Mayat yang Tak Mau Terbakar: Kisah Terakhir Untung Surapati

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya

18 - Aug - 2025, 10:07

Lukisan realis: Untung Surapati, Bupati Pasuruan — simbol keberanian dan perlawanan Jawa Timur terhadap kolonialisme. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada pertengahan 1706, di bawah langit Pasuruan yang muram, sejarah Jawa memasuki babak tragis. Raden Adipati Wiranegara, lebih dikenal sebagai Untung Surapati, bukan sekadar seorang bupati pembangkang. Ia adalah jelmaan dendam sejarah, seorang budak Bali yang menjadi senapati, prajurit yang mengkhianati VOC, sekaligus adipati yang membangun kekuasaan tandingan di pesisir timur Jawa. Namun seperti lingkaran karma yang tak terhindarkan, Surapati akhirnya ditakdirkan berhadapan dengan kekuatan gabungan Kartasura, Madura, Surabaya, dan kompeni Belanda.

Sumber Babad Kartasura menggambarkan hari-hari terakhir Surapati dengan suasana mencekam: bau mesiu, pengkhianatan rakyat kecil yang lelah, dan serbuan pasukan musuh yang datang dari segala arah. Namun di balik narasi perang ini, terjalin lapisan makna lebih dalam: perlawanan Surapati tak hanya tentang politik dan teritori, melainkan juga spiritualitas dan kehormatan.

Baca Juga : Riset Terbaru: Minum Kopi Pagi Hari Bisa Turunkan Risiko Kematian, Ini Penjelasannya

Dari Kartasura ke Pasuruan: Jejak Seorang Pemberontak

Sebelum ajalnya menjemput, Surapati sudah lama menjadi duri di mata VOC. Setelah membunuh Kapten Tack di Kartasura pada 1686, ia menetap di Pasuruan dan mengangkat diri sebagai Adipati Wiranegara. Dari kota pesisir inilah ia membangun basis kekuasaan yang meresahkan: menguasai jalur perdagangan, mempersenjatai pasukan Bali-Jawa, dan menolak tunduk pada Susuhunan Pakubuwana I yang menjadi sekutu kompeni.

Selama hampir dua dekade, Surapati bertahan. Ia menaklukkan bupati-bupati yang setia pada Kartasura, memperluas pengaruhnya ke Malang dan Kediri. Namun keberhasilan itu mengundang murka. Saat konflik suksesi Kartasura meletus antara Amangkurat III dan Pangeran Puger, yang kelak bergelar Pakubuwana I, Surapati memilih berpihak pada Amangkurat III, musuh VOC. Maka kejatuhannya hanya soal waktu.

Untung

Gelombang Serangan: Madura, Surabaya, Kartasura, dan Kompeni

Babad Kartasura menuturkan bagaimana kekuatan gabungan itu disusun. Pangeran Purbaya memimpin pasukan Kartasura, ditemani Panembahan Mandura dari Madura, Adipati Surabaya, dan komisaris VOC bernama Tuan Kenol. Mereka bergerak bertahap, melewati Wirasaba, Kertosono, hingga mendekati benteng Pasuruan.

Sementara itu di dalam benteng, Surapati tidak sendirian. Putra-putranya, Raden Surahim dan Suradilaga, bersama menantu serta para panglima setianya seperti Ngabehi Lor, Ngabehi Kidul, Bun Jaladriya, Bun Jalapinati, dan Bun Jalaloka, telah bersiap dengan pasukan inti. Di samping mereka, masih ada Susuhunan Amangkurat Mas (Amangkurat III) yang terusir dari Kartasura dan bergabung mencari perlindungan.

Pasukan Surapati, meski gagah, berada dalam posisi terjepit. Dari selatan mereka dibayangi prajurit Surabaya, dari utara armada Madura, dan dari barat barisan Kartasura yang diperkuat meriam VOC. Namun Surapati tak pernah menyerah pada intimidasi. Ia memilih bertahan, bagaikan banteng terluka.

Pertempuran Gulatik: Bara yang Membakar

Sebelum mencapai Pasuruan, pasukan Kartasura sempat bertempur di Gulatik melawan Tumenggung Katawangan, panglima Kediri yang setia pada Amangkurat III. Pertempuran berlangsung sengit. Pasukan Pangeran Purbaya hampir menaklukkan Kediri, memaksa Tumenggung Katawangan mundur.

Mendengar laporan kekalahan itu, Amangkurat III di Kediri dilanda kepanikan. Ia melarikan diri ke tenggara, menuju Malang. Sementara itu, kabar lain datang: pasukan Dulang dan kompeni Belanda kalah di Pasuruan. Amukan Surapati berhasil menghancurkan pasukan Pakubuwanan.

Berita itu membuat Pangeran Purbaya dipanggil pulang ke Kartasura. Namun jeda kemenangan Surapati hanya sebentar. Setelah persiapan matang, serangan besar benar-benar datang.

Amangkurat

Untung Surapati vs Kapten Pabeber: Duel Terakhir di Medan Bangil

Bangil, sore hari, pertengahan tahun 1706. Langit Jawa Timur gelap oleh debu perang. Adipati Wiranegara, atau yang lebih masyhur disebut Untung Surapati, berdiri di hadapan ribuan prajurit Bali-Pasuruan yang setia. Mereka adalah pasukan pilihan, terlatih dalam tombak dan keris, pantang mundur meski kematian mengintai. Dari kejauhan terdengar bunyi gung, bende, canang, dan tambur, sebagai penanda bahwa benteng Pasuruhan telah memanggil seluruh bala ke medan laga.

Hari itu bukan sekadar pertempuran. Ia adalah babak terakhir sebuah dendam sejarah: perlawanan budak Bali yang menolak tunduk pada Kompeni Belanda.

Setelah dua dekade melawan, Surapati menjadi duri di mata VOC. Sejak membunuh Kapten Tack di Kartasura (1686), ia membangun kekuasaan tandingan di Pasuruan. Namun kini, koalisi besar datang mengepungnya: pasukan Surabaya dari pesisir utara, armada Sampang-Madura dari timur, prajurit Kartasura pimpinan Panembahan Mandura dari barat, dan meriam Kompeni Belanda di bawah Komisaris Kenol dari selatan.

Mereka tiba di Bangil, gerbang menuju Pasuruan. Komisaris Kenol, Panembahan Mandura, dan Adipati Surabaya menyusun strategi: Belanda memimpin pasukan dada, Mandura menyerang dari samping, dan Surabaya menjadi pengawal utama. Mereka yakin, hari itu Surapati akan habis.

Namun, Surapati tak gentar. Ia mengatur barisannya; prajurit darat dan pasukan berkuda berdiri berlapis-lapis. Putra-putranya, Raden Suradilaga dan Raden Surahim, berada di garis depan. Mereka bersumpah mempertahankan Pasuruhan hingga tetes darah terakhir.

Tembakan pertama pecah. Meriam VOC menggelegar, senapan kompeni memuntahkan peluru bertubi-tubi. Banyak prajurit Pasuruan gugur. Namun barisan mereka tetap kokoh, melangkahi mayat kawan-kawan, menyerbu tanpa takut.

Melihat anak buahnya terdesak, Surapati memerintahkan serangan balik. Pasukan Bali mengamuk, menombak prajurit Madura, menusuk prajurit Belanda, dan menantang prajurit Pakubuwanan dalam pertempuran jarak dekat. Golok Madura beradu dengan keris Bali, jerit luka bercampur sorak perlawanan.

“Majulah, jangan mundur!” teriak Surapati dari atas kuda Kyai Papeling. Dengan keris terhunus, ia menerjang, menewaskan puluhan kompeni. Dalam babad diceritakan, Surapati “tidak mempan oleh senjata.” Peluru berdesing tetapi tidak menembus kulitnya. Amukan sang adipati membuat Belanda panik dan menambah korban di pihak mereka.

Di tengah kekacauan itu, muncul Kapten Pabeber, seorang perwira Belanda yang masyhur karena keberanian. Ia maju ke garis depan, berhadapan langsung dengan Surapati.

“Siapakah engkau, perwira gagah ini? Aku ingin mengenalmu sebelum nyawamu melayang,” seru Pabeber.

Surapati menjawab lantang:

 “Aku Adipati Wiranegara! Aku Raden Surapati—kepala yang pernah merusak Batavia! Ayo, tembaklah aku!”

Peluru-peluru Pabeber menghujani tubuh Surapati, namun tak ada luka. Dengan gerak secepat kilat, Surapati menyerbu balik. Terjadilah duel maut. Pedang Belanda beradu dengan keris Jawa. Tusuk-men tusuk, serang-menyerang, namun keduanya sama-sama kebal senjata.

Tak puas, mereka membuang senjata, beralih pada baku hantam. Tubuh mereka bergumul di tanah berdebu. Dalam babad dikisahkan, Pabeber menggigit leher Surapati hingga darah memancar, membasahi pakaian sang adipati. Namun Surapati, dalam detik genting itu, merogoh belati kecil yang terselip di pinggangnya. Dengan satu hunjaman tepat ke dada, Kapten Pabeber gugur, dadanya koyak terbelah.

Melihat sang kapten tewas, Komisaris Kenol pucat. Hati pasukan Belanda gentar. Senja turun, medan Bangil berubah jadi lautan mayat.

Surapati sempat mengatur mundur pasukannya. Namun sebelum meninggalkan Bangil, tiba-tiba Kompeni menembakkan peluru tin-tak, yakni peluru emas sebesar jeruk manis. Peluru itu menembus pinggang kiri Surapati.

Meski kulitnya kebal, bagian dalam tubuhnya bergetar kesakitan. Ia murka, hampir mengamuk lagi. Namun putra-putranya memohon sambil menangis:

 “Gusti Adipati, hentikan dulu. Hari sudah malam. Besok kita bertempur lagi.”

Surapati terdiam. Ia menahan marah. Malam itu ia kembali ke pesanggrahan. Di belakangnya, medan Bangil penuh darah. Belanda dan Madura kehilangan ratusan prajurit.

Untung s

Peluru yang Menghantam Belikat

Baca Juga : Tak Pulang 7 Hari, Lansia Ditemukan Nyaris Jadi Kerangka

Dalam catatan Babad Kartasura, Surapati sempat memimpin sendiri barisan Pasuruan dalam pertempuran sengit selama 40 hari. Ia maju ke medan laga di Pasuruan, menghalau pasukan Pakubuwanan yang mengepung. Di salah satu pertempuran itulah, ia terkena tembakan senjata yang disebut tin-tak, yaitu peluru besar berlapis kuningan atau tembaga yang dalam babad digambarkan seukuran buah jeruk, dan mengenai bagian belikatnya.

Luka itu awalnya tampak ringan. Surapati tetap memimpin, tetap mengatur strategi, tetap memberikan aba-aba pada pasukan. Namun beberapa hari kemudian, rasa nyeri mulai merambat. Luka itu meradang, menggerogoti kesehatannya perlahan. Babad mencatat ia jatuh sakit, tubuhnya melemah, tetapi semangatnya tak surut.

Menyadari ajalnya mendekat, Surapati memanggil seluruh anak-cucu dan kerabatnya. Dengan suara yang masih berwibawa meski terengah, ia menyampaikan pesan terakhir:

“Hai para putra dan cucu serta keluargaku sekalian. Maklumilah bahwa sakitku ini sudah kehendak Tuhan. Aku hendak meninggalkan pesan: jangan sekali-kali kalian berbaik-baik dengan kompeni Belanda. Keturunanku, jangan ada yang mau bersetuju dengan mereka. Jika kalian melanggar, niscaya tidak akan selamat. Dan bila aku meninggal, kuburkan jasadku rata dengan tanah. Jangan beri nisan, jangan beri kijing, jangan beri tanda apa pun. Jangan biarkan mereka tahu di mana makamku.”

Itulah sumpah Surapati, sumpah anti-kompeni yang diwariskan ke darah dagingnya.

Pasuruan Jatuh: Pengkhianatan Rakyat

Ketika Surapati terbaring sakit, Pasuruan tak lagi sekuat dulu. Pasukan gabungan Madura, Surabaya, Kartasura, dan VOC mengepung dari segala penjuru. Raden Suradilaga memimpin perlawanan, tetapi jumlah musuh terlalu besar.

Pangeran Purbaya menyerbu dari depan, Panembahan Mandura dan Adipati Surabaya mengepung dari kiri-kanan, sementara meriam kompeni memuntahkan api dari jarak jauh. Prajurit Pasuruan gugur satu demi satu.

Pada akhirnya, Raden Surapati dan Suradilaga terpaksa mundur ke Malang sambil mengangkut sisa prajurit yang selamat. Susuhunan Amangkurat III ikut mengungsi. Pasuruan jatuh ke tangan musuh. Kompeni Belanda dan Pangeran Purbaya memasuki kota dengan penuh kemenangan. Surapati yang terluka parah tetap bertahan, sebelum akhirnya ajal menjemputnya di pengungsian.

Perburuan Makam

Kabar kematian Surapati segera merebak. Namun makamnya tetap menjadi misteri, sebagaimana wasiatnya. Penduduk setempat memilih bungkam, merahasiakan lokasinya karena takut melanggar sumpah sang adipati.

Namun VOC tak kehabisan akal. Komisaris Tuan Kenol mengumumkan sayembara: barang siapa menunjukkan makam Surapati akan diberi sekantung uang reyal. Rayuan emas akhirnya meluluhkan iman rakyat. Sumpah dilupakan. Seorang penduduk menunjuk lokasi makam rahasia itu.

Ketika tanah digali, tercium bau harum bagaikan bunga rampai. Jenazah Surapati masih utuh, seakan hanya tidur. Para kompeni Belanda tercengang. Mereka mengusung mayat itu ke pesanggrahan, mendudukannya di kursi kehormatan, menyalakan meriam sebagai penghormatan.

Kapten, perwira, hingga Tuan Kenol bergiliran menjabat tangan jasad dingin itu, berkata:

“Hai Surapati. Engkau benar-benar prajurit mulia. Engkau ditakdirkan menjadi musuh abadi kompeni Belanda.”

Namun penghormatan itu semu. Setelah puas, mereka memerintahkan mayat itu dibakar.

Mayat yang Tak Mau Terbakar

Ketika api dinyalakan, mayat Surapati tak mempan. Tubuhnya tetap utuh, tak tersentuh kobaran api. Prajurit VOC gelisah.

Tuan Kenol murka. Ia memerintahkan jasad itu disiram minyak dan alkohol, lalu dibakar lagi. Api berkobar lebih besar, membakar seluruh tubuh hingga jadi abu. Abu itu kemudian ditanam di sebuah loji yang dijaga meriam, simbol bahwa bahkan kematian Surapati pun harus diawasi.

Namun meski jasadnya habis, roh perlawanan Surapati tetap hidup. Bagi rakyat Pasuruan, ia bukan sekadar bupati. Ia adalah lambang kehormatan yang tak bisa dimusnahkan dengan api.

Sumpah yang Mengikat Generasi

Adipati

Sepeninggal Surapati, putra sulungnya, Ki Mas Surahim, diangkat menjadi Adipati Wiranegara yang baru. Namun ia tak segagah ayahnya. Raden Suradilaga, adik bungsunya, juga tak mampu menyatukan sisa kekuatan. Pasuruan akhirnya benar-benar tunduk pada Kartasura dan VOC.

Namun sumpah Surapati tetap bergaung: “Jangan pernah berbaik dengan kompeni.” Sumpah ini melekat dalam ingatan rakyat. VOC boleh membakar tubuhnya, menanam abunya, dan menaklukkan bentengnya, tetapi mereka tak pernah bisa membakar mitos yang ditinggalkan.

Di mata sejarawan, kisah ini adalah lebih dari sekadar pemberontakan lokal. Ini adalah perlawanan spiritual, ideologis, dan politis terhadap hegemoni kolonial. 

Sampai hari ini, makam Surapati tetap tak bertanda. Loji tempat abu jenazahnya ditanam tak lagi ada, tapi nama Surapati hidup dalam jalan, monumen, dan kisah rakyat. Mayatnya memang akhirnya habis, tapi semangatnya tak pernah padam.