Salah satu warga yang takut melintas di jembatan gantung dibantu oleh penjaga jembatan (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Salah satu warga yang takut melintas di jembatan gantung dibantu oleh penjaga jembatan (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Jembatan Lembupeteng di Tulungagung ditutup selama 2 bulan. Penutupan ini dilakukan untuk perbaikan jembatan yang sudah berusia puluhan tahun itu. Namun penutupan jembatan ini justru menimbulkan pekerjaan baru bagi sebagian orang.

Pasalya pascapenutupan jembatan, pengguna jalan yang hendak melewati jembatan ini harus memutar arah atau mencari jalan alternatif lainnya, seperti jembatan gantung, jembatan kecil di Kutoanyar, jembatan Sembung dan jembatan Plengkung.

Baca Juga : Ada Staf Positif Covid-19, Kantor Protokol dan Dinkes Kabupaten Blitar Ditutup

Mereka yang mendapatkan rejeki dari penutupan jembatan Lempupeteng adalah mereka yang mengatur lalu lintas di jembatan-jembatan alternatif ini.

Seperti Suriadi, warga RT 5 / RW. 1 Dusun Kalituri Desa Waung Kecamatan Boyolangu. Dari penuturan pria yang akrab disapa Adi ini, penghasilan dari pengguna jalan yang memanfaatkan jembatan gantung bisa mencapai jutaan setiap harinya. “Kalau sehari bisa sejuta lebih,” ujar Adi.

Pengatur jembatan berasal dari pemuda sekitar. Mereka berjaga secara bergiliran. Mulai dari jam 6 pagi hingga jam 12 siang, lalu disambung jam 12 hingga jam 6 sore dan terakhir jam 6 sore hingga sekitar jam 12 malam atau semampu mereka. Mereka tak mematok tarif resmi, warga memberi secara sukarela.

Dari pemasukan pengguna jembatan ini, mereka mendapat upah mulai dari 40 ribu hingga 50 ribu tiap harinya. Ketua RT setempat, Totok Hariyanto menceritakan ikhwal adanya pemuda yang menjaga jembatan ini. Jika tidak diatur terkadang terjadi konflik antar pengguna jembatan. 

Pengguna jembatan dari kedua arah tidak mau mengalah, padahal lebar jembatan hanya cukup untuk 1 kendaraan saja. “Ada kejadian gaduh, terus warga sekitar sini terjun mengatur jembatan,” ujar pria yang akrab disapa Totok itu.

Totok juga menjelaskan uang hasil pengaturan ini, selain digunakan untuk membayar warga yang mengatur jembatan, sebagian digunakan untuk kas RT. Kas RT ini sebagian juga digunakan untuk perbaikan jembatan yang rusak. “Itu blabak (papan) buat nutup lubang,” terang Totok.

Baca Juga : Dilaporkan Terkait Postingan 'IDI Kacung WHO', Jerinx SID Kini Dibidik Polisi

Totok mengakui kondisi jembatan memang agak berbahaya untuk dilewati, maka dari itu arusnya diatur oleh warga.

Bahkan jika terlalu banyak motor yang melintas, jembatan kan bergoyang. Tak jarang pengguna jalan takut untuk melintas sehingga dibantu oleh penjaga jembatan. “Kalau takut, biasanya dibantu oleh penjaga jembatan,” pungkasnya.

Sementara itu salah satu pengguna jembatan, Ayu warga Kelurahan Kedungsoko mengaku terbantu dengan adanya penjaga jembatan ini. Warga yang melintas jadi tidak berebut untuk menggunakan jembatan. “Jadi tidak berebut sehingga tidak terjadi konflik,” ujar Ayu.