Sedo hingga Bongko, Ini Macam-Macam Sebutan Orang Meninggal di Tulungagung
Reporter
Anang Basso
Editor
Nurlayla Ratri
22 - Nov - 2020, 05:13
Bahasa Jawa khususnya di Tulungagung tergolong unik untuk dipelajari. Sama dengan bahasa Jawa secara umum, di Tulungagung bahasa keseharian juga punya tiga tingkatan bahasa berdasar siapa yang diajak berkomunikasi.
Bahasa jawa yang meliputi krama inggil, krama madya, dan ngoko juga berlaku dalam "bahasa Tulungagungan".
Baca Juga : Beban Berat Duda Bersama Anak, Bimbang Menyendiri atau Kawin lagi, Ini Kata Pakar
Krama inggil digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang tua dan dihormati. Krama madya lebih dikenal sebagai bahasa campuran antara krama inggil dan ngoko. Sedangkan ngoko biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya maupun yang lebih muda.
Yang manarik, di Tulungagung dalam penyebutan orang meninggal bahasa Jawa punya tingkatannya sendiri.
Misalnya meninggal dunia di Tulungagung sering disebut sedo, mati, matek dan bongko.
1. Sedo
Sedo ini sebenarnya merupakan singkatan dari siksane wis ba’do (siksa sudah selesai).
"Artinya, orang yang sudah meninggal itu sudah melalui masa penyiksaan (penderitaan) di dunia dan menuju nikmat kehidupan setelahnya," kata Basori, pria yang aktif mencari sejarah bahasa dan budaya lokal.
Istilah ini biasanya juga digunakan ketika ada tokoh desa, kiai, atau orang yang dihormati.
"Di dunia ini hanya mampir ngombe (minum), sesaat dan tidak lama," ujarnya.
Setelah sedo, seseorang akan menuju tempat yang lebih baik bernama akhirat yang hanya berisi surga dan neraka. Bagi kyai dan orang-orang yang dihormati, surga dipandang sebagai tujuannya setelah meninggal.
2. Mati
Kata “mati” menurut Basori berarti “nikmate wes ganti” (nikmatnya telah berganti).
Baca Juga : Butuh "Tukang Obat", Lonte di Tulungagung Serang Pohon Kelapa Bertahun-tahun
"Di yakini orang mati ini akan mendapat kenikmatan bentuk lain ketika sudah meninggal dunia," jelasnya.
3. Matek
Arti matek di Tulungagung artinya nikmate wis entek. Istilah ini mengacu pada orang dewasa yang meninggal dunia dan biasanya tidak berlaku bagi anak kecil.
"Kasar ya, kata matek ini. Tapi sebenarnya istilah ini adalah bahasa dari luar Tulungagung yang sudah menjadi terbiasa di lidah masyarakat," paparnya.
4. Bongko
Artinya Bongko adalah pantas "diobong ning neroko" (dibakar neraka).
"Dalam hidupnya biasanya orang disebut bongko karena ia jahat dan senang berbuat dosa," ungkapnya.
Di luar itu lanjut Basori, ada istilah Modar, Pejah, wes dut (sudah tak bernyawa) dan istilah lain yang sering digunakan dalam keseharian.
