Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

Saat kehilangan pasangan, karena bercerai atau meninggal dunia, pasti akan merubah segala rencana kehidupan. Kehilangan pasangan adalah hilangnya pendamping, belahan jiwa, berdampak pada hilangnya penghasilan serta lingkaran sosial. 

Ketika seseorang kehilangan pasangan suami atau istri, terasa seperti kehilangan identitas diri.

Baca Juga : Viral di TikTok, Gen Z Tak Tahu Peribahasa, Giliran Tarik Sis Langsung Jawab "Semongko"

Menjadi sendiri karena kehilangan pasangan memang tidak mudah. Tidak saja dialami oleh perempuan tapi juga pria. Keluh kesah hidup sendiri tanpa pasangan itu, seperti disuarakan olah seorang pria yang kini menduda di Tulungagung. 

Duda sebut saja namanya WN ini, bahkan seperti kehilangan arah hidup setelah menyendiri. Terlebih lagi, selama ini interaksi sosialnya lebih banyak bergantung pada istri. "Setelah istri tidak ada, saya merasa kehilangan dan bingung untuk merawat dua anak yang masih kecil," ujar duda, sebutan saja WN, tinggal di wilayah Campurdarat ini.

Dua pilihan yang sama-sama sulit untuk diputuskan, di antaranya menikah lagi atau ingin selamanya hidup bersama anak. "Secara hasrat, pasti saya ingin cari pendamping lagi. Tapi takut, apakah istri saya kelak akan menyayangi anak-anak saya seperti istri saya dahulu. Namun, terkadang, saya hanya ingin membesarkan anak, tapi jujur saya tak pandai masak dan mengerjakan tugas seorang ibu," jelasnya.

Diakui WN, sejak beberapa bulan pisah, dirinya sudah banyak berinteraksi dengan wanita lain. Namun, dirinya harus melihat anak dan berpikir beberapa kali untuk memutuskan untuk menikah lagi.

Keadaan menduda, apalagi dengan tanggungan anak menurut pengamat sosial dan dosen Universitas Bhineka (UBHI) Tulungagung, Andrias Andri Djatmiko diakui lebih sulit jika dibanding menjanda.

"Sebenarnya tergantung masing-masing individu, jika anak dianggap sebagai beban tentu itu beban. Namun jika anak dinilai sebagai anugerah dan sebuah investasi maka seorang duda bisa memutuskan untuk tidak menikah lagi dan memilih bersama anak meneruskan hidup," ujarnya.

Tak semua pria dapat secara luwes dan telaten mengerjakan pekerjaan wanita. Namun, sebaliknya pria dengan status duda cenderung menikmati kesendiriannya.

Baca Juga : Kangen Engklek hingga Bangkiyak Raksasa, Bisa Datang ke Kampung Dolanan Kota Malang

"Banyak yang justru saat menduda ini menikmati kesendiriannya, saat punya istri saja selalu ingin tampil. Kalau duda, dia komitmen dan fokus membesarkan anak maka itu bukan beban dan justru anak menjadi pendamping hidup," terangnya.

Diakui Andreas, mayoritas seorang pria lebih senang hidup sendiri daripada harus punya tanggungan seorang anak. "Bahkan lebih banyak menyembunyikan statusnya, untuk mendapatkan pendamping lagi," tambahnya.

Psikologi, Ifada Nur Rohmaniah saat dikonfirmasi terkait masalah ini membenarkan jika seorang duda akan secara psikologi terdampak. "(Dampaknya) lebih pada penyaluran hasrat seksual ,kebutuhan itu termasuk utama," kata Ifada.

Jika hasrat itu disalurkan dengan benar dan segera menikah lagi, diakui akan lebih baik dibandingkan yang menyalurkan hasratnya secara instan. "Yang tidak kuat ya lebih pada jalur instan," pungkasnya.