Foto-foto berita Sabtu (17/10/2020) / Tulungagung TIMES
Foto-foto berita Sabtu (17/10/2020) / Tulungagung TIMES

Pada akhir pekan atau Sabtu (17/10/2020) kemarin, ada banyak peristiwa dan berita menarik di Tulungagung. Lima di antaranya menjadi topik di media ini.

Bagi yang ketinggalan informasi, simak rangkuman sejumlah peristiwa yang terjadi berikut ini.

Baca Juga : 5 Ilmu Pelet dan Mantra yang Diyakini Ampuh di Tulungagung

1. Bupati Tulungagung dan Badan Pertanahan Nasional (BPN)  menyalurkan seribu sertifikat tanah program PTSL (Pendaftaran Tanah Sistemasi Lengkap) pada masyarakat. Penyerahan sertifikat itu dilakukan di balai Desa Bangun Jaya, Kecamatan Pakel.

Penyerahan sertifikat dilakukan secara simbolis oleh Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, Kakanwil BPN Jatim, dan Kepala BPN Tulungagung.

Maryoto Birowo setelah penyerahan sertifikat mengatakan, tanah merupakan aset yang harus diperjuangkan. Bahkan dirinya mengutip peribahasa Jawa kuno “sadumuk bathuk, sanyari bumi” yang berarti pengakuan hak atas tanah harus dibela dan diperjuangkan.

“Karena prinsip hidup orang Jawa itu ada papan (rumah atau tanah), pangan dan sandang,” ucap Maryoto, Sabtu (18/10/2020) kemarin.

Untuk program PTSL, pihaknya akan membantu pendanaan, serta memfasilitasi Kepala Desa (Kades) untuk menyiapkan administrasi. Maryoto berharap agar masyarakat memanfaatkan momen ini.

2. Kebun binatang mini di pendapa Tulungagung sepi pengunjung. Hal itu terjadi sejak merebaknya pandemi Covid-19 pada bulan April lalu. Padahal, biasanya setiap hari Sabtu dan Minggu, selalu ada kunjungan ke kebun binatang mini di dalam pendapa Tulungagung.

Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten Tulungagung Sony Welly Ahmadi, menuturkan, untuk kunjungan ke kebun binatang mini ini tidak dipungut biaya. Meski begitu sejak pandemi Covid-19, pengunjung kebun binatang mini ini menurun drastis.

"Setiap hari Sabtu biasanya ada anak PAUD yang berkunjung, tapi sekarang tidak ada,” ujarnya.

Di kebun binatang mini yang ada sejak tahun 2003 ini, terdapat berbagai koleksi satwa. Ada 18 rusa Jawa, burung kaka tua, kasuari, merak, burung rangkok, landak, ayam mutiara, ikan, dan kura-kura.

3. Seorang penambang pasir, Agus Subagio (42) warga Desa Bangoan Kecamatan Kedungawaru menemukan sebuah arca kuno. Arca ini ditemukan saat Agus menggali tambang pasir di tepian Kali Brantas, Selasa (13/10/20) lalu. 

Saat pertama kali ditemukan, Agus sempat mengira sebuah topeng “tetek melek”. Namun setelah diangkat dan dibersihkan, ternyata sebuah arca kuno tanpa kepala.

"Saya angkat, saya bersihkan lalu saya bawa pulang,” ujar Agus dalam logat Jawa yang kental, Sabtu (17/10/20).

Selain temuan arca, di lokasi sekitar sering ditemukan batuan umpak dan batu bata bangunan kuno.

Beberapa warga meyakini jika di sekitar lokasi dulunya bekas kerajaan. Mengingat di sekitar lokasi ada sebuah situs bernama “Mbah Gilang”.

4. Meski dikenal banyak yang doyan sambel, tidak semua jenis sambel di Tulungagung disukai oleh masyarakat. Sambel yang paling laris dan dicari ada lima jenis, meskipun sambel lain tetap saja ada penikmatnya.

Baca Juga : Jargon Penyanyi Dangdut Populer, Mulai dari Assololey Hingga Tarik Sis Semongko

Mulai dari sambel plelek, sambel bajak, sambel bawang, sambel korek hingga sambel pecel selalu laris manis melengkapi makan warga di kota marmer.

5. Reog kendang yang merupakan kesenian asli Tulungagung ini ternyata juga sering dimainkan di Hong Kong. Kerennya, pemain reog kendang di sana adalah para tenaga kerja wanita (TKW) yang tergabung dalam Komunitas Peduli Sesama (Kompas) Tulungagung.

Media ini berhasil wawancara dengan Wanita yang bernama asli Rachmawati (34) asli dari desa Sambirobyong Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung. 

Wanita yang akrab dipanggil Unyil oleh teman-temannya sesama pekerja migran Indonesia asal kota marmer ini sebagai salah satu penari di antara 8 teman satu kelompok tari di sana.

"Memang saya sejak kecil mempunyai jiwa seni tari, kebetulan pas saya bekerja di Hong Kong ini ketemu teman saya sama-sama TKW yang hobinya sama," kata pemilik akun Rachma Purnama, Sabtu (17/10/2020) kemarin.

Lanjut unyil, awalnya ia mencari-cari informasi tentang kegiatan para teman Buruh Migran Indonesia (BMI) yang dianggapnya positif.

"Eh, ternyata kesenian yang berasal dari Indonesia ada wadahnya dan dilindungi oleh KJRI," jelasnya.

Salah satu kesenian itu menurut Rachma adalah Reog kendang asal Tulungagung. Meski awalnya bingung untuk memulai, bersama teman sesama BMI dari Tulungagung akhirnya mencari pelatih dan melihat tayangan melalui YouTube.

Berada di bawah naungan Kompas Tulungagung, yang diprakarsai oleh Heni Wulandari, niat itupun terwujud.

"Setiap ada acara, baik pemerintah Indonesia atau Hong Kong yang bertema etnik, saya dan sesama penari juga tampil di sana," ungkap Rachma.

Dikisahkannya, dulu sebelum ada pandemi Covid-19 grup reog kendang ini pernah juga tampil di flower show Hong Kong. Reog kendang yang dimainkan di Hong Kong, sama seperti di daerah asalnya Tulungagung.

Dalam penampilan  Kesenian Reog Kendang terdiri dari berkelompok oleh 6 orang penari yang masing-masing dari mereka membawa kendang atau dhodhog.