Pembudidaya Kompak Gelorakan "Not for Sale", Harga Gurami di Tulungagung Naik | Tulungagung TIMES

Pembudidaya Kompak Gelorakan "Not for Sale", Harga Gurami di Tulungagung Naik

Oct 21, 2020 17:13
Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

Bertahan dengan situasi sulit tidak menjadikan pembudidaya ikan gurami di Tulungagung menyerah begitu saja. Apalagi, melihat ikan gurami telah saatnya panen dan harga pelet (pakan) tidak turun. Sementara, ikan gurami sendiri mengalami keterpurukan harga hingga sangat rendah dan bisa dibilang mengerikan.

Hari (44) warga di Kecamatan Boyolangu mengungkapkan, beberapa hari terakhir tak seperti biasanya. Dikatakannya, jika sebelumnya pembudidaya merengek-rengek datang ke penjual agar mau membeli ikan gurami miliknya, kini justru kebalikannya.

Baca Juga : The Kalindra Malang, Apartemen Mewah Kalangan Atas Harga Terjangkau

"Banyak makelar keliling mencari gurami yang siap entas (panen). Harganya juga sudah mulai naik meski hanya sedikit," kata Hari, Rabu (21/10/2020).

Dikatakan Hari, harga gurami sempat menembus harga terendah sekitar Rp 15 ribu per kilogram untuk timbangan kering dan Rp 18 ribu basah. Kini, makelar dan penjual sudah berani membeli dengan harga Rp 18 ribu kering dan Rp 20 ribu ikan gurami timbang basah perkilogramnya.

"Sebenarnya saling membutuhkan, tapi tidak ada penjual yang mengedukasi pembudidaya. Mestinya, biar sama-sama tidak rugi selain jujur timbangan penjual ini memberi arahan agar pembudidaya menahan diri atau memperlambat pertumbuhan guraminya, nyatanya tidak," ujarnya.

Penjual dikatakan Hari, malah menakuti pembudidaya bahwa harga gurami tidak akan naik lagi hingga waktu lama dan juga menjual ikan meski harus menanggung kerugian.

"Penjual kompak, maklum karena mereka setoran di bos besar dan harus memenuhi target. Angsuran mereka juga harus terbayar. Makanya, dengan berbagai cara dilakukan tanpa mempedulikan kerugian pembudidaya. Bahkan, jika pembudidaya kapok mereka tidak mau ambil pusing, padahal itu jalan rezeki penjual juga,"ungkapnya.

Kini pembudidaya gurami yang tengah mengalami frustrasi telah banyak yang beralih ke komoditas lain seperti ikan gabus, lele, patin dan ikan hias. Untuk yang masih bertahan sudah mulai kompak dengan gerakan tidak menjual (Not for Sale) bagi ikan gurami milik mereka.

"Yang masih ada sekarang menahan untuk tidak menjual dan menghambat pertumbuhan ikannya. Selain itu mencari pola pemasaran lain, kelak bisa saja pemain atau penjual ini kelabakan jika pembudidaya lebih kompak," terangnya.

Kekompakan pembudidaya ini diharapkan akan menaikkan nilai tawar yang akhir-akhir ini dianggap sarat permainan untuk memperoleh keuntungan dari satu pihak, yakni penjual saja.

Baca Juga : UMKM Kabupaten Blitar Makin Luar Biasa, Kendang Djimbe Ekspor ke Cina secara Mandiri

"Pertanyaannya, modusnya selalu berkata menolong menjualkan gurami tapi pembudidaya rugi. Terus apakah pernah mendengar ada penjual rugi," paparnya.

Saat dikonfirmasi, Ketua Aspigrata (Asosiasi Pembudidaya Ikan Gurami Tulungagung) Zainal Arifin, membenarkan cara yang tepat untuk menaikkan harga gurami, salah satunya menahan diri untuk tidak menjualnya (Not for Sale).

"Benar (menahan untuk tidak menjual dulu)," katanya singkat.

 

 

Topik
pembudidaya gurami Ikan Gurami Gurami Tulungagung gerakan not for sale berita tulungagung

Berita Lainnya