Kapolres Tulungagung,  AKBP Eva Guna Pandia saat menemui perwakilan PN di Desa Suruhan Lor, Kecamatan Bandung, Minggu (23/9/20) malam. (foto : Joko Pramono/jatim Times)
Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia saat menemui perwakilan PN di Desa Suruhan Lor, Kecamatan Bandung, Minggu (23/9/20) malam. (foto : Joko Pramono/jatim Times)

Tiga ribuan warga Perguruan Silat Pagar Nusa (PN) melakukan konvoi menuntut polisi mengungkap kasus dugaan penganiayaan terhadap anggotanya, Minggu (13/9/20) malam.

 

Mereka melakukan konvoi di wilayah Desa Suruhan Lor, Kecamatan Bandung, yang selama ini rawan konflik antar perguruan silat.

Baca Juga : Lima Tahun Tak Ada Kejelasan, Warga Perumahan Greenland Tuntut Fasum pada Pengembang

 

Sekretaris PN Cabang Tulungagung, Suwito mengatakan aksi konvoi ini dilakukan untuk mendesak pengusutan dugaan penganiayaan terhadap anggota PN.

Menurut Suwito, penganiayaan ini bukan dilakukan oleh anggota perguruan lain, melainkan oleh anggota kepolisian.

Kejadian terjadi saat acara Sah-sahan PSHT pada Jum'at (11/9/20) malam lalu, sekitar pukul 23.00.

“Pelakunya polisi dan kita menuntut dilakukan penindakan,” ujar Suwito, Senin (14/9/20).

Korban pemukulan mengalami memar di tubuhnya. Suwito menceritakan kronologi kejadian dugaan penganiayaan itu. Awalnya ada 10 anak yang sedang ngopi di warung kopi di depan rumah salah satu korban.

Tiba-tiba tanpa peringatan datang sekitar 10 sepeda motor polisi turun membentak dan memukul pemuda yang ada dengan rotan.

“Dipenthungi (dipukul) pakai rotan sama penthungan polisi itu,” kata Suwito.

Tak cukup sampai di situ, pemuda yang ada juga dimaki dengan kata-kata kasar. Setelah ada kejadian itu, pihaknya langsung melapor ke Kapolres Tulungagung dan sudah dilakukan pemeriksaan.

“Kapolres langsung datang ke TKP, kita minta diusut tuntas,” ujarnya.

Pihaknya juga sudah melapor ke Propam. Setelah melakukan aksi konvoi kemarin, pihaknya langsung ditemui oleh Kapolres. Menurut Suwito, Kapolres menuturkan anggotanya tidak ada yang terlibat.

Anggota Kepolisian dari Polres Tulungagung yang bertugas menjaga acara Sah-sahan warga baru PSHT hanya dipersenjatai gas air mata, bukan tongkat dari rotan.

Baca Juga : Mandi Bersama Enam Teman, Dua Anak Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai Song Tulungagung

 

“Yang dipersenjatai pentungan dan rotan itu katanya dari Polda (Jatim),” lanjut Suwito.

Dirinya berencana akan melaporkan kejadian itu langsung ke Propam Polda Jatim.

Suwito menganggap yang dilakukan oleh petugas tidak etis dan ada unsur kesengajaan. Saat disinggung yang dilakukan petugas untuk penegakan jam malam, Suwito membantahnya.

Dirinya berdalih di sekitar lokasi kejadian banyak pemuda yang berkumpul, namun tidak ditindak. “Alasan Pak Kapolres, mereka (korban) dianggap warga PSHT,” katanya.

Sementara itu Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia saat dikonfirmasi meminta bukti dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh anggota kepolisian, saat pengamanan acara Sah-sahan warga baru PSHT beberapa waktu lalu.

“Kita kan enggak tahu, kalau memang ada mana buktinya,” kata Kapolres.

Kapolres meminta agar ada pembuktian seperti foto atau video. Pihaknya berjanji akan memproses jika ada bukti dugaan penganiayaan itu. “Kalau memang salah, kita kan ada prosedurnya juga,” pungkasnya.

Seperti diketahui, acara Sah-sahan warga baru PSHT dijaga oleh 2.778 petugas gabungan. Bahkan untuk pengamanan ini Polres Tulungagung meminta bantuan dari 8 Polres tetangga.

Acara ini diikuti oleh 1.561 anggota baru dan disebar di 7 titik berbeda.