Kisah Thulaihah bin Khuwailid, Tokoh yang Pernah Mengaku Sebagai Nabi Lalu Bertaubat

Editor

Dede Nana

29 - Jun - 2026, 11:01

Ilustrasi sosok Thulaihah yang sempat mengaku sebagai seorang nabi (ist)

JATIMTIMES - Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh yang pernah mengaku sebagai nabi pada masa akhir kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Berasal dari Bani Asad dan dikenal sebagai seorang dukun, ia awalnya termasuk rombongan yang datang ke Madinah pada tahun 9 Hijriah untuk menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah. Namun, tidak lama setelah itu, ia berbalik arah dengan mengklaim menerima wahyu dan mengajak kaumnya mengikutinya.

Baca Juga : Semua Elemen di Banyuwangi Bertekad Perangi Narkoba Dalam Peringatan HANI 2026  

Tempat tinggal Thulaihah berada di Buzakhah, kawasan yang menjadi sumber air penting bagi Bani Asad di wilayah Nejd. Setelah Rasulullah wafat, pengaruhnya justru semakin meluas. 

Sejumlah anggota Bani Asad mendukung pengakuannya, kemudian membatalkan kesepakatan damai dengan kabilah Thayyi' dan al-Ghauts. Mereka juga menjalin aliansi dengan Ghatafan yang sejak lama memiliki hubungan kurang harmonis dengan Madinah.

Perkembangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari situasi politik antarsuku di Jazirah Arab. Bani Asad hidup berdampingan dengan berbagai kabilah seperti Thayyi', Bakr, Hawzan, Ghatafan, Abdul Qais, dan Tamim. Hubungan di antara mereka silih berganti antara kerja sama dan konflik sesuai kepentingan masing-masing.

 Karena itu, ketika Thulaihah muncul membawa klaim kenabian, sebagian suku melihatnya bukan hanya sebagai persoalan agama, tetapi juga sebagai peluang memperkuat posisi politik mereka.

Padahal sebelumnya Bani Asad telah resmi memeluk Islam. Pada tahun yang dikenal sebagai Am al Wufud atau Tahun Delegasi, sepuluh orang utusan mereka datang menemui Rasulullah untuk berbaiat. 

Di antara rombongan tersebut terdapat Thulaihah bin Khuwailid, Dhirar bin al-Azur, dan Wabishah bin Ma'bad. Dalam pertemuan itu mereka menyampaikan persoalan sengketa dengan Bani Thayyi' terkait hak memanfaatkan sumber air dan lahan. Rasulullah kemudian berupaya menjadi penengah dengan mengirimkan surat yang ditulis Khalid bin Sa'id guna mencari penyelesaian bagi kedua belah pihak.

Perselisihan antarkabilah sebenarnya telah berlangsung sejak masa jahiliah. Rasulullah berusaha mengakhiri konflik tersebut agar hubungan mereka kembali damai. Namun, setelah Thulaihah menyatakan diri sebagai nabi, ketegangan lama kembali muncul. 

Dukungan Ghatafan terhadap dirinya bahkan dipengaruhi sentimen terhadap Quraisy. Tokoh Ghatafan, Uyainah bin Hishn al-Fazzari, pernah menyatakan bahwa mengikuti Thulaihah lebih ia sukai daripada tunduk kepada Quraisy setelah wafatnya Nabi Muhammad.

Sejarah tidak mencatat secara rinci ajaran yang dibawa Thulaihah. Akan tetapi, sejumlah riwayat menyebut ia tidak mengajak masyarakat kembali menyembah berhala. Pengaruh ajaran tauhid yang telah menyebar luas membuat praktik paganisme hampir tidak lagi memiliki tempat di Jazirah Arab. 

Baca Juga : Amalkan 6 Doa Ini Saat Sakit, Nomor 1 Dibaca Rasulullah untuk Minta Kesembuhan

Salah satu pandangannya yang dikenal adalah penolakannya terhadap rukuk dan sujud dalam salat. Ia berpendapat bahwa Allah tidak memerintahkan manusia meletakkan wajah di tanah ataupun membungkukkan punggung ketika beribadah, melainkan cukup mengingat-Nya sambil berdiri.

Kemunculan Thulaihah mendapat respons tegas dari Rasulullah. Dhirar bin al-Azur diperintahkan untuk menghadapi gerakannya, tetapi misi tersebut belum tuntas hingga Rasulullah wafat. 

Kepemimpinan kemudian beralih kepada Abu Bakar Ash Shiddiq yang meneruskan upaya memberantas berbagai gerakan kemurtadan dan klaim kenabian palsu. Khalid bin al-Walid ditunjuk memimpin pasukan untuk menghadapi Thulaihah beserta pengikutnya.

Pasukan Khalid berhasil memukul mundur kekuatan Bani Asad. Thulaihah melarikan diri ke Syam untuk menghindari penangkapan. Di tempat pengasingannya itulah ia mulai menyadari kesalahannya. Ia kemudian menyatakan taubat dan kembali memeluk Islam.

Berbeda dengan Musailimah yang tewas dalam keadaan tetap mempertahankan pengakuannya sebagai nabi, Thulaihah memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri. 

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, taubatnya diterima. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia bahkan diizinkan bergabung dalam barisan kaum muslimin untuk berjihad. Perjalanan hidupnya pun menjadi salah satu contoh bahwa seseorang yang pernah melakukan kesalahan besar masih memiliki peluang kembali kepada Islam apabila benar-benar bertaubat dengan sungguh-sungguh.