Dwi Cahyono saat menunjukkan makam kuno di Situs Astono Gedong (Joko Pramono/ JatimTIMES)
Dwi Cahyono saat menunjukkan makam kuno di Situs Astono Gedong (Joko Pramono/ JatimTIMES)

Kabupaten Tulungagung menyimpan banyak peninggalan masa lalu. Mulai dari zaman pra sejarah seperti situs Homo Wajakensis hingga peninggalan sejarah lainya.

Salah satunya adalah situs Astana Gedong, yang merupakan salah satu bukti hunian sejarah di Tulungagung.

Baca Juga : Angkat Tema Trantanan, Getih Getah Gula Kelapa Candi Simping Diisi Kegiatan Doa Budaya

Situs Astana Gedong terletak di Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo. Di situs ini terdapat makam-makam kuno bertarikh 1548 Masehi atau 1470 dalam penanggalan Jawa.

Makam-makam di situs ini bercirikan Hindu-Budha dan Muslim. Adanya makam itu mengungkapkan jika di daerah tersebut dulunya terdapat pemukiman maju.

Dwi Cahyono, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang saat mengisi kajian tentang situs ini di Desa Sukodono, Kamis (19/11/20) menuturkan desa ini awalnya bernama Gondang Lor.

Penamaan ini tak lepas dari banyaknya pohon Gondang di wilayah ini pada masa dulu.

“Astono Gedong ini menarik ya, menarik sosial budaya di satu pihak dan sosial ekologi pada satu pihak,” ujarnya.

Menariknya, situs Astono Gedong berada di wilayah pertemuan 3 aliran sungai, Sungai Picisan, Sungai Brantas dan Sungai Ngrowo.

Lantaran posisinya ini, di wilayah ini terdapat kebudayaan yang maju pada masanya, mengingat kajian sejarah mengatakan sungai pada jaman dahulu merupakan jalur transportasi.

Dalam sosial ekologi, di desa ini banyak terdapat tanaman Nogosari dan Gondang.

“Astono Gedong punya itu, sosio kultural lintas masa yang tidak semua dimiliki oleh tempat-tempat bersejarah,” katanya.

Tinggalan sejarah di desa ini dirasa lengkap, mengingat situs atau penanda kebudayaan di tiap masa ada. Mulai masa Hindu-Budha hingga kemerdekaan pun ada.

Hal inilah yang membuat begitu strategisnya posisi situs ini dalam kajian sejarah. “Masa Hindu-Budha ada jejaknya, perkembangan Islam ada jejaknya, masa kolonial ada jejaknya,” katanya.

Disinggung kemungkinan bergesernya sejarah kebudayaan Tulungagung yang selama ini dikenal berpusat di wilayah Kauman, Dwi Cahyono mengatakan hal itu mungkin saja.  

Baca Juga : Tradisi Menarik, Kembul Doa di Pucanglaban Tulungagung, Sedekah Bumi saat Memasuki Musim Tanam

Mengingat basis ekonomi maupun kehidupan di masa lampau selalu bersinggungan dengan air. Posisi inilah yang membuat wilayah Karangrejo yang dulu dikenal dengan wilayah Kucen membawahi beberapa wilayah, seperti Ngantru dan Sendang.

Sebagai pusat pemerintahan pada masa itu, posisinya yang terbuka karena berada di pintu masuk wilayah, membuat pusat pemerintahan dipindah lebih ke dalam, di wilayah Kauman atau Kalangbrat yang berada di sebelah selatan.

“Kalau menurut dugaan saya, pusat (pemerintahan) awal di sini,” katanya.

Pemindahan pemerintahan dilakukan demi alasan keamanan. Meski dipindah lebih ke selatan, masih dilewati oleh jalur transportasi. Di Kauman terdapat Kali Song yang juga menjadi jalur transportasi air.

Lalu jalur darat kuno yang melewati wilayah Kauman hingga Karangrejo.

“Jalur darat dulu kulon kali (barat sungai Ngrowo), jalur sekarang (timur sungai) baru pada masa kemerdekaan itu layak,” terangnya.

Topografi Tulungagung pada masa dulu lebih didominasi wilayah rawa, sehingga sering terkena banjir.

Jalur “kulon kali” sejak dulu bebas banjir lantaran posisinya yang berada di lereng Gunung Wilis.

“Yang lebih terbebas banjir itu kulon kali, karena lebih tinggi,” pungkasnya.