Sumber Mata Air di Kota Batu Menyusut, Gerakan Rumat Sumber Ajak Warga Jaga Kelestarian Air

Reporter

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy

04 - Mar - 2026, 06:47

Kegiatan Rumat Sumber di Kota Batu. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Upaya menjaga keberlanjutan sumber mata air di Kota Batu kini dikemas melalui pendekatan budaya. Yayasan  Nawadya Cita Nusantara menggagas gerakan Rumat Sumber sebagai bentuk penghormatan terhadap air sekaligus pelestarian warisan arkeologis yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Ketua Yayasan Nawadya Cita Nusantara Syahrul Hadiyatullah mengatakan gerakan ini tidak sekadar kampanye lingkungan, melainkan membangun kesadaran kolektif melalui tradisi dan seni.

Baca Juga : Ini Tanggapan Polresta Malang Kota soal Video Viral Pemuda Bawa Sajam di Klojen

“Kami ingin mengajak masyarakat kembali menghormati air sebagai sumber kehidupan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga warisan budaya yang sudah ada sejak Jawa Kuno,” katanya Rabu (4/3/2026).

Gerakan tersebut diawali dengan tradisi slametan sumber, sebuah ritus simbolik yang sarat nilai spiritual dan edukatif. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa sumber air bukan sekadar aset alam, melainkan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Batu.

Selain itu, edukasi dilakukan lewat pagelaran wayang jemblungan yang mengangkat kisah-kisah lokal tentang asal-usul sumber air dan toponimi desa. Berbeda dengan wayang purwa yang menampilkan Mahabharata atau Ramayana, wayang jemblungan menyuarakan cerita rakyat dan nilai kehidupan masyarakat setempat.

“Wayang jemblungan biasanya dipentaskan di tempat sakral seperti pundhen atau petren. Di sana ada makna historis dan spiritual yang kuat,” jelas Syahrul.

Pertunjukan tersebut digelar bersama Perkumpulan Bawarasa Pametri Budaya dan akan dilanjutkan dengan diskusi partisipatif untuk merekam memori kolektif warga. Menurut Syahrul, pendekatan kebudayaan diyakini lebih efektif membangun kesadaran sosial dibanding sekadar kampanye formal.

“Melalui seni dan tradisi, pesan pelestarian lebih mudah diterima. Ini menjadi sarana hiburan sekaligus instrumen pemberdayaan budaya dan lingkungan,” katanya.

Tak hanya itu. Pihaknya juga melakukan pendataan toponimi sumber air di berbagai desa. Pendekatan ini menggabungkan riset ilmiah dengan pelestarian identitas lokal, termasuk pencatatan vegetasi asli dan narasi sejarah masyarakat.

Syahrul mencontohkan Sumber Dhampul di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, yang diyakini berasal dari pohon dhampul (Ficus lepicarpa). Namun kini, pohon tersebut sudah tidak lagi ditemukan di kawasan itu.

Baca Juga : Jelang Idul Fitri, Jasamarga Kebut Perbaikan Tol Surabaya-Mojokerto

“Pendataan ini penting untuk menggali kembali identitas ekologis yang mulai terlupakan,” ungkapnya.

Langkah ini menjadi semakin mendesak mengingat jumlah sumber mata air di Kota Batu terus menyusut. Dari semula tercatat 111 titik, kini hanya tersisa sekitar 57 titik. Sebagian mengalami penurunan debit, bahkan ada yang mati dan tercemar.

Padahal, sebagai daerah dataran tinggi yang berada di ketinggian 680 hingga 1.200 mdpl dan dikelilingi pegunungan, Batu sangat bergantung pada keberadaan sumber air, terutama bagi masyarakat yang mayoritas bekerja di sektor pertanian.

“Kalau sumber air tidak dijaga, dampaknya bukan hanya lingkungan, tapi juga ekonomi warga. Karena itu gerakan ini harus menjadi gerakan bersama,” tegas Syahrul.

Melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas, termasuk Komunitas Kaliku, Yayasan Nawadya Cita Nusantara berharap upaya pelestarian sumber air di Kota Batu dapat berkelanjutan dan kembali menguatkan harmoni antara alam, budaya, dan masyarakat.