Angga saat menyervis sepeda di bengkelnya (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Angga saat menyervis sepeda di bengkelnya (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Selama masa pandemi covid 19 banyak masyarakat Tulungagung yang Work From Home (WFH). Pelajar juga diliburkan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh warga Tulungagung untuk bersepeda. Imbasnya penjualan sepeda mengalami peningkatan. Selain penjualan sepeda, bisnis jasa servis sepeda juga meraup untung berlipat.

Mardyan Angga Pratama (29) salah satunya. Pria ini sudah dua tahun menggeluti dunia jasa servis sepeda olahraga kelas menengah ke atas.

Baca Juga : Didenda KPPU Rp 30 Miliar, Ini Tanggapan Grab hingga Hotman Paris sebagai Kuasa Hukum!

Bisnis ini digelutinya dengan memanfaatkan emperan depan rumah orang tuanya di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu,

"Tren peningkatan (jasa servis) terutama setelah 'lokdon' pertama (ramai penerapan PSBB atau pembatasan sosial berskala besar yang tahap pertama)," tutur Angga, demikian pemuda 29 tahun ini biasa disapa, sambil tangannya terus merakit sepeda balap jenis "speed allroad".

Di bengkelnya, berjajar beraneka jenis sepeda, mulai sepeda balap, sepeda gunung, sepeda lipat, hingga sepeda MTB.

Dilihat dari merek dan bahan sepeda itu, sepeda yang ditanganinya bukanlah sepeda sembarangan. Beberapa di antaranya berharga diatas Rp 100 juta.

Terdapat berbagai merek impor dengan harga puluhan juta hingga Rp 150 juta lebih. Tentu untuk sepeda dengan harga fantastis itu, harga onderdilnya mencapai belasan hingga puluhan juta.

"Ini orderan rakitan sedang full (penuh). Dulu sebelum pandemi, permintaan jasa rakit begini sehari berkisar antara dua hingga tiga unit. Kadang juga cuma 1 sehari. Tapi sekarang sehari bisa empat hingga enam-tujuh unit per hari," ujarnya.

Untuk melakukan servis sepeda, dirinya tak sendiri. Angga dibantu ayahnya Jayadi yang juga telah menggeluti bisnis servis sepeda.

Namun banyaknya permintaan jasa servis hingga rakit sepeda memaksa Angga untuk bekerja lembur hingga malam hari, terutama untuk sepeda kelas premier yang membutuhkan penanganan ekstra.

Baca Juga : OJK Malang Sebut Pemberian Restrukturisasi Kredit Tembus 157 Ribu Debitur

"Selain butuh penanganan ekstra karena menyangkut onderdil yang super mahal, proses pengerjaannya butuh ketelatenan dan keahlian khusus. Bapak juga bisa, namun untuk pengerjaan tertentu, konsumen meminta penanganan khusus (dari saya)," katanya.

Dari hasil jasa servis itu, Angga mampu meraup omzet puluhan juta. Misal untuk rakit atau servis total sepeda gunung biasa, Angga mematok harga Rp 100 ribuan per unit.

Sedangkan untuk servis total atau rakit sepeda premium dengan harga puluhan juta hingga ratusan juta, biaya jasa yang dipatok Angga biasanya lebih tinggi. Antara Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribuan per unit.

"Kadang saya malah tak mematok harga ke pelanggan. Sukarela saja untuk pelanggan yang sudah biasa menggunakan jasa saya," katanya.

Namun jika dirata-rata per hari empat unit saja, dikalikan 26 hari dan jasa paling rendah Rp 100 ribu, Angga diperkirakan bisa meraup penghasilan antara Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per bulan.

Omzet pendapatan itu jauh di atas hasil penjualan jasa layanan servis dan rakitan sebelum pandemi yang berkisar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per bulannya.