Mulai Ditinggalkan, Beginilah Nikmat dan Makna Kenduri Ambengan di Tulungagung | Tulungagung TIMES

Mulai Ditinggalkan, Beginilah Nikmat dan Makna Kenduri Ambengan di Tulungagung

Apr 04, 2021 17:55
Nasi ambeng saat dibagikan pada undangan di suatu acara kenduri di Desa Bendilwungu Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Nasi ambeng saat dibagikan pada undangan di suatu acara kenduri di Desa Bendilwungu Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNGTIMES - Purakan ambeng atau kenduri dengan nasi gurih yang langsung dibagi setelah diberikan doa sudah mulai ditinggalkan masyarakat Tulungagung. Meski demikian, bagi warga yang ingin melestarikan budaya Jawa dari nenek moyangnya masih teguh menerapkan kenduri ambengan ini di berbagai hajatan.

"Ambengan ini tradisi adat yang seharusnya dilestarikan," kata Rojiman (82) warga Desa Bendilwungu, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Minggu (4/4/2021).

Baca Juga : Haul Mbah Kiai Hamdani: Mengenang Kisah Pejuang Agama di Tawangrejo

Menurut Rojiman, ambengan ini punya arti lebih dekat jalinan kebersamaan antar tetangga dan masyarakat pada umumnya, juga punya khas makanan yang lebih disukai.

"Jika berkat ambengan ini dibagi sendiri oleh jamaah yang diundang, maka akan terlihat rukun dan saling tolong menolong," ujarnya.

Prosesi ambengan ini biasanya dilakukan pada selamatan kelahiran, brokohan, megengan, mauludan, nyambung tuwuh dan pitonan.

"Semua selamatan bisa menggunakan ambeng seperti masyarakat zaman dulu," jelasnya.

Nasi ambeng di Tulungagung biasanya dimakan dengan memakai tangan, tanpa sendok.  Selain nasi putih, ambeng juga terdapat nasi gurih, jenang abang dan jenang sengkolo. Lauk nasi ambeng bervariasi, namun yang menjadi ciri khasnya ada srondeng, sambal goreng, kacang goreng dan ingkung ayam serta ubo rampe lain menyesuaikan dengan hajatnya.

"Sekarang banyak yang selamatan bersama di musala atau di satu tempat. Sehingga kenduri ambengan ini meskipun masih ada namun tidak sebanyak dulu," ungkapnya.

Kenduri nasi ambeng ini sebenarnya mirip dengan tumpengan. Hanya menurut tradisi Jawa, khususnya yang dipercaya di Tulungagung, jika tumpeng melambangkan khusus. Sedangkan ambeng lebih bersifat umum.

Baca Juga : Wawali Kota Malang Tanam Pohon Pule dan Apresiasi Kampung Budaya Polowijen

Jika nasi ambeng telah dibagikan, para undangan memakan dulu sebagian sebelum pamit pulang ke tuan rumah. Sisa nasi dan lauk di dalam takir (wadah dari daun pisang) yang terkenal enak serta hangat itu kemudian dibawa pulang dan dimakan bersama-sama seisi rumah.

 

 

 

Topik
tradisi ambengan ambengan di tulungagung nasi ambeng lauk nasi ambeng kenduri nasi ambeng

Berita Lainnya