Seni menggambar di atas kulit atau tato, memang telah ada sejak dulu. Meski sebagian orang masih menganggap tato identik dengan hal negatif bukan sebuah hasil karya seni.
Kendati begitu, Agung Cahyo (29), seniman tato asal Dusun Krajan A, Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong, Jember, tetap menggeluti profesi ini.
Agung memilih jaur tato temporer, yakni tato yang bisa hilang dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Ini dilakukan Agung karena menyesuaikan dengan kultur masyarakat yang masih menilai negatif orang yang bertato.
"Saya sudah 10 tahun menekuni jasa tato, namun sampai saat ini belum ada perkembangan yang memuaskan," kata Agung, sapaannya, Selasa (2/2/2016) saat ditemui JEMBERTIMES di lapaknya.
Saban hari, dia mencoba peruntungan dengan menggelar lapaknya di Jalan Sukoreno, kecamatan setempat. Karena peminat yang relatif sepi, sehingga ayah satu anak ini juga menyelingi aktifitasnya dengan berjualan ascesoris.
Sepinya peminat tato di Kencong, ujar Agung, karena warga masih melihat tato sebagai barang yang tabu. Padahal tato kreasinya, merupakan temporer dan tintanya diklaim masih bisa digunakan beribadah.
"Ini tintanya masih bisa menyerap air, dan sah jika digunakan salat," paparnya.
Untuk setiap gambar, Agung mematok harga yang bervariasi, mulai Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu. Nilai itu tergantung dari ukuran gambar, tingkat kesulitan serta kualitas tinta yang dipilih pelanggan.
"Memang tintanya cuma satu warna, hitam. Namun kualitasnya berbeda-beda, serta mampu bertahan hingga satu bulan," imbuhnya.
Selain mangkal di lapaknya, Agung juga melayani panggilan jika ada pelanggan yang membutuhkan jasanya. "Biasanya cewek juga minta tato," ucapnya.
Salah seorang pelanggan, Sabil, mengatakan, sengaja membuat tato temporer di lengannya. Tato ini sebagai awal untuk membuat tato permanen. Karena jika langsung permanen waktu yang dibutuhkan untuk menggambar cukup lama.
Pemuda asal Desa Cakru, Kecamatan Kencong ini mengaku, tak masalah dengan penilaian orang. Karena bagi dia, tato merupakan seni lukis dengan media kulit.
"Hanya seni saja, karena banyak teman-teman saya yang juga memiliki tato," tandasnya. (*)
