Pengolahan Kayu Sengon di wilayah desa Kedoyo Kecamatan Sendang /Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES
Pengolahan Kayu Sengon di wilayah desa Kedoyo Kecamatan Sendang /Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

Bukan hanya komoditas pangan, kayu sengon hasil kebun dan olahan di Tulungagung mengalami penurunan harga yang signifikan. Hal itu diduga terjadi karena adanya pandemi Covid-19 yang tidak kunjung berakhir.

"Harga banyak yang turun, namun jenis tertentu masih ada yang stabil," kata Agus Aviero, pengusaha sengon asal desa Kedoyo Kecamatan Sendang, Kamis (15/10/2020).

Baca Juga : Paling Dekat Exit Tol, Nilai Investasi Apartemen The Kalindra Malang Tinggi

Sengon kiriman jenis rijek dengan diameter 8-14cm menurut Agus harganya anjlok cukup parah. Menurutnnya, sebelum Covid-19 harganya sampai 500 ribu per kubik, sekarang hanya tinggal 260-270 ribu perkubiknya. "Untuk kiriman pabrik, yang diameter 15 centimeter keatas harganya masih stabil," ujarnya.

Jenis sengon yang dimaksud dikatakan Agus sebagai sengon superan kiriman pabrik diameter 15 cm ke atas. Harga yang masih berlaku masih stabil di kisaran 800 -1,2 juta per kubik. "Ini juga tergantung besar dan panjangnya," jelasnya.

Kayu sengon olahan lain yang biasanya digunakan untuk bahan bangunan misalnya, menurut Agus masih stabil. "Hanya saja permintaan agak menurun saat pandemi Covid-19 ini dan baru 1-2 bulan belakangan mulai sedikit ada peningkatan permintaan pesanan," tambahnya.

Baca Juga : Tak Jadi Wajib Gunakan Kartu Tani untuk Beli Pupuk di Tulungagung, Manual Bisa Asal..

Tumbuhan sengon menjadi andalan usaha perkebunan di Tulungagung. Yang paling banyak, tanaman sengon ini berada di dataran yang tinggi di antaranya di wilayah Kecamatan Sendang, Pagerwojo, Pucanglaban, Tanggunggunung dan Kalidawir.