Kupatan Masal, Tradisi "Ngaku Lepat" Makin Hits di Tulungagung
Reporter
Anang Basso
Editor
Yunan Helmy
22 - Jun - 2018, 03:30
Memasuki hari ke-7 setelah Hari Raya Idul fitri, warga Desa Bendilwungu, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Jumat (22/6), dimanjakan dengan acara kupatan masal. Acara tradisi makan ketupat secara gratis ini kini semakin meluas diselenggarakan warga dalam rangka menutup Lebaran.
"Semoga kelak beberapa musala dan masjid di Bendilwungu ini bisa melaksanakan kupatan masal bersama. Tidak berdiri sendiri," kata Masyhuri, takmir Musala Darul Muttaqin.
Ratusan orang tampak membaca tahlil di tengah jalan sebelum menikmati ketupat khas dengan menu lodeh dan kerupuk. "Kupatan ini adalah tradisi baik. Sebelumnya kita melaksanakan puasa Ramadan selama satu bulan, kemudian Lebaran dan saling memaafkan. Kupatan ini adalah bentuk syukur serta ngaku lepat (menyadari kesalahan) dan setelah itu membuka lembaran baru untuk tahun depan," kata Haji Nuril, tokoh agama setempat.
Tidak hanya di daerah Bendilwungu yang biasa menyelenggarakan kupatan tiap tahun. Sekarang acara kupatan masal di Tulungagung juga dilakukan di daerah yang sebelumnya tidak melakukan acara itu. Mereka kini ikut menghidupkan tradisi yang baik itu.
“Sekarang di sini ada dua acara kupatan masal. Ada yang pagi ada dan yang malam juga ada,” ujar Nuril (45) menambahkan.
Selain di Bendilwungu, acara kupatan masal setiap tahun juga dilakukan di Kecamatan Boyolangu, Kecamatan Ngantru, dan desa lain di Sumbergempol.
Acara kupatan masal selalu meriah. Tidak hanya warga sekitar yang dapat makan ketupat secara cuma-cuma. Warga yang sengaja datang ke acara itu juga dapat menikmatinya secara gratis.
Sejatinya, kupatan masal ini merupakan tradisi turun-temurun di wilayah Durenan, Trenggalek, dan sekitarnya. Namun karena dianggap positif, kupatan masal banyak diadopsi di daerah lain dengan tetap mempertahankan niat utama, yakni ungkapan rasa syukur.
Banyak warga datang berebut untuk mendapatkan ketupat yang telah disediakan dalam pincuk daun pisang dan piring “Senang saja makan gratis. Ini sangat menyenangkan karena makan bersama warga, saudara dan teman-teman,” kata Bibit (40), salah seorang karyawan koperasi, saat ikut antre untuk mendapat ketupat gratis.
Selain acara inti menggelar makanan ketupat secara gratis, dalam acara tersebut juga disajikan berbagai hiburan seperti pagelaran live music dan disisipkan sosialisasi yang bermanfaat bagi kerukunan warga. (*)
