Camat Kedungwaru Hari Prastijo (Foto: Anang Basso/ TulungagungTIMES)
Camat Kedungwaru Hari Prastijo (Foto: Anang Basso/ TulungagungTIMES)

Gegernya salah alamat Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di Desa Rejoagung Kecamatan Kedungawaru langsung mendapat respon dari Camat setempat. 

Mendapati informasi itu, camat Kedungwaru Hari Prastijo langsung memanggil Kepala Desa Rejoagung, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan dan pihak Bank Negara Indonesia (BNI) 46 selaku pembuat kartu bagi masyarakat kategori miskin itu.

Baca Juga : Edukasi Masyarakat, Ketua LKKNU Banyuwangi: Adminduk Penting

"Setelah kita klarifikasi kepada Kepala Desa dan Pendamping TKSK, ternyata Endang diduga mengambil 2 kartu KKS. Keduanya atas nama Srini," kata Camat Kedungwaru, Hari Prastijo melalui sambungan seluler, Kamis (30/07/2020).

Yoyok, sapaan akrab dari Hari Prastijo, menyayangkan sikap pihak BNI yang dirasa kurang teliti, karena 1 orang dapat mengambil 2 KKS sekaligus.

"Harusnya pihak BNI lebih berhati-hati dalam memberikan KKS kepada seseorang meskipun dengan membawa surat kuasa," jelasnya.

Hasil klarifikasi dengan pendamping TKSK, lanjut Yoyok, pihak BNI telah mengakui kesalahannya dan meminta kepada Pemerintah Desa Rejoagung bersama Pendamping untuk mengajak Endang ke BNI untuk memberikan penjelasan agar masalah tersebut segera selesai.

Selain itu, menurut Yoyok, Endang harusnya tidak usah kowar-kowar terlebih dahulu, sebelum meminta penjelasan ke Pemerintah desa.

"Ini sudah masuk ranah pidana, nanti bisa ditangani pihak polsek atau polres," tegasnya.

Sebelumnya, penerima Dana Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Perluasan dampak Covid-19 mendatangi kantor Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru. Pasalnya, ada 2 nama yang sama dalam satu Desa pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) program BPNT dan dianggap salah alamat.

Menurut keterangan Endang, bahwa di Desa Rejoagung ada dua nama Srini, yakni Srini yang beralamat di Dusun Kebonagung yang merupakan ibunya, dan Srini yang beralamat di Dusun Sukorejo.

Sebulan yang lalu, Srini kebonagung atau ibu Endang mendapat undangan untuk mengambil KKS program BPNT dan dikuasakan kepadanya.

Namun, waktu pengambilan bantuan, Endang dipanggil oleh Kepala Desa Rejoagung Mukaji dan diberitahu bahwa KKS yang ia bawa itu adalah milik Srini yang beralamat di dusun Sukorejo.

"Mohon maaf bu, KKS ini buka punya Srini ibu anda, melainkan punga Srini Sukorejo," cerita Endang menirukan kata Kades.

Baca Juga : Bondowoso Langka Pupuk Bersubsidi, Ini Penyebabnya!

Merasa sebagai bagian dari keluarga yang punya hak, dirinya sempat berdebat dengan Kades. Ia tetap ngotot dan yakin bahwa KKS tersebut adalah milik ibunya, tapi karena yang bilang adalah Kades akhir ia menyerahkan KKS tersebut.

"Yang ngurus ke Bank kan ibu saya dan saya yang mengantar. Tapi karena yang bilang kepala desa saya nurut," jelasnya.

Selang satu bulan, Endang merasa tidak tenang dan risau, akhirnya Selasa (28/07/2020) kemarin dirinya mendatangi Kantor Desa untuk meminta kejelasan kembali.

Untuk meluruskan, pihak desa juga memanggil tim dari BNI dan setelah dilakukan pengecekan dan ternyata KKS tersebut memang benar milik Srini Kebonagung (ibunya Endang).

"Akhirnya kartunya dikembalikan kepada keluarga kami karena benar itu milik ibu," ungkapnya, Rabu (29/07/2020) malam.

Endang tidak mempermasalahkan sembako 4 bulan yang harusnya menjadi haknya, telah diambil oleh Srini Sukorejo.

"Yang penting KKS sudah dikembalikan, dan keyakinan saya benar," tambahnya.

Sementara itu Kepala Desa Rejoagung, Mukaji, kembali belum bisa dimintai keterangan, karena beberapa kali dihubungi lewat seluler belum merespon, dan ketika didatangi di kantor juga belum bisa ditemui.