Sandiaga Uno (Foto:  Timur Media)
Sandiaga Uno (Foto: Timur Media)

Politisi sekaligus pengusaha Sandiaga Uno diprediksi bakal maju lagi dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024 mendatang. Prediksi tersebut disampaikan oleh pengamat ahli hukum tata negara Refly Harun.  

Refly mengatakan jika hal tersebut dilihat dari getolnya Sandiaga dalam melakukan safari politik. Bahkan, mantan calon wakil presiden 2019 itu kini diketahui aktif di kanal YouTube dan menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat.  

Baca Juga : Mas Yusuf-Gus Riza Unggul Pole Position atas Ipuk-H Sugirah

“Sehingga wajar dia tidak begitu frontal terhadap kekuasaan yang ada saat ini,” kata Refly melalui channel YouTubenya Sabtu (26/9/2020).  

Di sisi lain, Refly mengatakan jika di pemilu 2024 Sandiaga kecil kemungkinan jika kembali berduet dengan Prabowo Subianto. Lantas dengan siapa kira-kira Sandiaga jika benar maju dalam pemilu 2024?  

“Tentu tidak mungkin dengan Prabowo. Sebagai partai besar PDIP ingin satu kursi itu di dirinya. Masalahnya adalah di PDIP ada dua tokoh yang menonjol, satu adalah Ganjar Pranowo, dua adalah Puan Maharani," sebutnya.

“Ganjar sebenarnya lebih leading, tapi darah birunya kan di Puan Maharani. Lalu di Gerindra, ada dua orang pula yang disebut-sebut menonjol. Satu adalah Prabowo yang identik dengan Gerindra, dua adalah Sandiaga Uno yang tidak terlalu identik sesungguhnya,” ujar Refly.

Mengejutkannya, Refly menyebut nama Anies Baswedan memiliki peluang maju bersama Sandiaga. Lantaran berdasarkan survei, Anies hampir selalu tinggi elektabilitasnya.  

Baca Juga : Pilkada Kota Blitar, Ini Makna Nomor Urut 1 bagi Henry-Yasin

Namun, Sandi juga tak kalah kuat dari sisi logistiknya. “Jadi, apakah Sandi akan menjadi lawan koalisi di Istana, katakanlah Sandi Uno plus Anies Baswedan. Anies presidennya, Sandi wapresnya, atau dibalik. Tergantung konstelasi terakhir," cetus Refly.  

Kendati demikian, Refly menyebutkan jika politik saat ini sangat dinamis. Siapa akan dipasangkan dengan siapa, hal itu bergantung dengan peta politik teraktual.  

“Jadi saya cuma bilang semua itu sangat mungkin, karena politik itu dinamis. Tetapi yang pasti tidak baik kalau semua itu dikawin secara paksa,” paparnya.