Petani Asal Poncokusumo Ekspor Kubis Manis Asli Tulungagung Hingga ke Taiwan | Tulungagung TIMES

Petani Asal Poncokusumo Ekspor Kubis Manis Asli Tulungagung Hingga ke Taiwan

Sep 04, 2020 10:38
Andrea Subhan (tengah berbatik merah) bersama Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo saat konferensi pers di gudang bertempat di Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Kamis (3/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Andrea Subhan (tengah berbatik merah) bersama Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo saat konferensi pers di gudang bertempat di Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Kamis (3/9/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Petani sekaligus pengusaha bernama Andrea Subhan, warga asli dari Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo sukses menyita perhatian banyak orang hingga menjadi titik kunjungan kerja Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo. 

Andre, sapaan akrabnya, merupakan owner dari CV. Karunia Alam yang menjadi distributor sayuran. Dia memiliki beberapa gudang yakni di Poncokusumo, Kabupaten Malang serta di Kabupaten Jember bagian selatan.

Baca Juga : Bupati Tulungagung Akomodir Keluhan Perpadi Jadi Supplier BPNT, Ini Syaratnya

Andre mengungkapkan bahwa dirinya melakukan ekspor sayuran ke Taiwan, terutamanya varietas kubis manis dengan jenis summer autumn sejak tahun 2017. 

"Kubis manis, summer autumn. (Keunggulannya) Dari segi berat lebih berat kubis tawar terus varietas ini yang paling diminati di Taiwan. Saya ekspor sejak tahun 2017," ungkapnya ketika ditemui awak media di gudang yang terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kamis (3/9/2020). 

Andre pun memberikan alasan mengapa Taiwan menjadi target sasaran ekspor kubis manis. Menurutnya, di Taiwan peminat sayuran lebih banyak. 

"Saya jual ini dengan harga Rp 3.800 per kilo ke Taiwan. Saya per harinya kalau kubis manis ini, panen sekitar 30 ton per hari," bebernya. 

Dengan jumlah panen kubis manis sekitar 30 ton tersebut, dalam satu minggu, Andre dapat melakukan pengiriman ekspor kubis manis ke Taiwan sebanyak tujuh truk kontainer. 

"Saya seminggu untuk ekspor kubis manis ini 7 kontainer. Berarti 175 ton. Satu kontainer kubis manis ini isinya 22 ton," sebutnya. 

Dari pengiriman kubis manis dan beberapa sayuran yang di ekspor ke Taiwan, Andre mengaku dirinya dapat meraup omzet setiap minggunya hingga lebih dari Rp 2 miliar. 

"Per minggu omzetnya sekitar 2 koma miliar. Kan saya kirim tiga varietas kubis, sawi putih, sama selada. Selada romaine, lettuce, andewi. Paling diminati kubis manis, pokoknya yang saya kirim ini paling diminati Taiwan," jelasnya. 

Andre pun juga menyebutkan beberapa lokasi ditanamnya tiga varietas sayuran. Untuk kubis manis, ditanam di Tulungagung, untuk kubis tawar ditanam di Jember, dan sawi putih ditanam di Jurang Kuali, Batu. 

Ketiga komoditas itu lalu dikumpulkan di gudang yang bertempat di Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. 

Andre mengungkap alasan mengapa lebih memilih kubis manis asli Tulungagung untuk di ekspor ke Taiwan dari pada kubis manis asli Kabupaten Malang. Menurutnya, perbedaan kontur tanah dan kesuburan tanahnya berpengaruh pada kualitas hasil panen.

"Memang yang paling bagus keluaran kubis manis dari sana (Tulungagung, red). Kontur tanah (Tulungagung, red) lebih datar, lebih rendah. Kalau kubis manis ini kan yang cocok untuk daerah panas," bebernya. 

Baca Juga : Ini Dampak TKI asal Tulungagung jika Malaysia Larang WNI Masuk ke Negaranya

Sebelumnya, Andre pun pernah melakukan percobaan untuk menanam kubis manis di tanah Poncokusumo, Kabupaten Malang. Akan tetapi hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan.

"Beda hasilnya, sudah pernah (ditanam disini, red). Ya pokoknya bedanya pertumbuhannya tidak bisa seperti di Tulungagung lah," ujarnya. 

Hingga saat ini, perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang disampaikan oleh Andre masih belum ada yang terealisasi. "Sejauh ini belum ada (perhatian dari Pemkab Malang, red)," ucapnya. 

Sementara itu, Andre pun mengungkapkan alasan mengapa lebih memilih untuk mengekspor kubis manis tersebut, karena harga kubis manis di pasar lokal saat ini sedang anjlok. 

"Kalau pasar lokal sekarang ini lagi hancur, anjlok harganya. 1.000-1.200 untuk kubis manis. Kalau (yang di ekspor, red) ke Taiwan kan kita milih ukurannya yang besar, 1 kilo sampai 1,8 up, untuk pasar lokal kan dia yang kecil-kecil," terangnya. 

Selain itu perawatan untuk kubis manis sendiri terbilang sulit. Kontur tanah yang harus lebih rendah dan cuaca yang lebih panas merupakan dua syarat utama untuk menyuburkan kubis manis. Dan juga tambahan pupuk, obat pestisida dan obat fungisida yang berbeda dengan penggunaan untuk kubis tawar biasa. 

Andre pun mengatakan hingga saat ini, untuk eksportir sayuran ke Taiwan dirinya berani mengklaim yang asli Jawa Timur hanya dia seorang. 

"Soalnya gini, putra daerah yang ekspor dari Jawa Timur ini cuma saya," pungkasnya. 

Untuk yang lain lebih didominasi oleh pengusaha-pengusaha di luar Jawa Timur. Bahkan dikatakan oleh Andre bahwa terdapat pengusaha dari Taiwan juga yang melakukan usaha ekspor sayuran ini.

Topik
ekspor kubis Ngadas Poncokusumo andrea subhan

Berita Lainnya