Dilaporkan ke Polisi, Tim IT LSM Bintara Beber Bukti Kejanggalan yang Ditemukan | Tulungagung TIMES

Dilaporkan ke Polisi, Tim IT LSM Bintara Beber Bukti Kejanggalan yang Ditemukan

Nov 05, 2020 20:02
Tim IT Bintara Ali Romadlon saat menunjukkan file RAR yang diadukan ke Polisi / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Tim IT Bintara Ali Romadlon saat menunjukkan file RAR yang diadukan ke Polisi / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Paska dilaporkan ke polisi, Lembaga Swadaya Masyarakat Bintang Nusantara (LSM-Bintara) justru membuka data yang dilaporkannya ke publik. Hal itu dikatakan Ketua Umum Bintara Raden Ali Sodik, sebagai bentuk keyakinannya bahwa data yang selama ini dia miliki bukan isapan jempol belaka.

Melalui salah satu tim Teknologi Informasi (IT) Ali Romadlon, menjelaskan salah satu data yang dipegang adalah jawaban dalam bentuk file RAR.

Baca Juga : Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Benarkan Peredaran Pupuk Palsu Dibungkus Zak Asli

"Di dalam file RAR inilah kita tahu bahwa ada soal yang dikerjakan tanggal 5 Oktober sekitar pukul 20.00 WIB," kata Ali sambil menunjukkan file yang dimaksud.

Lanjutnya, dari pengalamannya sebagai ahli IT yang punya dua sertifikasi, ia melihat ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan itu, yakni pertama memang ada settingan yang salah di laptop peserta dan kedua kemungkinan memang ada dugaan jawaban dikerjakan di tanggal dan jam itu.

"Jika misalnya settingan pada laptop yang salah, jamnya kan automatis ikut jam dunia atau saat pelaksanaan ujian itu. Lha ini jamnya beda dari peserta lainnya," ujarnya.

Ali percaya banyak pihak IT yang akan digunakan penyidik kepolisian yang bisa menjelaskan masalah ini. Namun, dirinya yakin untuk membuat alibi dan rekayasa digital dalam masalah ini sulit dilakukan siapapun.

Lalu bagaimana bisa Ali mendapatkan data tersebut, dirinya mengatakan, bahwa data awalnya didapat dari peserta yang minta tolong padanya saat ujian.

"Saat ujian itu ada beberapa masalah yang terjadi. Saya didatangkan ke lokasi ujian. Karena saya paham IT saya bantu, tapi kemudian panitia juga minta tolong ke saya," jelasnya.

Dirinya heran, saat panitia meminta syarat laptop yang digunakan ujian harus kosong tanpa file. Namun, saat ada laptop peserta yang back up data dari driver hanya di hidden juga tetap dinyatakan bisa digunakan.

"Di sinilah saya mulai tahu bahwa yang menguji tidak memahami IT," jelasnya.

Bahkan, saat selesai ujian, email panitia tempat mengirim soal masih dapat dibuka oleh seluruh peserta yang jumlahnya 19 orang.

Baca Juga : Beredar Pupuk Subsidi Diduga Palsu Di Tulungagung, Petani Geram

"Jadi siapapun pesertanya sehari setelah ujian selesai bisa melihat data masing-masing peserta lain. Bisa di download dan baru diganti password setelah masalah ini ramai," tambahnya.

Ali Romadlon sendiri tidak dalam rangka ingin mencampuri urusan penyidik dalam masalah ini. Dirinya hanya ingin menyampaikan ke publik bahwa dalam laporannya ke polisi, data-data yang disampaikan Bintara telah dianalisa dan diyakini kebenarannya.

Sementara itu salah satu peserta yang mengadukan ke Bintara, Muhammad Amran Faizin Muarif menjelaskan, bahwa dirinya dari awal tidak ingin membawa masalah ini ke kepolisian. Melalui Bintara, dirinya beberapa kali secara prosedur meminta penjelasan ke panitia agar dijelaskan terkait kejanggalan yang ditemukannya itu.

Namun, permintaan itu tidak pernah dikabulkan dan akhirnya Amran melalui LSM Bintara mengadukan ke polisi untuk mendapatkan jawaban yang sejelas-jelasnya.

 

 

Topik
LSM Bintara lsm bintara dipolisikan tim it lsm bintara berita tulungagung Ujian Perangkat Desa

Berita Lainnya