TULUNGAGUNGTIMES - Imlek selalu identik dengan pertunjukan barongsai. Pertunjukan barongsai mulai dimainkan secara bebas paska lengsernya Orde Baru, akhir tahun 90-an.
Saat Orde Baru, pertunjukan tarian singa dari tirai bambu ini dilarang dilakukan. Pasalnya, dianggap bukan kesenian asli Indonesia. Praktis selama Orde Baru, seni ini menghilang dan lahir kembali saat pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur).
Baca Juga : Imlek Tahun Ini, Barongsai Tak Lagi Menari
Begitu pula dengan seni barongsai di Tulungagung. Tarian ini mulai muncul kembali di Tulungagung pada akhir tahun 90-an. Salah satu perintis tarian barongsai di Tulungagung adalah Liem Giok Sam (60), warga kelurahan Kuthoanyar, Kecamatan Tulungagung Kota.
Terlahir dari ayah berdarah China dan ibu berdarah Jawa tulen, pria yang bernama Jawa Santoso ini mengalir kecintaan pada seni dari tirai bambu. Santoso mulai serius merintis seni barongsai sejak akhir tahun-90 an, paska lengsernya Presiden Suharto.
Kondisi politik Orde Baru saat itu tak memungkinkan baginya untuk menampilkan seni dari negeri tirai bambu tersebut. Hingga dirinya harus kucing-kucingan dengan petugas.
Seni barongsai dipelajarinya pada tahun 70-an di Surabaya. Awalnya, Santoso mempelajari barongsai dikombinasikan dengan beladiri silat dan Whusu.
“Gerakan-gerakan langkah barongsai memang didasari dengan gerakan beladiri, seperti whusu,” jelas Santoso saat ditemui di rumahnya.
Di pekarangan rumah berukuran 5 x 15 meter itu, Santoso melatih remaja-remaja di sekitar rumahnya seni tari Barongsai.
Santoso menjelaskan, kata barongsai berasal dari kata “Sai” yang berarti singa. Sedang kata barong berasal dari seni tari “Barong” dari Bali, yang mirip dengan tari singa. Sehingga kedua kata itu digabung menjadi barongsai.
Tak tanggung-tanggung, ada 10 set barongsai yang dimiliki olehnya, dengan jumlah pemain sekitar 30 orang. Barongsai dilakukan oleh 2 orang, yang berperan sebagai kepala dan tubuh barongsai. Saat bermain, mereka diiringi dengan tabuhan yang berasal dari simbal, kenong dan tambur.
Baca Juga : Perayaan Imlek di Klenteng Eng An Kiong, Kapolresta Malang: Prokesnya Baik
"Pemain harus seiring, selain itu juga punya fisik yang kuat,” jelasnya.
Fisik yang kuat diperlukan untuk mengangkat kepala barongsai yang beratnya sekitar 3-5 kilogram. Sedang bagian belakang harus kuat, lantaran dalam tarian ini ada gerakan yang mewajibkan menggendong pemain depan. Untuk kelincahan langkah, Santoso mendasari pemain dengan seni bela diri Whusu.
Secara umum ada 4 warna dasar barongsai. Yaitu, putih, merah, kuning, dan hitam. Masing-masing warna mempunyai makna filosofi berbeda. Warna merah melambangkan kebahagiaan, hitam melambangkan keberanian, kuning kesejahteraan dan putih berarti pertolongan.
Pertunjukan barongsai dalam masyarakat China selalu dikaitkan dengan pembersihan aura dan roh jahat.
“Biasanya untuk pembukaan usaha, pernikahan,” kata Santoso.
