Mahasiswa dan PKL Bersatu Minta Jam Malam Dievaluasi, Berikut Penjelasan Bupati Tulungagung | Tulungagung TIMES

Mahasiswa dan PKL Bersatu Minta Jam Malam Dievaluasi, Berikut Penjelasan Bupati Tulungagung

Jan 19, 2021 17:37
Jalanya audiensi antara satgas Penanganan Covid-19 dan perwakilan pedagang (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Jalanya audiensi antara satgas Penanganan Covid-19 dan perwakilan pedagang (Joko Pramono for Jatim TIMES)

TULUNGAGUNGTIMES - Sejumlah perwakilan mahasiswa, PKL (pedagang kaki lima) dan pengusaha warung kopi dan kuliner minta Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung mengkaji ulang penerapan jam malam, Selasa (19/1/2021).

Permintaan itu disampaikan saat digelar melakukan audiensi bersama Satgas Covid, karena penerapan jam malam dianggap merugikan PKL, pengusaha makanan dan warkop.

Baca Juga : Banjir Kembali Terjang Tempurejo, Sabhara Polres Jember Kerahkan Water Canon

 

Audiensi dilakukan di Pendopo Tulungagung, sekitar pukul 10.30 hingga selesai pukul 13.00. Audiensi berjalan alot, lantaran kedua belah pihak kukuh terhadap kebijakan dan keinginannya.

Bupati Tulungagung yang juga ketua Satgas, Maryoto Birowo pasca audiensi mengatakan penerapan jam malam dilakukan secara nasional , sesuai Instruksi Presiden nomer 1 tahun 2021, tentang pelaksanaan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) dan PSBB.

Sehingga Tulungagung untuk menekan penyebaran covid-19 perlu melakukan jam malam, mulai pukul 20.00-04.00. “Pandemi ini masih menunjukan angka yang signifikan, jadi perlu kita jaga secara bersama-sama,” ujar Maryoto.

Pihaknya meminta semua pihak turut berpartisipasi dalam menekan penyebaran covid-19, mulai dari petugas, masyarakat, PKL dan pedagang.

Terkait dengan keluhan pengusaha kuliner yang mengalami penurunan omzet dalam pelaksanaan jam malam, Maryoto meminta semua menyadari kondisi saat ini. “Semua harap maklum, semua menunjukan by data kasus Covid-19 kita menunjukkan peningkatan,” katanya.

Untuk penataan tempat makan atau warung, Maryoto meminta agar semua menerapkan protokol kesehatan. Seperti menyediakan tempat cuci tangan, m njaga jarak dan mewajibkan pengunjung memakai masker. “Tempat kuliner, lokasi wisata, tempat keramaian itu sebagai indikasi penularan Covid19, oleh karena itu harus kita jaga,” katanya.

Saat disinggung terkait keramaian di pasar yang sempat dipermasalahkan oleh peserta audiensi, Maryoto katakan hal itu adalah permasalahan berbeda.

Pasar merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan. Jika ditutup akan mengakibatkan kekacauan. “Pasar itu adalah tempat pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, tapi harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.

Penerapan jam malam akan dievaluasi pada 25 Januari mendatang.

Baca Juga : Sempat Ada Suara Gemuruh, Rumah Ambruk dan Penghuninya Terbawa Arus Sungai

 

Sementara itu perwakilan mahasiswa, Muhammad Afifu menjelaskan audiensi ini merupakan bentuk penyaluran aspirasi dari pedagang yang terdampak penerapan jam malam. “Kenapa dimulai jam delapan malam, padahal itu jam-jam buka,” katanya.

Pada jam-jam itu yang seharusnya ramai pembeli justru pedagang diobrak dengan dalih jam malam. Untuk itu pihaknya menawarkan adanya ruang komunikasi antara pedagang dengan pemerintah.  

Afifu melanjutkan, pedagang siap mendukung program pemerintah dalam menekan penyebaran covid-19. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan. “Pelanggan yang tidak memakai masker, nanti diusir tidak boleh masuk warung,” ujarnya.

Atau pemilik warung menyediakan masker untuk pelanggan dengan cara dibeli. Dengan cara ini diharapkan masyarakat bisa tereduksi untuk menerapkan protokol kesehatan.

Topik
berita tulungagung Jam Malam Bupati Tulungagung

Berita Lainnya