Pelatihan pengolahan limbah ternak digelar Disnakan Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Pelatihan pengolahan limbah ternak digelar Disnakan Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Blitar kembali menggelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan Peternak dalam Mengolah Limbah Ternak (Kotoran Ternak) di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Senin (16/11/2020). 

Pelatihan yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) diikuti 20 peternak yang berasal dari Kecamatan Garum dan Kecamatan Talun.

Baca Juga : Tingkatkan Capaian Dokumen Akta, Dispendukcapil Kabupaten Blitar Ciptakan Inovasi Baru

Kepala Seksi (Kasi) Bina Usaha Disnakan Kabupaten Blitar drh Eny Puspasari, mengungkapkan, kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan kemampuan peternak, baik peternak ruminansia maupun peternak unggas untuk mengolah limbah ternak secara mandiri.

Pelatihan Peningkatan Kemampuan Peternak dalam Mengolah Limbah Ternak (Kotoran Ternak) di Garum ini merupakan pelatihan keempat yang digelar tahun ini.

Pelatihan ini diharapkan dapat mencegah pencemaran lingkungan dan konflik sosial. Ya, pembuangan kotoran ternak dengan sembarangan tentunya dapat menyebabkan pencemaran pada air, tanah dan udara (bau) yang pastinya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik sosial.

“Harapannya dengan kemahiran mengolah kotoran ternak menjadi pupuk dan pestisida cair, bisa mengurangi risiko dan dampak polusi bau, lalat dan pencemaran lingkungan,” ungkap Eny kepada BLITARTIMES.

Dalam pelatihan ini, peternak diberikan bekal materi mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik padat, pupuk organik cair dan pestisida cair. Bahan baku yang digunakan ada dua jenis yakni limbah kotoran sapi dan limbah kotoran unggas. 

“Pupuk organik padat dan cair  ini bisa digunakan untuk memupuk tanaman. Serta pembuatan pestisida cair nabati. Bahannya ada bahan kotoran ruminansia kita ambil limbah kotoran sapi. Juga limbah kotoran unggas, karena kita tahu di Kabupaten Blitar ini pusatnya peternakan unggas,” paparnya. 

Sementara itu, Kepala Disnakan Kabupaten Blitar .drh Adi Andaka menyampaikan, dengan pelatihan ini diharapkan para peternak dapat mengetahui tata cara mengelola limbah ternak agar dapat memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

“Selain meningkatkan perekonomian, kami berharap pelatihan ini dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Dan tentunya wawasan serta SDM yang diberikan di pelatihan ini kami harapkan bisa disebarluaskan peserta kepada teman-teman kelompok peternakan,” tegas Adi. 

Baca Juga : Pemkab Kediri Raih Dua Penghargaan dari Provinsi Jatim

Di pelatihan ini peserta mendapatkan bekal materi dari Dwita Indra Rosa dari Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kota Batu. Selain materi seputar pengolahan limbah ternak, dalam kesempatan ini juga disampaikan bahwa limbah ternak bisa dimanfaatkan seluruhnya tanpa ada yang dibuang. Peserta juga diberikan materi pertanian secara berkelanjutan. 

“Bagaimanakan pertanian berkelanjutan itu? Yakni kita gunakan pupuk dan pestisida organik serta limbah-limbahnya kita manfaatkan semuanya. Baik itu limbah padat atau limbah cairnya. Limbah padat itu berupa kotoran hewan dan limbah cairnya berupa bio urine. Bio urine ini juga bisa dimanfaatkan untuk pestisida nabati,” terang Dwita.

Lebih dalam dia menyampaikan, membuat pupuk dan pestisida organik sangat simpel, sederhana dan mudah dilakukan. Peternak bisa membuatnya secara mandiri.

”Cara membuatnya sangat simpel. Hari ini kita paparkan cara membuat pupuk dan pestida organik yang sangat mudah dilakukan dengan cara-cara yang sederhana,” pungkasnya.(Adv/Kmf)