Wali Kota Malang Sutiaji. (Foto: Dokumentasi MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji. (Foto: Dokumentasi MalangTIMES).

Banyak orang tua khawatir tentang pemberlakuan new normal atau kelaziman baru pada sektor pendidikan.

Anak-anak dinilai lebih rentan terpapar Covid-19 saat berkegiatan di luar rumah.

Baca Juga : Pemprov Jatim: Masuk Sekolah Mulai 2 Juni Pembelajaran Masih Dilakukan di Rumah Saja

Termasuk di Kota Malang yang mulai menjalankan masa transisi menuju new normal life usai pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Malang Raya.

Masa transisi tersebut dijalankan secara efektif hari ini (Senin, 1/6/2020) dan pembatasan-pembatasan aktivitas di tempat umum memang mulai dilonggarkan.

Terpantau sejak Minggu (31/5/2020) sejumlah area publik seperti pusat perbelanjaan atau mal, perhotelan, restoran atau cafe, tempat wisata dan yang lainnya sudah bersiap membuka kembali akses bagi pengunjung.

Tetapi, bukan berarti masyarakat bebas begitu saja tanpa menerapkan aturan protokol kesehatan Covid-19.

Selain pusat perbelanjaan, salah satu yang cukup menjadi perhatian masyarakat luas berkaitan dengan aktivitas di sekolah.

Hingga saat ini, bisa dibilang masyarakat masih cukup khawatir apabila sekolah kembali dibuka.

Namun di sisi lain, dilema yang muncul yakni terkait kualitas pembelajaran jarak jauh dari rumah secara daring atau online yang juga dinilai belum sepenuhnya efektif.

Hal inilah, yang kiranya menjadikan perhatian khusus bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang nantinya dalam menghadapi transisi new normal.

Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, di masa transisi new normal, rencananya sekolah sudah mulai masuk sesuai jadwal dalam kalender pendidikan.

"Tanggal 1 Juni sudah mulai masuk tapi pembelajaran di rumah, ini akan kami pantau aktivitasnya," jelas Sutiaji.

Meskipun masuk, tetap masih dengan menerapkan sistem belajar mengajar dari rumah atau melalui media daring.

Skema ini dilakukan dengan catatan akan dilakukan pemantauan dalam aktivitas pembelajaran secara daring tersebut.

"Proses pembelajaran di rumah itu nanti sambil kita tunggu proses selanjutnya," lanjutnya.

Tak dapat dipungkiri, menurut Sutiaji, sistem belajar melalui daring atau belajar dari rumah belum bisa secara maksimal diterapkan di Kota Malang.

Sebab, masyarakat pada umumnya masih belum terbiasa.

Karenanya, ada alternatif yang tengah dipersiapkan oleh Pemkot Malang.

Konsepnya, nanti tak jauh berbeda dengan pembatasan aktivitas masyarakat di tempat umum.

New normal di pusat perbelanjaan atau mal misalnya, harus membatasi jumlah pengunjung sekitar 40 persen dari kapasitas hari biasa.

Nah, untuk sekolah juga akan diberlakukan hal yang sama.

Baca Juga : Kuota Khusus 3.817 Kursi PPDB SMA-SMK Negeri untuk Anak Tenaga Kesehatan Tangani Covid-19

Di samping itu, tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan menyediakan tempat cuci tangan, alat pengukur suhu dengan thermo gun, dan mewajibkan pemakaian masker.

Dalam satu sekolah setiap harinya juga akan diterapkan sistem separo kapasitas atau 50 persen dari jumlah siswa total yang akan masuk.

"Kebijakan sekolah kami masih usulkan alternatif untuk pelaksanaan separo dari kapasitas, 50 persennya. Hari ini misalnya kelas 6 dan kelas 1 yang masuk, besok gantian untuk kelas lainnya kelas 5 dan 2 dan seterusnya," imbuhnya.

Jika metode tersebut bisa dilakukan, harapannya para siswa siswi sekolah tetap teredukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan protokol Covid-19.

"Ketika belajar itu anak-anak diberikan edukasi kebersihan untuk protokol Covid-19 sambil nanti anak-anak ini bisa menyampaikan kepada orang di sekitarnya," ungkapnya.

Sehingga, meskipun masuk sekolah tapi protokol kesehatan tetap bisa diterapkan dengan baik.

"Orang tua juga menjaga, ketika anak sekolah harus dijaga kesehatannya, physical distancing-nya juga. Kalau ini diterapkan, paradigma saya seperti itu," terangnya.

Tetapi lagi-lagi, kebijakan membuka kembali sekolah masih sebagai alternatif sambil melihat kondisi di lapangan.

Apabila masyarakat dinilai masih khawatir, maka Pemkot Malang akan menunggu instruksi dari pemerintah pusat.

"Tapi, kalau masyarakat masih takut ya sambil menunggu pusat. Kalau Pak Menteri bilangnya diserahkan pada satgas daerah, tapi kita lihat nanti," katanya.

Akan tetapi, untuk persiapan penerapan pembukaan sekolah tetap harus memenuhi semua persyaratan.

Syarat-syarat itu dicantumkan dalam Peraturan Wali Kota (Perwal) nomor 19 Tahun 2020, tentang Pedoman Penerapan Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19.

"Sekolah ataupun instansi pendidikan yang belum bisa memenuhi syarat utama penerapan protokol kesehatan Covid-19 maka tetap dilarang beroperasional sampai semua ketentuan terpenuhi," tandasnya.