Rektor Unisma: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Jalan Menuju Ketakwaan dan Kesalehan Sosial

03 - Mar - 2026, 03:33

Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D saat menyampaikan pandangan tentang Ramadan. (ist)

JATIMTIMES - Ramadan bukan hanya ritual tahunan yang sarat simbol keagamaan. Bagi Rektor Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D, bulan suci ini adalah momentum penyucian diri secara menyeluruh, baik secara personal maupun sosial, yang bermuara pada satu tujuan utama yaitu ketakwaan.

Prof Junaidi mengajak umat Islam mensyukuri perjumpaan kembali dengan Ramadan tahun ini. Ia mengingatkan bahwa kesempatan tersebut merupakan jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan sejak Ramadan tahun lalu hingga memasuki bulan Rajab dan Syaban.

Baca Juga : Wali Kota Blitar Launching SPPG Cik Ditiro, Perkuat Pemberdayaan Warga dan Standar Layanan Gizi Sekolah

“Allah telah mengijabah doa kita dan pada tahun ini kita kembali dipertemukan dengan Ramadan. Ini adalah nikmat besar yang patut kita syukuri,” ujarnya.

Mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Prof Junaidi menegaskan bahwa kewajiban puasa ditujukan kepada orang-orang beriman dengan tujuan yang sangat jelas, yakni membentuk pribadi yang bertakwa. Menurutnya, ayat tersebut setidaknya menegaskan dua hal penting, yaitu siapa yang diwajibkan berpuasa dan untuk apa puasa itu dijalankan.

“Subjeknya adalah orang-orang beriman. Dan tujuan akhirnya adalah agar kita menjadi golongan orang-orang yang bertakwa,” tegasnya.

Ia menjelaskan, puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa menuntut umat Islam menjaga diri dari berbagai perbuatan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala, seperti fitnah, ghibah, dan perkataan kotor.

“Puasa adalah perisai. Maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat kebodohan. Jika ada orang yang mengajak bertengkar, katakanlah saya sedang berpuasa,” kutipnya dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Dalam pandangannya, ibadah puasa memiliki dua dimensi penyucian diri. Pertama adalah dimensi personal yang mengarah pada kesalehan individu. Pada ranah ini, seseorang dilatih menahan diri dari kesombongan, memupuk kerendahan hati, serta membangun kepercayaan diri yang sehat.

Kedua adalah dimensi sosial yang melahirkan kesalehan sosial. Puasa, lanjutnya, harus melahirkan empati, kepedulian, dan welas asih terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan.

Baca Juga : Safari Ramadan 1447 H, Wali Kota Blitar Mas Ibin Perkuat Silaturahmi dan Salurkan Hibah Masjid

“Puasa yang kita laksanakan harus diperkuat dengan zakat dan diperbanyak dengan sedekah. Bersihkanlah hartamu dengan zakat dan obatilah sakitmu dengan sedekah,” ujarnya mengutip sabda Rasulullah.

Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat solidaritas sosial melalui penunaian zakat dan peningkatan sedekah. Dengan demikian, puasa tidak berhenti pada dimensi spiritual pribadi, tetapi juga berdampak nyata bagi kehidupan sosial masyarakat.

Di akhir tausiyahnya, Prof Junaidi berharap seluruh ibadah yang dijalankan selama Ramadan diterima Allah dan mengantarkan umat Islam menjadi insan bertakwa.

Selain menyampaikan pesan keagamaan, ia juga menegaskan komitmen Unisma sebagai ruang bertumbuh dan berinovasi. Berbagai program studi di kampus tersebut telah meraih akreditasi unggul dan internasional, didukung pembelajaran inklusif melalui laboratorium, perpustakaan, praktik lapangan, serta kolaborasi luas.

“Pilihan hari ini menentukan masa depan esok. Unisma siap mencetak lulusan berdaya saing global,” pungkasnya.