Usaha Bubut Disoal Tetangga, Pemdes Ngunut Akui Tak Tahu tentang Izin Usahanya | Tulungagung TIMES

Usaha Bubut Disoal Tetangga, Pemdes Ngunut Akui Tak Tahu tentang Izin Usahanya

Oct 04, 2017 19:28
Sugiono, Kasun Bodok Ngunut saat cek lokasi usaha penggergajian kayu yang disoal tetangga (Foto : Anang Basso/TulungagungTIMES)
Sugiono, Kasun Bodok Ngunut saat cek lokasi usaha penggergajian kayu yang disoal tetangga (Foto : Anang Basso/TulungagungTIMES)

Pemerintah Desa Ngunut segera merespons perselisihan yang terjadi di Dusun Bodok Lingkungan 1 RW 1 RT 1 Desa Ngunut Tulungagung.

Kepala Dusun (Kasun) Bodok mengaku tidak tau apakah perusahaan kayu yang dikeluhkan warganya sudah memegang izin atau ilegal. 

"Soal izin, saya belum tahu, namun masalah ini kita carikan jalan keluar. Di antaranya, kita sarankan membuat tembok agar debunya tidak mengganggu tetangga, ini sudah dikerjakan," kata Sugiono Kasun Bodok. 

Kasun mengaku jika selama ini desa sudah menengahi permasalahan yang dihadapi antara pengusaha dan tetangga, namun belum menemukan jalan keluar yang pas. 

"Ini peredam debu dikerjakan, nanti peredam suara menyusul. Kita harap bisa bertahap," kata Sugiono. 

Sebelumnya, diduga tidak memiliki ijin dan mengganggu lingkungan, perusahaan pembuatan kerajinan dan penggergajian kayu milik Mursalin RT 1 RW 1 Lingkungan 1 Bodok Ngunut, di soal warga sekitar.

Warga merasa bising dan terganggu dengan debu penggergajian akibat aktivitas yang dilakukan tiap hari. 

"Sudah tujuh tahun, kami tiap pagi sampai sore tidak kenal hari libur selalu dibisingkan suara mesin dan kotoran debu dari usaha tetangga ini," kata Muhajir (52) di rumahnya. 

Suami dari  Siti Rodiyah (45) tersebut merasa telah bersikap sangat sabar menghadapi akibat dari yang ditimbulkan perusahaan itu, namun lama-lama dirinya tidak tahan juga saat beberapa kali berjanji untuk pindah, namun ternyata hanya kebohongan. 

"Lihat rumah saya hingga retak, dia bilang mau pindah ke utara tapi hingga saat ini hanya janji," ungkapnya. 

Merasa kehabisan kesabaran, Muhajir menggalang tanda tangan penolakan usaha yang dianggap belum punya ijin itu lalu mengirimkan ke desa dan pihak terkait dengan bantuan LSM setempat. 

"Saat di pertemukan di Balaidesa, dia merasa apa yang dilakukan sudah benar. Saya sebagai tetangga ingin masalah di bicarakan, namun karena merasa tidak salah dan saya mau membawa naik dia bilang monggo, ya saya naikkan ke pihak berwajib," paparnya. 

Muhajirpun mengadukan masalah yang di alami ke Satpol PP dan DPM PTSP Kabupaten Tulungagung untuk mendapatkan haknya sebagai masyarakat yang tidak ingin terusik dengan usaha yang di anggap masih ilegal. 

Sementara itu ayah Musalin, Marjuni (79) mengaku telah beberapa kali melakukan upaya pembicaraan dengan Muhajir, namun tidak pernah ada titik temu. 

"Usaha anak saya mau pindah ke utara, karena tempat kurang luas anak saya mau membeli tanah yang masih milik Muhajir, namun bukannya dapat sambutan bagus, tapi dia mau asalkan menukarkan tanah dengan tanah di tempat lain.  Padahal niat kami minta perluasan itu beli," kata Marjuni. 

Pihak keluarga akhirnya membangun tembok tinggi agar debu penggilingan tidak masuk ke Muhajir. 

"Ini akan kita tembok tinggi, nanti jika memang masih tidak terima maka saya tidak tau lagi apa maunya," ungkapnya. 

Marjuni tidak membantah jika suara yang di timbulkan dari usahanya cukup keras dan mengganggu. Namun sebagai tetangga, harusnya di cari solusi dengan pelan - pelan sesuai kemampuan usahanya agar bisa di atasi secara bertahap. 

"Ini akan kita musyawarahkan lagi, nanti setelah di tembok apa yang perlu kami lakukan langkah lain. Anak saya nanti yang mengurus," pungkasnya. 

Topik
Usaha Bubut tembok retak

Berita Lainnya