Benawa, Gagak Baning, dan Benawa II: Tiga Raja Terakhir di Ujung Napas Pajang

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

18 - Jul - 2025, 02:11

Lukisan realis: Seorang Adipati Kerajaan Mataram dan permaisurinya. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kerajaan Pajang, penerus kejayaan Demak dan pendahulu kekuasaan Mataram Islam, mengalami babak-babak senyap dalam sejarah politik Jawa pasca abad ke-16. 

Di balik ingar-bingar kemunculan Mataram di bawah Panembahan Senapati, sejarah mencatat jejak tiga penguasa terakhir Pajang yang perlahan tetapi pasti memudar dari panggung kekuasaan. 

Baca Juga : Tidak Anti Kritik, Bupati Jember Ajak Media Bangun Energi Positif

Pangeran Benawa, Pangeran Gagak Baning, dan Raden Sida Wini—dikenal pula sebagai Pangeran Benawa II—adalah tiga sosok yang menandai senjakala dinasti Pajang. Bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai lambang transisi kuasa dan benturan ideologi di tubuh bangsawan Jawa.

Pangeran Benawa (1587–1588): Sultan yang Menepi

Setelah kematian Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), kekuasaan Pajang mengalami guncangan hebat. Kekosongan otoritas segera dimanfaatkan oleh Arya Pangiri—menantu Hadiwijaya dan Adipati Demak—yang merebut tahta Pajang dan memerintah dengan kecenderungan memusatkan kekuasaan pada jaringan elite pesisir Demak. 

Langkah ini memicu ketegangan di antara para bangsawan lokal, terutama di kalangan pendukung Benawa, putra kandung Hadiwijaya.

Didukung oleh Panembahan Senapati dari Mataram—yang kala itu masih merupakan kekuatan regional yang sedang naik daun—Pangeran Benawa akhirnya berhasil menggulingkan Arya Pangiri. 

Dalam narasi tradisional seperti Babad Tanah Jawi (Meinsma, 102), Benawa kemudian diangkat sebagai Sultan Pajang dengan restu Senapati. 

Namun, pengangkatan itu sarat agenda politik tersembunyi. Tak lama setelah naik tahta, Benawa disebut hanya bertahan selama setahun sebelum meninggal dunia. Di sisi lain, beberapa sumber menyiratkan bahwa ia justru mengundurkan diri secara sukarela dan memilih jalan spiritual, menjauh dari intrik kekuasaan.

Penarikan diri Benawa dari kekuasaan kemungkinan besar bukan semata keputusan pribadi, melainkan bagian dari strategi politik yang mengaburkan batas antara pengunduran sukarela dan pengasingan simbolik. 

Seperti dicatat oleh Hageman dalam Geschiedenis, Benawa menyingkir ke pinggiran kerajaan, menjalani hidup sebagai pertapa. Pengunduran diri itu, dalam kerangka budaya politik Jawa, kerap ditafsirkan sebagai bentuk sublimasi spiritual, tetapi juga tak jarang merupakan bentuk eksklusi yang terselubung.

Meskipun hanya sebentar menjadi sultan, Benawa tetap menjadi simbol aristokrasi tinggi Pajang yang tidak tunduk sepenuhnya pada Mataram. Ia adalah representasi dari kelas penguasa yang mulai kehilangan pijakan kekuasaan, namun tetap menyisakan simbol perlawanan ideologis terhadap dominasi Senapati.

Pangeran Gagak Baning (1588–1591): Sang Adipati dari Dalam

Selepas mundurnya Benawa, kekuasaan Pajang tidak serta-merta lenyap. Senapati menunjuk adiknya, Raden Bagus Tompe—kemudian bergelar Pangeran Gagak Baning atau Tumenggung Gagak Pranala—sebagai penguasa baru di Pajang. Gelar "adipati" menggantikan gelar "sultan", menandakan bahwa wilayah Pajang telah diturunkan statusnya menjadi daerah otonomi dalam struktur kekuasaan Mataram.

Pemerintahan Gagak Baning terbilang kuat namun singkat. Dalam Serat Kandha (hlm. 596), diceritakan bahwa ia melakukan renovasi besar-besaran terhadap keraton Pajang. 

Ia membangun istana baru di sisi barat keraton lama, bahkan memasukkan makam sultan sebelumnya ke dalam kawasan ibu kota baru. Di sinilah kita melihat upaya simbolik membangun kembali legitimasi kekuasaan Pajang yang mulai merosot.

Namun perbedaan lokasi pembangunan istana dalam sumber-sumber sejarah memunculkan spekulasi historiografis. Babad Tanah Jawi menyebut pemindahan ke timur, sedangkan Serat Kandha menyatakan ke barat. Jika menggunakan pendekatan geografi dan analisis situs, pergeseran ke barat lebih masuk akal karena tidak mungkin menyeberangi Sungai Laweyan yang menjadi batas alami sisi timur. 

Kawasan Makam Aji, yang mungkin merupakan tempat peristirahatan terakhir sultan lama, berada di sisi barat dan bisa jadi merupakan bagian dari keraton yang dibangun oleh Gagak Baning.

Dalam masa pemerintahannya yang hanya tiga tahun, Gagak Baning tetap mempertahankan otonomi simbolik Pajang, meski dalam bayang-bayang kekuasaan Senapati. Ia bukan sekadar boneka, tetapi juga tokoh transisi yang menjaga kesinambungan politik sebelum generasi berikutnya mengambil peran.

Raden Sida Wini (1591–1617): Pewaris Takhta yang Menjadi Pemberontak

Setelah Gagak Baning wafat, muncul sosok yang mengklaim sebagai pewaris sah Pajang: Raden Sida Wini, putra dari Pangeran Benawa. Dalam Serat Kandha, ia disebut kembali menggunakan nama ayahnya—Pangeran Benawa—setelah diangkat sebagai pemimpin. Sementara Hageman menyebutnya dengan nama mudanya, Raden Sida Wini.

Setelah wafatnya Gagak Baning, muncul seorang tokoh yang mengklaim sebagai pewaris sah Pajang: Raden Sida Wini, putra Pangeran Benawa I dan cucu Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). 

Dalam Serat Kandha, ia disebut kembali memakai nama ayahnya—Pangeran Benawa—setelah diangkat sebagai pemimpin Pajang. Karena itu, ia dikenal sebagai Pangeran Benawa II. Sementara Hageman menyebutnya dengan nama mudanya: Raden Sida Wini.

Ia adalah raja terakhir Pajang yang memerintah dalam bayang-bayang, namun menyimpan bara perlawanan. Pemerintahannya berlangsung panjang, dari 1591 hingga 1617, dan selama itu ia tidak hanya mempertahankan simbolisme kerajaan, tetapi juga membangun kembali jaringan kekuasaan yang berseberangan dengan Mataram.

Silsilah Raden Sida Wini menempatkannya sebagai tokoh kunci dalam pergulatan trah kekuasaan Jawa pasca-Majapahit. Dari jalur ayahnya, ia merupakan cicit dari Ki Ageng Pengging (Raden Kebo Kenanga), penguasa spiritual dan politik Pengging yang menjadi korban ekspansi kekuasaan Demak. 

Baca Juga : Update BSU 2025: Sudah Sampai Batch Berapa? Ini Jadwal Pencairan dan Cara Cek Status Penerima

Ki Ageng Pengging sendiri adalah putra dari Prabu Handayaningrat (raja Pengging) dan Retno Pembayun, putri Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Retno Pembayun dengan demikian adalah jembatan antara dinasti Majapahit dan trah spiritual Islam di Jawa.

Raden Kebo Kenanga menikah dengan Rara Alit, putri dari Pangeran Gugur, salah seorang putra Prabu Brawijaya V pula. Dari pasangan ini lahirlah Mas Karebet, yang kelak terkenal sebagai Jaka Tingkir dan kemudian naik takhta sebagai Sultan Hadiwijaya Hing Pajang.

Sultan Hadiwijaya menikah dengan Ratu Mas Cempaka, putri dari Sultan Trenggana (Demak) dan cucu dari Sunan Kalijaga serta Siti Zaenab (putri Syekh Siti Jenar). Dari pasangan ini lahirlah Pangeran Benawa I, Sultan ketiga Pajang, yang kemudian menurunkan Raden Sida Wini.

Dengan demikian, Raden Sida Wini, atau yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Benawa II, merupakan sosok yang mewarisi darah dari empat poros utama kekuasaan dan spiritualitas Nusantara. Dari garis Majapahit, ia memperoleh warisan darah melalui Retno Pembayun dan Pangeran Gugur, tokoh-tokoh utama dari trah terakhir Prabu Brawijaya V. Dari sisi Demak, ia terhubung langsung dengan Sultan Trenggana, tokoh sentral dalam konsolidasi kekuasaan Islam di pesisir utara Jawa. 

Warisan spiritualnya tertaut kuat dengan dunia tasawuf, melalui garis Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar, dua poros penting dalam penyebaran Islam yang menyesuaikan diri dengan kosmologi Jawa. Sementara dari Dinasti Pajang, ia adalah cucu langsung dari Sultan Hadiwijaya, pendiri Kerajaan Pajang dan pengusung ideologi Islam politik di pedalaman.

Dari jalur ibunya—meskipun namanya tidak selalu disebut secara eksplisit dalam naskah-naskah babad—Raden Sida Wini tetap menempati posisi penting dalam jaringan elite keagamaan dan bangsawan Mataram. 

Ia adalah saudara kandung dari Kanjeng Ratu Mas Hadi, permaisuri Panembahan  Hanyakrawati, Raja kedua Mataram, dan ibu dari Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja terbesar dalam sejarah Mataram Islam.

Dengan silsilah agung yang demikian lengkap, Raden Sida Wini bukan sekadar bangsawan lokal atau adipati biasa, melainkan manifestasi dari kontinuitas sejarah panjang Jawa. Ia menjadi simpul penghubung antara Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram—empat poros yang membentuk peradaban politik dan spiritual Nusantara.

 Namun dalam ironi sejarah, alih-alih dikenang sebagai pemersatu trah, ia justru disingkirkan dari narasi resmi, terpinggirkan oleh hegemonik Mataram yang lebih memilih menonjolkan Sutawijaya dan Sultan Agung sebagai poros utama kelanjutan kekuasaan Jawa.

Raden Sida Wini adalah raja terakhir Pajang yang memerintah dalam bayang-bayang, namun menyimpan bara perlawanan. Pemerintahannya berlangsung panjang, dari 1591 hingga 1617, dan selama itu ia tidak hanya mempertahankan simbolisme kerajaan, tetapi juga membangun kembali jaringan kekuasaan yang berseberangan dengan Mataram.

Puncaknya terjadi pada tahun 1617, ketika pecah pemberontakan besar terhadap Mataram. Pangeran Sida Wini tidak sendirian. Ia didukung oleh kelompok-kelompok elite yang merasa terpinggirkan oleh dominasi Senapati dan penerusnya, Panembahan Hanyakrakusuma (Sultan Agung). Fraksi-fraksi bangsawan seperti Mandurareja, dan tokoh militer seperti Tambakbaya—yang dikenal congkak dan sakti—bergabung dalam gerakan tersebut.

Dalam Babad Tanah Jawi (VIII: 67–75), disebutkan bahwa Tambakbaya menolak memberikan kudanya yang bernama Domba kepada Raja Mataram, Sultan Agung. Ia menyatakan lebih baik menyerahkan istrinya daripada kudanya, dan bahkan berani mengatakan sanggup bertahan dua bulan melawan Mataram. Sikap keras kepala ini menjadi pemicu pecahnya perang.

Pasukan Pajang dipimpin oleh Tambakbaya dan Ki Jagaraga, sementara pasukan Mataram dikomandoi oleh Mandurareja yang membelot, bersama tokoh-tokoh seperti Pangeran Juminah, Pangeran Purbaya, dan Adipati Sumedang. Pertempuran pecah, dan meskipun Pajang memberikan perlawanan keras, mereka akhirnya terdesak. Sida Wini bersama Tambakbaya melarikan diri ke Semanggi dan selanjutnya ke hilir melalui Sungai Bengawan Solo.

Dalam catatan Cornelis van Maseyck tahun 1618 (De Jonge, IV: 88–96), pasukan Mataram menghancurkan Pajang dan memindahkan seluruh penduduknya ke ibu kota Mataram. Mereka dijadikan pekerja paksa untuk pembangunan keraton baru. Laporan Jan Pietersz. Coen memperkuat kabar itu dengan menyebut terjadinya krisis beras parah akibat peperangan, yang menyebabkan banyak kematian.

Nasib Sida Wini selanjutnya membawa nasibnya ke wilayah timur. Surat Antonio Vissozo tertanggal 10 September 1619 menyebut bahwa Raja Pajang terlihat di wilayah Giri bersama Raja Tuban. Jejak pelariannya ini menunjukkan bahwa ia mencari perlindungan ke lingkungan religius-politik yang masih menjadi pusat otoritas keagamaan, sebelum akhirnya menuju Surabaya—pusat perlawanan pesisir terhadap Mataram.

Dengan kekalahan Sida Wini dan penghancuran Pajang secara total oleh Sultan Agung, maka berakhirlah eksistensi politik mandiri Kerajaan Pajang. Kawasan keraton diubah menjadi hutan dan dinamakan Wana Karta. Di atas bekas reruntuhan itulah kelak berdiri Keraton Kartasura Hadiningrat.

Namun, kisah tentang Benawa, Gagak Baning, dan Sida Wini tidak berhenti pada kehancuran fisik. Mereka merepresentasikan perlawanan ideologis bangsawan lama terhadap sentralisasi kekuasaan baru. Mereka adalah simbol resistensi aristokratik yang kalah secara politik, tetapi menang secara simbolik.

Sejarah menempatkan mereka bukan sebagai tokoh-tokoh besar penakluk, tetapi sebagai sisa-sisa kejayaan masa lalu yang menolak tenggelam tanpa makna. Ketiganya membentuk mozaik terakhir Kerajaan Pajang, yang meskipun akhirnya ditelan oleh Mataram, tetap menyisakan jejak dalam lanskap politik, spiritual, dan ingatan kolektif masyarakat Jawa.