Puluhan hektare lahan sawah dan jagung di Kabupaten Tulungagung rusak akibat diserang hama tikus. Serangan hewan pengerat ini dapat mengakibatkan petani padi maupun jagung mengalami gagal panen.
Dari data yang dimiliki oleh Dinas pertanian Kabupaten Tulungagung, luas lahan padi dan jagung yang diserang tikus mencapai 41,41 hektare, terdiri dari 33,87 haktare lahan padi, sedangkan jagung seluas 7,54 haktare. Dengan tingkat kerusakan ringan, sedang dan berat.
"Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mendominasi ya hama tikus. Tak hanya menyerang padi, sekarang juga menyerang jagung," jelas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Suprapti melalui Koordinator POPT, Gatot Rahayu
Dari pemantauan yang dilakukan, hama tikus sudah menyerang sejumlah tanaman padi di daerah di Tulungagung, seperti di kecamatan Tulungagung Kota, Pagerwojo, Karangrejo, Gondang dan Kauman. Sedangkan untuk jagung di Boyolangu, Sumbergempol, Karangrejo, Ngunut, Kalidawir dan Rejotangan.
Serangan hama tikus tersebut, diduga disebabkan pola tanam yang tak serentak.
"Hampir menyeluruh. Dengan tingkat kerusakan ringan, sedang, dan berat," jelasnya
Gatot mengakui serangan tikus dari tahun ke tahun semakin merajalela. Bahkan kata dia hama tikus itu ibarat buah simalakama. Dimana, predaktor tikus, seperti ular, burung banyak diburu, sedangkan satu sisi terkait dengan pola tanam yang serempak karena ketersediaan air yang ada mengundang tikus ini menyerang. Selain itu, juga dipengaruhi topografi yang tidak sama. Itu juga menguntungkan semua OPT.
"Dan kedua, faktor tidak ada kesadaran mengendalikan. Ini yang mempengaruhi serangan tikus tetap merajai. Mereka baru sadar ketika petugas mulai ngoprak-ngoprak untuk bersama-sama mengendalikan," jelasnya
Berbagai upaya telah dilakukan untuk membasmi hama ini. Mulai memsang jarring di sekitar sawah, pemberian obat dan pengembangbiakan musuh alami tikus serta grobyokan yang dilakukan bersama dibantu petugas serta dari TNI.
Para petani tidak direkomendasikan menggunakan jebakan tikus dari listrik. Sebab jika lalai atau lupa, bisa mencelakai pemilik sawah atau bahkan orang lain.
"Pasti. Kita terus melakukan koordinasi dengan para petani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) guna mengetahui perkembangan terbaru tentang serangan hama," tandasnya.
