Lima Bioskop Legendaris di Tulungagung Ini Tinggal Sejarah
Reporter
Anang Basso
Editor
Yunan Helmy
03 - Aug - 2018, 06:33
Berjaya di era 1980 hingga 1990, bioskop di Tulungagung mulai memasuki masa redup di tahun 2000-an. Satu per satu, pertunjukan film layar lebar mulai ditinggalkan peminat film.
Puncaknya, satu per satu gedung bioskop yang biasa menyajikan hiburan tiap malam bagi warga peminat film di Kota Marmer sepi pengunjung dan ditutup.
Penyiar radio senior di Tulungagung Kasianto atau Dony Iswara mengungkapkan, sepinya peminat film di bioskop itu dimulai dengan hadirnya film-film di layar televisi. Bahkan di era tahun 2000, alat teknologi berupa handphone, televisi, serta komputer mulai masuk dan dipegang masyarakat sehingga bioskop sudah tidak lagi menjadi tempat berkumpul bagi peminat film di masanya.
"Dulu ada lima bioskop yang eksis. Kelima bioskop itu adalah Moro Seneng yang kemudian menjadi Tulungagung Theater (TT), kemudian Handoko, Wijaya, Istana, dan Merpati," kata Dony.
Dari sejarahnya, Moro Seneng berdiri pada tahun 1960-an. Namun akhirnya berganti nama menjadi Tulungagung Theater. "Saya masih ingat, Ikang Fauzi, Rano Karno dan banyak bintang film lain datang ke Tulungagung untuk pembukaan bioskop yang terkenal saat itu," ungkapnya.
Tulungagung Teater merupakan bangunan yang dimiliki oleh seorang tuan tanah saat itu bernama Tegok. Selain mempunyai tanah di TT, Tegok juga dulunya yang mempunyai Bioskop Wijaya yang sekarang dikenal dengan Golden seiring dengan perubahan hak milik tanah.
Bioskop Golden berjajar dengan Bioskop Merpati yang ternyata dua bioskop ini bertipe sedang. "Wijaya dan Merpati ini untuk kelas menengah, tapi ini banyak diminati karena tiket terjangkau," imbuhnya.
Untuk kelas lebih atas, Doni mengatakan dua bioskop, yakni Tulungagung Theater dan Istana atau yang sekarang telah menjadi tempat hiburan dan gedung mewah. "Jika TT dan Istana ini dulu termasuk kelas elit. Sabtu dan Minggu, saya ingat ada ekstra show," ucapnya.
Sedangkan satu lagi bioskop yang terkenal murah dan juga menjadi sejarah perfilman di Tulungagung, yakni Handoko. "Tempatnya itu di depan Nirwana Plaza sekarang, utara jalan agak ke barat. Banyak orang masih ingat. Tapi generasi saat ini banyak yang tidak tahu," beber Doni yang hingga kini masih menjadi penyiar radio itu.
Pada perkembangannya, di beberapa kecamatan juga ada bioskop. Di antaranya di Kecamatan Ngunut dan Bandung.
Untuk wilayah lain, hiburan yang tidak kalah serunya adalah pemutaran film misbar (gerimis bubar) yang juga disewakan dengan tiket dan berpindah-pindah tempat sesuai dengan minat penonton saat itu. (*)
