Ingin Membuat Sapi Sehat dan Cantik? Anda Bisa Mencoba Salon Ini
Reporter
Joko Pramono
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
31 - Jul - 2019, 11:46
Menjadi cantik dan menarik tak hanya dilakukan oleh manusia, binatang ternak pun juga ingin tampil cantik dan menarik. Seperti halnya perawatan kuku yang lazim disebut manicure dan pedicure. Ternak seperti sapipun wajib menjalani perawatan kuku, agar tampil cantik dan lebih sehat.
Seperti yang dilakukan oleh Nurohman (53) bersama dua anaknya dan menantunya, di Pasar Hewan Tulungagung.
Dengan alat gergaji, arit, pahat dan kikir, Pak Nur, panggilan warga Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol ini, memoles sapi milik para pedagang agar tampil lebih menarik.
Awalnya, kuku sapi yang panjang dan tidak beraturan dirapikan dengan pahat dan palu. Bukan tanpa resiko, pekerjaan yang membutuhkan kehati-hatian ini beresiko tertendang sapi. Untuk merapikan kuku sapi harus memahami karakter si binatang ternak.
"Harus punya tekat kuat dan tidak takut. Karena kalau kita ragu dan takut, sapinya jadi galak," ujar Pak Nur.
Kuku sapi yang panjang membuat sapi sulit berjalan dan pincang. Usai dipotong dengan pahat, kuku dihaluskan dengan kikir.
Untuk tariff merapikan kuku sapi,satu paket pahat depan dan belakang, Pak Nur mematok tarif Rp 20.000.
Langkah selanjutnya merapikan tanduk. Tanduk yang panjang dipotong dengan gergaji. Setelah itu tanduk dibentuk dengan pahat, hingga ketemu bentuk yang ideal. Untuk sentuhan akhir, tanduk dihaluskan dengan kikir hingga mengkilap.
Langkah terakhir terbilang menjijikan. Untuk memperlihatkan warna alami, tanduk yang telah dirapikan dibalur dengan kotoran sapi. "Satu paket, perawatan kuku dan tanduk tarifnya Rp 40.000," ungkap Pak Nur.
Usai mendapat perawatan sapi jadi kelihatan lebih cantik, karena penampilannya terlihat lebih proporsional.
Keahlianya mendandani sapi ia peroleh dari kakaknya di Pasar Hewan Blitar. Setelah lihai, ia menjalankan usaha ini sendiri dan pindah ke Tulungagung. Karena keahliannya ini, Pak Nur lebih banyak disebut sebagai salon sapi.
Pak Nur telah menekuni pekerjaannya ini lebih dari 30 tahun, sejak masih bujangan. Dua anak dan menantunya mulai bergabung sejak tujuh tahun lalu.
Pak Nur bekerja setiap hari pasaran sapi, mulai dari Pasar Hewan Beji, Pasar Hewan Ngunut, Pasar Hewan Ngadiluwih dan di Pasar Hewan Blitar. Dalam lima hari pasaran Jawa, Pak Nur hanya istirahat satu hari.
"Satu hari itu biasanya di rumah, tapi ada panggilan ke pelanggan," sambungnya.
Setiap hari pasaran sapi, rata-rata Pak Nur merias 10 ekor sapi. Demikian juga dua anak dan dua menantunya. Jika dirata-rata, setiap hari pasaran Pak Nur bisa mengantongi Rp 400.000. Jika lima hari pasaran Pak Nur bekerja empat hari di antaranya, maka pendapatannya Rp 1.200.000 per lima hari.
