SDN Sobontoro 1 dan 2 yang dimerger jadi 1 sekolah (Joko Pramono for Jatim TIMES)
SDN Sobontoro 1 dan 2 yang dimerger jadi 1 sekolah (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung melakukan merger atau regrouping 28 sekolah SD menjadi 14 sekolah. Sekolah-sekolah itu kebanyakan berada di 1 halaman. Merger dilakukan untuk efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar mengajar (KBM).

Plt Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung, Hariyo Dewanto Wicaksono mengatakan sudah mengusulkan regrouping ke 28 sekolah itu ke Pemerintah Daerah (Pemda) Tulungagung. "Alasannya ya untuk efisiensi dan efektivitas KBM," katanya ditemui di pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Bina Siswa, SMP Negeri 1 Giri Gandeng TNI, Polri, Dinkes, KUA

Merger juga mempertimbangkan jumlah siswa dalam satu sekolah yang kian menyusut jumlahnya dari tahun ke tahun. Bahkan ada SD yang jumlah muridnya hanya 50 siswa. Keputusan regrouping juga untuk efisiensi bantuan operasional sekolah (BOS). Mengingat, dengan jumlah siswa yang di bawah 50 siswa berat di ongkos operasional. "Ya, ada sekolah yang siswanya sedikit," tegasnya.

Yoyok sapaan akrab Hariyo Dewanto Wicaksono ini menyebut sekolah yang di-regrouping tersebar di 7 kecamatan. Yakni di Kecamatan Kauman, Gondang, Boyolangu, Tanggunggunung, Bandung, Pakel dan Sendang. "Ada yang daerah pinggiran, seperti Geger (Kecamatan) Sendang dan Ngrejo (Kecamatan ) Tanggunggunung," tuturnya.

Pria ramah ini mengaku proses penggabungan membutuhkan waktu yang tak sedikit. Karena dalam hal ini ,tidak hanya merubah data lembaga saja, tapi juga aset, dokumen, hingga tenaga pendidik. Lantas, sebelum diusulkan, pihaknya melakukan koordinasi lebih dulu dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat, komite, kepala sekolah juga desa setempat. "Ya pastilah ada rapat koordinasi dulu, termasuk rapat melibatkan desa setempat," terangnya menegaskan.

Soal guru atau tenaga pendidik yang sekolahnya dimerger, kata Yoyok akan ditata lebih dulu. Bisa jadi juga dijadikan dalam satu manajemen sesuai kebutuhan sekolah. Namun jika dalam sekolah regrouping tersebut sudah penuh terisi guru ASN, maka bisa ditata ulang dengan memindahkannya ke sekolah lain beda atau dalam satu kecamatan mengingat kebutuhan guru SD di Tulungagung masih terbilang kurang.  "Kalau soal tenaga pendidik nanti ditata. Kan kebutuhan guru SD masih kurang, mengingat banyak yang pensiun juga," terangnya.

Yoyok menargetkan regrouping ini selesai sebelum pelaksanaan tahun ajaran baru tahun 2021/2022. "Karena saat ini masih pengajuan ke bapak (Bupati,red), kemungkinan besar realisasi tahun depan ajaran tahun 2021/2022," terangnya.