Dokter RSI Unisma Ingatkan Jangan Anggap Sepele Mata Perih dan Sepet, Bisa Jadi Gejala Mata Kering

Editor

A Yahya

05 - Mar - 2026, 05:38

Dokter spesialis mata RSI Unisma, Dr Ahmad Thohir Sp.M, saat melakukan pemeriksaan pasien (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Rasa perih, sepet, atau mata terasa lelah sering kali dianggap keluhan ringan yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal gangguan kesehatan mata yang dikenal sebagai sindrom mata kering atau dry eye disease.

Dokter spesialis mata di Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang, Dr Ahmad Thohir Sp.M, mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan keluhan mata yang terasa tidak nyaman, terutama jika muncul secara berulang.

Baca Juga : Simulasi 4D Serangan ke Iran Viral di Media Sosial, Rekonstruksi Detik-Detik Operasi Militer dari Data Terbuka

Menurutnya, gejala seperti mata perih, terasa pedas, sepet, hingga sensasi seperti ada benda asing di mata sering kali menjadi tanda awal mata mengalami kekeringan.

“Keluhan seperti mata perih, sepet, atau terasa ada yang mengganjal sering dianggap biasa. Padahal secara medis itu bisa menjadi tanda awal sindrom mata kering,” kata Ahmad Thohir, Kamis, (5/3/2026).

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang paling sering memicu mata kering adalah paparan udara dari pendingin ruangan atau AC, serta penggunaan gadget dalam waktu lama.

Di ruangan ber-AC, kelembapan udara cenderung rendah sehingga lapisan air mata lebih cepat menguap. Kondisi ini membuat mata menjadi lebih mudah kering.

“Udara dari AC membuat penguapan air mata menjadi lebih cepat. Akibatnya mata terasa sepet, perih, atau seperti ada benda asing,” jelasnya.

Selain itu, kebiasaan menatap layar komputer maupun ponsel terlalu lama juga berkontribusi terhadap masalah ini. Saat seseorang fokus pada layar gadget, frekuensi berkedip akan menurun drastis.

Secara normal, manusia berkedip sekitar 20 kali setiap menit. Namun ketika menatap layar, jumlah kedipan bisa turun hanya sekitar 5 hingga 7 kali per menit.

“Berkedip itu sebenarnya mekanisme alami tubuh untuk menyebarkan air mata agar permukaan mata tetap lembap. Kalau berkedipnya berkurang, mata akan lebih cepat kering,” ujarnya.

Ahmad Thohir menegaskan bahwa keluhan mata tidak boleh dianggap sepele apabila berlangsung terus-menerus lebih dari dua minggu. Terlebih jika keluhan tersebut disertai gangguan penglihatan, seperti penglihatan yang kadang kabur dan kadang kembali normal.

Kondisi ini bisa terjadi karena lapisan air mata memiliki peran penting dalam membantu proses pembiasan cahaya yang masuk ke mata.

“Kadang orang merasa minusnya tidak ada, tapi penglihatan sesekali kabur. Itu bisa disebabkan oleh gangguan pada lapisan air mata,” jelasnya.

Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya rasa nyeri atau sensasi terbakar pada mata. Dalam beberapa kasus, mata juga bisa tampak kemerahan meski tidak disebabkan oleh infeksi. “Kalau sudah muncul nyeri yang cukup mengganggu atau mata mudah merah saat terkena angin, itu juga tidak boleh dianggap sepele,” katanya.

Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami sindrom mata kering. Salah satunya adalah orang berusia lanjut. Seiring bertambahnya usia, produksi air mata secara alami akan berkurang.

Baca Juga : Pembiayaan BPKB Solusi Mendapatkan Dana Tunai Saat Bulan Puasa

Wanita setelah menopause juga lebih rentan mengalami kondisi ini karena perubahan hormon. Selain itu, penderita penyakit autoimun, pengguna obat-obatan tertentu seperti steroid oral, serta pasien yang pernah menjalani operasi katarak juga termasuk kelompok berisiko.

“Pengguna lensa kontak dan orang yang bekerja di depan layar gadget lebih dari enam jam sehari juga lebih rentan mengalami mata kering,” ungkapnya.

Untuk mencegah mata kering, ia menyarankan agar pengguna gadget memberikan waktu istirahat bagi mata. Idealnya, setelah dua jam bekerja di depan layar, seseorang perlu mengalihkan pandangan sejenak ke objek yang lebih jauh. “Jangan terus fokus ke layar. Alihkan pandangan ke jarak jauh agar mata bisa beristirahat,” katanya.

Penggunaan tetes mata juga dapat membantu meredakan keluhan ringan. Namun jika gejala sering kambuh atau tidak membaik, pemeriksaan ke dokter mata sangat dianjurkan. “Kalau sudah diberi tetes mata tapi keluhan sering muncul kembali, sebaiknya segera diperiksakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa lapisan air mata memiliki tiga komponen penting, yaitu lapisan minyak, lapisan air, dan lapisan mukus yang membantu air mata menempel pada permukaan kornea. Jika lapisan ini terganggu, kornea menjadi lebih mudah terpapar udara sehingga berpotensi menimbulkan iritasi hingga infeksi.

Dalam kondisi tertentu, kornea bahkan bisa menjadi lebih sensitif karena banyaknya reseptor saraf pada bagian tersebut.

“Kornea merupakan bagian tubuh yang sangat sensitif karena memiliki banyak saraf. Jika lapisan air mata terganggu, mata bisa menjadi sangat sensitif,” jelasnya.

Terkait pola makan, Ahmad Thohir menuturkan bahwa tidak ada makanan khusus yang secara langsung menyembuhkan mata kering. Namun pola makan sehat tetap penting untuk menjaga kesehatan mata secara keseluruhan.

Sayuran dan buah-buahan yang kaya vitamin, termasuk beta karoten dan lutein, dapat membantu menjaga fungsi mata tetap optimal. “Prinsipnya tetap makanan sehat dan seimbang. Sayur dan buah penting karena mengandung vitamin yang dibutuhkan mata,” pungkasnya.