Pohon Sonokeling di Pinggir Jalan Tulungagung Ditebang, BKSDA Blitar Turun Tangan | Tulungagung TIMES

Pohon Sonokeling di Pinggir Jalan Tulungagung Ditebang, BKSDA Blitar Turun Tangan

Dec 07, 2020 19:11
petugas dari BKSDA (celana hijau) saat mengukur diameter bekas pohon sonokeling (Joko Pramono for Jatim TIMES)
petugas dari BKSDA (celana hijau) saat mengukur diameter bekas pohon sonokeling (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Setelah menerima laporan adanya penebangan pohon sonokeling dari Ketua PPLH Mangkubumi, BKSDA (badan konservasi sumber daya alam) Resort RKW 02 Blitar langsung turun melihat bekas pemotongan.

Kepala Resort BKSDA RKW 02 Blitar, Joko Dwiyono yang membawahi wilayah Kediri, Tulungagung, Blitar dan Trenggalek ini mengatakan pemotongan pohon sonokeling harus memiliki izin dari balai jalan. Sedang untuk peredarannya atau penjualannya harus ada izin edar dari BKSDA.

Baca Juga : GSN Foundation Ajak Revolusi Hutan untuk Atasi Banjir di Bojonegoro

Kayu ini kata Joko merupakan kayu apendik II Cites, yang mana pengangkutan dan peredarannya harus ada izin khusus. Namun hingga kini pihaknya belum menerima tembusan pemotongan dan peredaran pohon sonokeling. “Tidak ada tembusan sama sekali,” kata Joko.

Dirinya mencontohkan, pohon sonokeling di halaman rumah warga boleh dipotong, namun untuk pengangkutan dan peredarannya harus mendapat izin khusus dari BKSDA. “Kalau mau diangkut, baru mereka mengajukan permohonan pengangkutan,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, Santoso yang ikut tim dari BKSDA mengatakan pemotongan pohon sonokeling harus sesuai prosedur yang ada, seperti mendapat izin dari balai jalan. “Kalau kita melihat bekasnya, ini kayaknya penebangan liar atau pencurian,” kata Santoso.

Santoso melanjutkan kayu sonokeling mempunyai ekonomis yang tinggi, sehingga memerlukan perhatian dari berbagai pihak.

Pihkanya akan menindaklanjuti penebangan sonokeling dengan beberapa instansi terkait, untuk mengambil langkah selanjutnya. “Ini harus kita jaga bersama-sama,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan pendataan jumlah pohon sonokeling yang ada di Kabupaten Tulungagung.

Disinggung prosedur pemotongan sonokeling, Santoso mengatakan seharusnya ada koordinasi dengan berbagai instansi, seperti BKSDA, DLH, Balai jalan dan aparat penegak hukum. “Mekanismenya ke balai Jalan dan BKSDA,” katanya.

Sebelumnya pihaknya juga menerima surat tembusan terkait perempasan pohon di sepanjang jalan yang dianggap berbahaya di musim hujan.

Ketua PPLH Mangkubumi Kabupaten Tulungagung, Muhammad Ikhwan meminta agar Polres Tulungagung sesegera mungkin mengamankan kayu Sonokeling yang ada.

Baca Juga : Kikis Kesan Seram, Gang Keramat Bakalan Krajan Dihias Tokoh Kartun

Dirinya meyakini aktivitas pembalakan ini bersifat ilegal. “Karena pohon yang ditebang di pinggir jalan itu harus memenuhi beberapa syarat,” ujarnya.

Beberapa persyaratan itu menurut Ihkwan antara lain dianggap membahayakan pengguna jalan. Jika secara resmi dipotong, maka kayu akan dikumpulkan terlebih dahulu di PJN atau kantor Polisi setempat.

Jika alasan pohon Sonokeling dipotong karena alasan hendak tumbang, Ikhwan berpendapat hingga saat ini pihaknya belum mendengar pohon Sonokeling tumbang, lantaran pohon ini dinilai kokoh. “Jika alasan tua atau mau tumbang, kenapa enggak pohon asem Jawa saja, padahal lebih tua usianya,” katanya.

Untuk penerbangan kayu sonokeling, dibutuhkan beberapa izin dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Surabaya, mengingat status sonokeling sebagai kayu jenis Apendix II Cites. Dengan masuknya Sonokeling dalam appendix II CITES. CITES (Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora).

Maksudnya, Sonokeling belum terancam punah namun perdagangannya harus dikontrol agar tidak menjadi terancam punah dan perdagangan internasional diperbolehkan dengan kuota.

Peraturan ini berlaku berdasarkan notifikasi CITES tanggal 7 November 2016 dan 14 November 2016 perihal Amandment to Appendices I and II Convention yang diadopsi pada COP 17 CITES tanggal 24 September s/d 4 Oktober 2016 di Johanessburg  Afrika Selatan yang disebutkan bahwa tanaman jenis Sonokeling (Dalbergia latifolia) telah masuk dalam daftar  Appendix II CITES. “Saya yakin ini bermasalah,” pungkasnya dengan tegas.

Padahal kasus pembalakan kayu sonokeling di Tulungagung pada April 2019 lalu belum kelar, kejadian serupa terulang lagi di Tulungagung.

Topik
berita tulungagung perda wisata desa

Berita Lainnya