Bandara Soetta Perketat Penumpang dari Luar Negeri Gegara Virus Nipah Merebak di Asia
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
27 - Jan - 2026, 06:39
JATIMTIMES - Ancaman penyebaran virus nipah yang kembali mencuat di kawasan Asia membuat otoritas kesehatan Indonesia meningkatkan kewaspadaan. Salah satu langkah antisipasi dilakukan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan memperketat pengawasan terhadap penumpang internasional yang masuk ke tanah air.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, mengatakan bandara terbesar di Indonesia itu telah menyiapkan berbagai skema deteksi dini untuk mencegah masuknya penyakit menular, termasuk virus nipah yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi.
Baca Juga : Virus Nipah Kembali Muncul di Asia, Ini Gejala dan Cara Ampuh Cegah Penularannya
“Kami melakukan deklarasi kesehatan kepada penumpang melalui aplikasi All Indonesia. Di dalam aplikasi itu, penumpang sebelum tiba di Indonesia diminta untuk isi salah satunya adalah kesehatan. Di situ diisi apakah saat ini penumpang ada gejala ini (virus nipah),” ujar Naning, Selasa (27/1/2026).
Melalui aplikasi tersebut, petugas dapat memantau kondisi kesehatan penumpang sejak sebelum mereka mendarat di Indonesia. Data yang diinput juga mencakup riwayat perjalanan, sehingga memudahkan petugas mengidentifikasi pelaku perjalanan dari negara-negara yang telah melaporkan kasus virus nipah.
“Begitu tahu itu, kalau ada dari negara-negara terjangkit, misalnya India, maka kita punya profil pesawat yang direct flight dari India ke Jakarta. Dari situ kita lihat apakah ada orang bergejala atau tidak. Kalau ada, nanti petugas akan naik untuk melakukan boarding,” jelas Naning.
Tak hanya mengandalkan deklarasi kesehatan digital, pengawasan juga diperketat di area kedatangan bandara. Sejumlah thermal scanner telah dipasang di pintu-pintu masuk untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang. Petugas juga melakukan observasi visual terhadap pelaku perjalanan yang datang dari negara berisiko, serta menyiagakan pos layanan kesehatan.
Selain manusia, perhatian juga diarahkan pada potensi penularan dari hewan. Naning menyebut lalu lintas hewan dari negara-negara terjangkit menjadi salah satu fokus pengawasan karena virus nipah diketahui dapat menular dari hewan ke manusia.
“Kami juga mewaspadai binatang yang masuk dari negara-negara terjangkit, misalnya kera, babi, dan kelelawar. Itu tentunya harus diwaspadai, dan tentunya dilakukan pemeriksaan kesehatan, karena pemeriksaan kesehatan hewannya itu, itu harus dilakukan juga,” terang Naning.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus atau gejala virus nipah yang masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia tetap dinilai memiliki potensi risiko. Pasalnya, sejumlah hewan yang menjadi inang virus tersebut juga hidup di wilayah Indonesia.
“Fatality rate 40-70 persen. Belum ada vaksin dan obat. Bila ditemukan penderita, pengobatan diberikan sesuai gejala yang timbul. Masyarakat mewaspadai hewan penular yang tengah terjangkit flu. Makan buah-buahan mentah agar dicuci bersih dan dikupas, bila menemukan buah bekas gigitan kelelawar dan lainnya, agar tidak di makan,” ungkap Naning.
Kewaspadaan di Indonesia sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran di kawasan Asia Tenggara. Dalam beberapa waktu terakhir, laporan kasus virus nipah kembali muncul di India, khususnya di wilayah West Bengal. Penyakit yang ditularkan oleh kelelawar buah ini menjadi perhatian karena hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin khusus.
Baca Juga : Rapimnas I IKAPJ Jadi Momentum Penguatan Jejaring Alumni dan Industri
Situasi tersebut juga berdampak ke negara lain di kawasan. Tailan misalnya, saat ini berada dalam status risiko tinggi wabah virus nipah. Pemerintah setempat menerapkan pengawasan tambahan bagi pelaku perjalanan dari India dan negara berisiko lainnya, termasuk memperketat skrining di bandara.
Mengutip laporan Bangkok Post, virus nipah dapat menular dari kelelawar ke manusia melalui konsumsi buah segar atau minuman yang terkontaminasi, terutama jus dari buah kurma segar.
Setelah itu, penularan juga dapat terjadi antarmanusia melalui kontak erat. Dengan karakter virus yang mematikan dan mudah menular, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko penyebaran. Masyarakat, terutama yang tinggal atau bepergian ke wilayah terdampak, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan saat menangani hewan, terutama hewan yang sakit atau saat proses penyembelihan. Selain itu, seluruh buah yang akan dikonsumsi perlu dicuci bersih dengan air mengalir dan dikupas sebelum dimakan.
Masyarakat juga diminta menghindari konsumsi buah yang terlihat rusak atau memiliki bekas gigitan kelelawar. Buah semacam itu sebaiknya langsung dibuang demi menghindari risiko terpapar virus.
Jika berada di wilayah yang terkonfirmasi terjangkit virus Nipah, kontak langsung dengan orang yang terinfeksi atau diduga terinfeksi juga perlu dihindari. Mengingat belum adanya obat dan vaksin, penerapan perilaku hidup bersih, kehati-hatian saat bepergian, serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran virus nipah di Indonesia.
