Mbah Hasan Mimbar. Dialah sosok ulama penyebar agama Islam pertama yang langsung memperoleh mandat dari Pakubuwono II melalui Bupati pertama Tulungagung Eyang Kiai Ngabei Mangundirono. Makam Mbah Hasan Mimbar berada di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.
“Hasan Mimbar sejak 1727 dapat perintah dari Mataram, yaitu Pakubowono II, untuk menyampaikan ajaran Islam di Tulungagung atau di Ngrowo pada waktu itu. Perintahnya adalah untuk menikahkan, menjalankan hukum waris dan sebagainya,“ tutur Muhammad Ali Sodiq selaku penerus dan anak keturunan Mbah Hasan Mimbar.
Bupati Tulungagung pertama Eyang Kiai Ngabei Mangundirono memanggil dimas atau kakak terhadap Mbah Hasan Mimbar. Jadi, secara nasab keluarga, bupati pertama Tulungagung itu adik Mbah Hasan Mimbar. Lebih tua Mbah Hasan Mimbar.
“Hasan Mimbar mempunyai tanah perdikan pemberian Mataram, yaitu Majan, sekitar 95 hektare. Akhirnya, Mbah Hasan Mimbar wafat, kemudian pimpinan diteruskan oleh putra-putranya, baik pernikahan, sistem pemerintahan, dan sistem administrasinya,” ungkap Sodiq.
Mbah Hasan Mimbar mempunyai generasi yang banyak. "Ya Majan ini adanya. Sampai beberapa tahun berikutnya situasi tanah itu tidak kondusif. Akhirnya dihapus menjadi tanah biasa pada tahun 1979 sampai sekarang," tutur Sodiq.
Mbah Hasan Mimbar punya peran besar dalam mensyiarkan Islam di Tulungagung. Termasuk pensyiar Islam pertama karena waktu itu bupati pertama yang memberikan perintah untuk mensyiarkan Islam. “Jadi jelas, Mbah Hasan Mimbar adalah ulama atau tokoh yang mensyiarkan agama Islam di Tulungagung atas dasar perintah Mataram,” tukas Sodiq.
Tanah Majan ini dipercaya memiliki posisi penting. Calon-calon aparat pemerintahan atau bupati banyak yang ke sini untuk meminta berkah doa restu pada sesepuh Majan dan meneladani ziarah ke makam Mbah Hasan Mimbar.
“Memang, di samping makam Mbah Hasan Mimbar juga disemayamkan makam bupati keempat, yaitu Mas Pringgodiningrat, makam Bupati kelima Joyoningrat, dan Bupati kesepuluh Pringgo Kusumo. Semua masih kerabat,” imbuh Sodiq.
Peninggalan yang paling fenomenal Mbah Hasan adalah pusaka pemberian kerajaan yang sekarang lebih dikenal dengan nama pusaka Kiai Golok. Selain itu, tiap tahun, di bulan Maulid di tempat ini rutin digelar grebeg Maulid yang ikon utamanya adalah pusaka Kiai Golok. (*)
