Wakil Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Tulungagung, Galih Nusantoro  (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Wakil Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Tulungagung, Galih Nusantoro (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Masa tanggap darurat Covid 19 akan berakhir pada 31 Juli 2020 mendatang. Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid 19 Tulungagung akan melakukan evaluasi terhadap sejumlah kebijakan. Termasuk kebijakan penerapan jam malam.

“Nanti tim Gugus akan melakukan evaluasi, apakah beberapa langkah ini tetap diperlukan atau ada kelonggaran,” ujar Wakil Jubir GTPP Tulungagung Galih Nusantoro, Selasa (28/7/20) malam.

Baca Juga : Bupati Tulungagung Hadiri Puncak Hari Koperasi Nasional ke-73 di Wisata Ori Green Sendang

Saat ini jam malam masih diberlakukan di Tulungagung. Jika sebelumnya jam malam untuk memutus penularan Covid 19, kini jam malam untuk mempertahankan kondisi Tulungagung yang sudah masuk jadi zona kuning.

Selain jam malam, GTPP juga akan mengambil kebijakan untuk pemulihan ekonomi. Dimungkinkan, saat berakhir masa tanggap darurat, warung kopi akan diperbolehkan buka seperti sedia kala, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Nanti jika dicabut jam malam, maka seluruh sektor enggak berlaku jam malam, baik warung maupun lainya,” kata Galih.

Disinggung adanya second wave (gelombang kedua) penularan Covid-19 jika jadi diberlakukan pencabutan jam malam, Galih mengatakan gelombang kedua bisa terjadi kapan saja.

“Second wave ini bisa terjadi di mana saja dan dengan cara apa saja, yang jelas masyarakat harus tahu berbuat menghadapi Covid-19,” papar Galih.

Baca Juga : Webinar Bersama Unisba, Bupati Rijanto Ajak Milenial ikut Kembangkan Sektor Pertanian

Jumlah pasien positif Tulungagung kini mencapai 254 orang. Dari jumlah itu, 239 sudah dinyatakan sembuh atau persentasenya mencapai 94 persen.

Penularan Covid-19 terus bertambah pasca penetapan Tulungagung menjadi zona kuning. Namun penularan ini masih terkendali, lantaran jumlahnya yang tidak signifikan. Hanya meningkat 2 atau 3 setiap hari dan dibarengi jumlah kesembuhan yang hampir sama.

“Terkendali, ketika ada suatu kasus, level duanya tidak ada,” ujarnya. Terkendalinya kasus ini juga menjadi salah satu alasan GTPP untuk melakukan evaluasi.