Hotel Trio Indah 2 Malang, Hotel Bersejarah di Jantung Kota yang Menyimpan Jejak Kolonial dan Energi Kota

Reporter

Irsya Richa

Editor

A Yahya

23 - Mar - 2026, 10:05

Suasana Hotel Trio Indah 2 Malang dari depan. (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah hiruk pikuk kawasan heritage Kayutangan, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan cerita panjang perjalanan Kota Malang. Bangunan itu kini dikenal sebagai Hotel Trio Indah 2, sebuah hotel yang bukan sekadar tempat menginap, tetapi juga bagian dari sejarah kota.

Hotel ini berada di kawasan yang diyakini sebagai titik pusat Kota Malang sejak masa lampau. Di kawasan tersebut dahulu berdiri Tugu Stadlok, yang disebut sebagai penanda titik tengah Malang Raya. 

Baca Juga : Liburan ke Timur Tengah Batal? Ini 6 Destinasi Alternatif yang Tak Kalah Menarik

Hotel Manager Trio Indah 2, Setyo Hadi Pranoto SE, menjelaskan bahwa lokasi ini sejak dulu dianggap memiliki makna penting bagi perkembangan kota. “Di depan hotel ini dulu ada Tugu Stadlok yang diyakini sebagai titik tengah Malang Raya. Dari titik itu jaraknya hampir sama, sekitar 35 kilometer ke Gunung Semeru, Gunung Arjuna, Gunung Kawi, dan Gunung Bromo,” kata Setyo.

Keunikan lainnya, lanjut Setyo titik tersebut juga berada di posisi hampir seimbang antara Laut Jawa dan Pantai Selatan. Jaraknya berkisar 53 hingga 54 kilometer.

“Ini menunjukkan bagaimana leluhur dulu memiliki perhitungan yang luar biasa dalam menentukan pusat kota. Bahkan para budayawan menyebutnya sebagai titik mikrokosmos, tempat pertemuan energi,” jelas Setyo.

Menurut Setyo, pemahaman itulah yang membuat pemerintah kolonial Belanda kemudian menjadikan kawasan Kayutangan sebagai pusat bisnis di Malang pada masanya. Bangunan yang kini menjadi Hotel Trio Indah 2 pun memiliki sejarah panjang.

Dahulu, bangunan ini merupakan rumah tinggal seorang kontroler Karisidenan Malang, pejabat tinggi pada masa pemerintahan kolonial Belanda. “Rumah ini dulu adalah rumah kontroler Karisidenan Malang, semacam pejabat setingkat kepala wilayah pada masa itu. Setelah masa kolonial, bangunan ini sempat difungsikan sebagai kantor kepolisian,” imbuh Setyo.

Baru pada tahun 2003 bangunan tersebut dibeli oleh pemilik saat ini dan diubah menjadi hotel dengan konsep yang cukup visioner pada zamannya. “Konsep awalnya sebenarnya sangat besar. Di satu kawasan ada hotel, rumah makan, dan supermarket modern. Saat itu termasuk konsep yang sangat maju untuk Kota Malang,” kata Setyo.

Hotel Trio Indah 2 sendiri memiliki sekitar 40 kamar dengan ukuran yang relatif luas dibandingkan hotel-hotel modern saat ini. Selain itu, tersedia pula ruang pertemuan dengan kapasitas hingga ratusan orang yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan seperti wisuda, pertemuan, hingga acara keluarga.

Baca Juga : 6 Zodiak Paling Beruntung pada 24 Maret 2026, Siapa yang Mendapat Energi Positif Hari Ini?

Menurut Setyo, lokasi yang berada tepat di jantung kota menjadi salah satu keunggulan utama hotel ini. “Kami berada di tengah kota, dekat kawasan heritage Kayutangan. Banyak tamu yang memilih menginap di sini karena ingin merasakan suasana kota lama Malang,” ucap Setyo.

Bangunan bergaya kolonial yang masih dipertahankan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu yang ingin merasakan nuansa sejarah saat menginap. “Hotel ini sudah melewati berbagai fase dalam bisnis perhotelan selama lebih dari dua dekade. Tapi dengan cerita sejarah yang kami miliki, kami yakin hotel ini tetap memiliki daya tarik tersendiri,” tambah Setyo.

Buktinya beberapa tokoh budaya dan ulama pernah menginap di hotel ini, di antaranya Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, KH, Mustofa Bisri, serta Muzawir Imron. Sejak dulu hotel ini kerap menjadi pilihan para tokoh yang datang ke Malang untuk berbagai kegiatan.

“Beberapa tokoh nasional pernah menginap di sini, seperti Cak Nun, Gus Mus, hingga penyair Zawawi Imron. Bagi kami itu menjadi kebanggaan tersendiri karena hotel ini pernah menjadi tempat singgah para tokoh besar,” terang Setyo.

Kini, di tengah berkembangnya industri perhotelan di Kota Malang, Hotel Trio Indah 2 tetap berdiri sebagai saksi perjalanan kota. Sebuah bangunan lama yang tidak hanya menyimpan kamar-kamar untuk tamu, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang sejarah, energi, dan perkembangan Kota Malang itu sendiri.