Siswa SDN Sumberaji 2, Kecamatan Kabuh, Jombang terlihat belajar di atas sebuah makam. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Siswa SDN Sumberaji 2, Kecamatan Kabuh, Jombang terlihat belajar di atas sebuah makam. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Sekolah online atau dalam jaringan (daring) tidak semuanya bisa dinikkmati pelajar di lokasi nyaman. Bahkan, tak sedikit yang harus mengikuti sekolah daring ini di tempat yang tak lazim. 

Seperti halnya yang dilakukan para pelajar di SDN Sumberaji2, Desa Sumberaji, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Mereka belajar di atas makam. Pilihan untuk mengikuti sekolah daring di atas nisan itu karena di lokasi itulah ditemukan sinyal jaringan internet.  

Baca Juga : Zona Kuning Kini Boleh Sekolah Tatap Muka, dengan Catatan...

Untuk mencapai lokasi daerah bersinyal itupun tidak mudah. Mereka harus berjalan menaiki perbukitan dengan medan tanah berbatu di desa setempat. 

Kisah haru itu dialami Salsa Bila Dwi Azizah (12). Siswi kelas 6 SDN Sumberaji 2. Dia harus berjalan sejauh 300 meter dengan medan menanjak menuju puncak bukit desa setempat, tanpa didampingi orang tua. Di atas bukit itu, ada area makam umum Dusun Ngapus,  Desa Sumberaji. 

Salsa memang tidak sendirian. Dia bersama dengan lima teman lainnya. Mereka belajar di Makam Umum inilah, karena di lokasi itulah ditemukan jaringan internet. "Cari sinyal di kuburan, karena di rumah tidak ada sinyal," ucap Salsa saat diwawancarai di lokasi, Sabtu (8/8).

Tiba di lokasi makam di atas bukit, Salsa bersama lima temannya langsung mengeluarkan ponselnya masing-masing dan berburu sinyal. Keenam pelajar itu saling berpencar. Ada yang di samping pinggiran area makam, ada pula yang sampai ke tengah area makam. Aktivitas itu tidak hanya dilakukan pada pagi hari, terkadang pada sore hari mereka juga ke makam ini untuk melanjutkan belajar daring. 

Meski mereka belajar di lokasi tak lazim, makam, Salsa dan teman-temannya tidak takut. Tidak terlihat adanya ketakutan di raut muka para siswa-siswi ini. 

Pemandangan itu terlihat saat ditemui. Mereka terlihat serius sedang mengerjakan tugas tematik yang diberikan gurunya melalui online. "Gak takut. Ini tugasnya setiap hari. Jadi setiap hari sama teman-teman ke sini. Biasanya pagi, kadang sore," kata Salsa.

Berburu sinyal hingga ke makam di area perbukitan ini, sudah dilakukan Salsa dan teman-temannya sejak 4 bulan terakhir. Sulitnya menjalankan sekolah daring ini sangat dikeluhkan oleh para siswa.

Untuk itu, salsa berharap, sekolah tatap muka segera bisa diberlakukan secepatnya. Agar tidak lagi berburu sinyal seluler ke makam untuk mengerjakan tugas. "Tidak enak (sekolah online, red), karena nyari sinyalnya jauh. Lebih suka sekolah tatap muka, saya sudah kangen," ucapnya.

Baca Juga : Siswa Belajar Tatap Muka, Pemkot Blitar: Ketika Sudah Masuk Zona Hijau

Sementara, Kepala SDN Sumberaji 2 Surati, mengakui adanya kendala sinyal untuk siswanya saat sekolah daring. Ia juga mengetahui bahwa siswa-siswinya kerap mencari sinyal ke area makam di perbukitan untuk belajar daring.

Oleh karena itu, pihak sekolah memberikan kelonggaran waktu bagi siswa untuk mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru. "Anak-anak yang daring, harus mencari sinyal dulu ke makam. Tugas yang diberikan hari ini, tidak bisa dikumpulkan langsung hari ini. Jadi bisa dikumpulkan besok," ujarnya saat ditemui di sekolah.

Surati mengatakan, sekolah tatap muka di masa pandemi covid-19 ini belum bisa ia gelar. Ia hanya bisa memfasilitasi guru mendatangi siswa ke rumah untuk memberikan tugas. 

"Tatap muka cuman sebentar memberi tugas tadi. Setelah itu anak-anak karena harus didampingi orang tua, setelah diberi tugas maka kita kembali ke sekolah. Baru kita nunggu anak-anak mengembalikan tugasnya ke sekolah, ke gurunya masing-masing," kata Surati.

Melihat kondisi sekolah daring yang dirasa menyulitkan siswanya itu, Surati berharap pandemi covid-19 berlalu dan kembali bisa menggelar sekolah secara tatap muka. Ia merasa kasihan melihat siswanya setiap hari harus belajar di makam. "Saya dan teman-teman berdoa semoga pandemi ini segera berakhir, biar anak-anak bisa belajar maksimal sesuai yang ada di kurikulum itu. Karena sudah banyak wali murid yang mengeluh," pungkasnya.(*)