Pengrajin Layangan Di Tulungagung Raup Untung

09 - Jul - 2017, 02:09

Zainul Arifin perajin layang-layang asal Wajak Lor Boyolangu bersama anaknya di kios / Foto : Tulungagung TIMES

Kawasan Ngrowo Water Front atau Pinka (Pinggir Kali) telah menjadi magnet wisata baru di kota ini. Meski pembangunannya belum sempurna, taman yang melajur di pinggiran kali Ngrowo tersebut selalu ramai, terutama saat weekend. Ditaman itu pula, banyak anak kerap menerbangkan layang-layang dan melakukan pertarungan sambitan.

Dari kejauhan, tampak layang-layang itu berlenggak-lenggok saat diterpa angin. Anak-anak hingga remaja bahkan dewasa memang sengaja membuat atraksi layangan kodokan untuk saling memutus benang lawan saat di udara. 

"Senang, meski hanya modal 500 perak untuk layangan dan 2000 rupiah untuk benang, disini selalu ramai dan seru," ungkap Afandi (11) warga kelurahan Kauman. 

Afandi mengaku tak kenal semua lawan tanding, namun menang dan kalah tak pernah ada pertengkaran. 

Siapa pembuat layang - layang di Tulungagung? Salah satu pengrajinnya adalah Zainul Arifin (37) warga dusun Karanggayam Nomer 17 RT 2 RW 01 Wajak Lor Boyolangu Tulungagung. 

Bapak empat anak ini mengaku sudah beberapa tahun menjadi perajin layang-layang. Pekerjaan pasti Zainul yang mengaku pernah mengalami gangguan jiwa (depresi) ini adalah pengrajin gula merah. Ide membuat layang - layang ini karena saat musim layangan, pekerjaan membuat gula telah selesai dan menunggu musim berikutnya. 

"Saya bisa membuat layangan jenis kodokan yang sering di adu itu sehari sekitar 40-50 biji dan saya jual 500 rupiah perbiji dan jika di kulak (dijual kembali) harga dari saya perbiji," katanya di rumah sekaligus tempat berjualan. 

Zainul mengaku musim layangan seperti saat ini berkah bagi dirinya karena pembelinya datang dari semua wilayah di Tulungagung, bahkan ada yang dari Trenggalek dan Kediri. 
"Kadang tidak ada barang atau habis, soalnya Laris jika musim layangan. Pas musim hujan sepi tak ada pembeli," imbuhnya. 

Yang sedikit beda dari kebanyakan layangan di tempat lain, tiap layangan di tempat Zainul di tempel foto dirinya dan kadang foto ibunya. 

"Ibu saya pergi dari rumah tanpa pamit, dengan saya tempel fotonya siapa tahu ada yang tahu keberadaan ibu saya," ungkapnya memelas.

Selain layangan kodokan untuk kompetisi sambitan di tempat Zainul tampak beberapa jenis layangan yang khas di Tulungagung. Layangan jenis Gapangan, Sriti, Iwak, Pesawat dan Ikan Berta tampak di tumpuk dengan jumlah ratusan. Harga yang di patok juga variasi mulai 400 rupiah hingga 15 ribu untuk layangan gapangan. 

"Agak mahal karena gapangan sehari hanya bisa membuat 5 biji, harga gapangan 15.000 Rupiah," pungkasnya.