu di tahun 2013 turun menjadi 11.372.920 juta ha. Hingga tahun 2017 turun menjadi 10.400.014 juta ha. 

Selanjutnya di Pulau Jawa, dimulai pada tahun 2000 memiliki luas hutan alam 2.956.530 juta ha, lalu di tahun 2009 turun menjadi 1.366.715 juta ha. Kemudian di tahun 2013 turun menjadi 1.035.925 juta ha. Akhirnya di tahun 2017 turun menjadi 905.885 ribu ha. 

Setelah itu, di Pulau Bali-Nusa Tenggara pada tahun 2000 memiliki luas hutan alam sebanyak 2.240.910 juta ha, lalu di tahun 2009 turun menjadi 1.406.543 juta ha. Pada tahun 2013 turun lagi menjadi 1.261.504 juta ha. Dan pada tahun 2017 turun hingga 877.494 ribu ha. 

Di Pulau Kalimantan juga mengalami penurunan. Mulai tahun 2000 memiliki luas hutan alam 33.234.711 juta ha. Kemudian di tahun 2009 turun menjadi 28.358.386 juta ha. Lalu di tahun 2013 turun menjadi 26.886.772 juta ha. Hingga tahun 2017 turun menjadi 24.834.752 juta ha. 

Selanjutnya di Pulau Sulawesi pada tahun 2000 memiliki luas hutan alam 10.768.513 juta ha. Lalu turun menjadi 9.318.071 juta ha di tahun 2009. Kemudian turun lagi di tahun 2013 menjadi 9.128.560 juta ha. Dan di tahun 2017 turun menjadi 8.179.422 juta ha. 

Baca Juga : Viral Video Penangkapan Babi Ngepet di Sawangan, Begini Faktanya

Kemudian di Pulau Maluku memiliki luas hutan alam 5.880.802 juta ha di tahun 2000. Lalu di tahun 2009 turun menjadi 5.256.738 juta ha. Di tahun 2013 turun lagi menjadi 5.058.983 juta ha. Dan di tahun 2017 turun menjadi 4.515.417 juta ha. 

Terakhir di Pulau Papua pada tahun 2000 memiliki luas hutan alam sebesar 35.006.055 juta ha. Kemudian di tahun 2009 turun menjadi 34.473.389 juta ha. Lalu di tahun 2013 turun menjadi 33.811.621 juta ha. Dan di tahun 2017 turun lagi menjadi 33.119.514 juta ha. 

Ilustrasi penebangan liar di hutan. (Foto: lampungmediaonline.com)

Sementara itu, beberapa wilayah yang mengalami kerusakan hutan juga menyebabkan bencana alam yang cukup besar. Seperti contoh di Provinsi Kalimantan Selatan yang pada awal Bulan Januari 2020 lalu mengalami bencana alam banjir yang luar biasa. 

Dilansir dari tirto.id, berdasarkan catatan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) banjir bandang yang melanda Provinsi Kalimantan Selatan disebabnan oleh eksploitasi alam yang berlebihan hingga menyebabkan kawasan hutan rusak. "Ekosistemnya memang dirusak oleh perizinan tambang dan sawit. Kawasan-kawasan yang punya fungsu ekologi terganggu, semisal kawasan gambut, hulu, badan sungai dan kawasan karst," ujar Koordinator Jatam Merah Johansyah, Senin (18/1/2021). 

Luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan sebedar 3,7 juta ha. Catatan Jatam, sebanyak 33 persen atau setara dengan 1,2 juta ha dikuasi oleh pertambangan batu bara dengab total perizinan mencapai 553 IUP Non-CnC (Izin Usaha Pertambangan Non-Clean and Clear) dan 236 IUP CnC. Sementara, luas perkebunan sawit mencapai 618 ribu ha atau setara dengan 17 persen luas wilayah. 

Sementara itu, di Provinsi Sumatera Selatan juga mengalami kerusakan hutan yang begitu besar. Dilansir dari gatra.com kawasan hutan rusak di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 733 ribu ha yang dikategorikan hutan dalam kondisi kritis dan sangat kritis. 

Lalu pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pun terus melakukan upaya penganggaran untuk menanam kembali kawasan hutan yang rusak. "Kalau tahun lalu (2019, red) ada sekitar 16 ribu hektare yang ditanam kembali. Setiap tahun, kami terus anggarkan dana untuk pemulihan kawasan hutan yang rusak itu," ujar Plt Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan Pandji Tjahjanto, Kamis (7/1/2021).

Topik
kerusakan hutan kerusakan hutan Alih Fungsi Lahan

Berita Lainnya