Banyak yang Belum Tahu, Ternyata Mudik Itu Singkatan: Ini Arti dan Sejarahnya
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
19 - Mar - 2026, 07:55
JATIMTIMES - Setiap menjelang Hari Raya Idulfitri, jutaan warga Indonesia bersiap melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Tradisi yang dikenal dengan sebutan mudik ini bahkan selalu menjadi fenomena tahunan yang identik dengan Lebaran.
Namun ternyata, masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa kata “mudik” memiliki makna dan sejarah panjang. Bahkan, istilah yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia itu disebut sebagai singkatan dari sebuah istilah dalam bahasa Jawa.
Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
Mengutip laman Indonesia Baik milik Kementerian Komunikasi dan Informatika, arti kata mudik merupakan kependekan dari istilah Jawa “mulih dilik” yang berarti pulang sebentar.
Makna tersebut menggambarkan kebiasaan masyarakat yang merantau ke kota untuk bekerja, lalu pulang ke kampung halaman dalam waktu singkat, biasanya saat momen Lebaran.
Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik diartikan sebagai aktivitas pergi ke udik atau pedalaman, serta pulang ke kampung halaman.
Pengertian tersebut menjelaskan kebiasaan masyarakat yang kembali ke daerah asal setelah lama tinggal di kota. Istilah ini kemudian semakin populer dan digunakan luas dalam konteks perjalanan pulang saat Lebaran.
Penjelasan lain mengenai asal-usul kata mudik juga disampaikan oleh antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Heddy Shri Ahimsa-Putra. Menurutnya, secara etimologis kata mudik berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang merujuk pada hulu atau ujung sungai.
“Berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya,” ujar Heddy Shri Ahimsa-Putra, dikutip dari situs resmi UGM.
Istilah tersebut awalnya berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai. Pada masa lalu, perjalanan dari kota menuju daerah asal sering dilakukan dengan menyusuri sungai ke arah hulu.
Adapun tradisi mudik yang dikenal saat ini juga tidak lepas dari fenomena urbanisasi di Indonesia. Menurut Kementerian Perhubungan, tradisi mudik mulai semakin kuat sejak era 1970-an.
Baca Juga : 7 Ide Kegiatan Seru di Kampung Halaman Saat Mudik Lebaran
Saat itu, arus perpindahan penduduk dari desa menuju kota-kota besar seperti Jakarta meningkat pesat karena banyak orang mencari pekerjaan.
Hal serupa juga disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya dari Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro. Ia menilai fenomena mudik berkaitan erat dengan perpindahan penduduk setelah Indonesia merdeka.
“Ini mungkin setelah kemerdekaan, setelah banyak orang mencari pekerjaan di kota. Mungkin tahun 1960-an hingga 1970-an, ketika Jakarta mulai didatangi orang dari berbagai desa,” ujar Purnawan, dikutip dari Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur.
Seiring berjalannya waktu, istilah mudik semakin dikenal luas dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Tradisi pulang kampung ini tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu.
Kini, mudik telah menjadi fenomena sosial yang melekat setiap menjelang Lebaran. Jutaan orang melakukan perjalanan jauh demi berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Bahkan setiap tahun pemerintah memperkirakan jumlah pemudik mencapai puluhan juta orang, menjadikan mudik sebagai salah satu mobilitas masyarakat terbesar di Indonesia.
